Catatan Hadi Nur » Blog Archive » Refleksi dari pengalaman riset di Jepang

Refleksi dari pengalaman riset di Jepang

(Tulisan ini merupakan sebahagian dari artikel yang telah dipublikasikan di Forum Pendidikan, 28 (2003) 363-371, Universitas Negeri Padang). 

Catatan ini merupakan hasil pengamatan dan pengalaman saya menjadi peneliti selama 3.5 tahun setelah saya menyelesaikan doktor tahun 1998, yang 2,5 tahun dilakukan di Jepang (2 tahun sebagai JSPS postdoctoral fellow dan setengah tahun sebagai COE Visiting Researcher di Catalysis Research Center, Hokkaido University). Tulisan-tulisan saya sebelum ini di ‘Forum Diskusi PPI Hokkaido’ hanyalah bermaksud menggugah kawan-kawan untuk lebih menyadari SWOT (strenghts, weakness, oppurtunities, and threats) dari dunia riset (di Indonesia). Tulisan ini mencoba memberikan sedikit ‘wawasan’ terhadap ‘masalah-masalah’ pendidikan dan riset di Indonesia berdasarkan pengalaman melakukan riset di Jepang. Tulisan ini juga mencoba menjawab pertanyaan; Mengapa Universitas di Indonesia tidak menjadi yang terbaik? Visi kearah ini sebenarnya sudah nampak di Indonesia, yaitu dengan usaha menjadikan beberapa Universitas besar di Indonesia menjadi ‘Universitas riset’. Hal ini beralasan karena Universitas akan menjadi tempat ‘aktivitas intelektual’dan menjadi ‘harta nasional’. Keuntungan sosial dari ini sangat besar, seperti yang diperlihatkan di Amerika, dan dikenal dengan ‘the silicon Valley syndrome‘.

Riset di Jepang

(Di bawah ini saya menceritakan pengalaman dan pengamatan saya mengenai riset di Jepang. Karena mungkin, tulisan ini agak panjang, maka untuk memudahkan, saya menulis merah untuk kalimat kunci.)  

Pengamatan saya di sini memperlihatkan bahwa Profesor dan mahasiswa Pasca sarjana (master dan doktor) di Jepang adalah pekerja keras. Ini diperlihatkan dari jam kerja yang kadang-kadang mencapai 12 jam per hari ! Hal ini juga diperlihatkan oleh staf-staf muda (associate Prof. dan research associate/instructor) yang bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang bersuasana riset, dan mereka tidak dibebani dengan banyak mengajar di depan kelas dan tugas-tugas administrasi. Coba bandingkan dengan Indonesia; Doktor yang baru selesai dari luar negeri langsung dibebani tugas administrasi; seperti Ketua jurusan atau Dekan, bukannya dibebani dengan tuntutan untuk membuat riset. Promosi untuk menjadi Profesor hanya berdasarkan kriteria akademik. Hanya Assoc. Prof. yang berkaliber saja yang diangkat untuk menjadi Profesor. Hal ini terlihat dari track record riset dari Prof. tersebut. Berbeda dengan Indonesia, banyak Prof. di Indonesia yang menjadi Prof. hanya karena mempunyai pengalaman mengajar yang lama dan kedudukan administratif yang tinggi, bukan karena pengalaman melakukan riset. Hal ini terlihat dari publikasi ilmiah para Prof. kita. Malah ada yang sama sekali tidak pernah melakukan riset. Jikapun pernah mempunyai publikasi ilmiah, itupun dulu, ketika dia menjadi mahasiswa doktor di luar negeri.  

Pelajaran berharga lain yang saya peroleh dari melakukan riset di Jepang adalah; ‘tidak semua orang’ dapat menjadi peneliti yang hebat. Banyaknya publikasi dari conference, symposium dan seminar tidaklah memperlihatkan kecanggihan seseorang dalam melakukan riset. Hanya publikasi dari first class journal yang dapat memperlihatkan peneliti mempunyai riset yang hebat. Peneliti yang hebat harus menerima bahwa ide-ide baru akan berakhir dengan keusangan. Dia harus belajar untuk menerima kegagalan, dan mencoba terus-menerus tanpa henti-hentinya. Semua ini memerlukan waktu yang panjang dan konsentrasi, karena riset memerlukan ‘pemikiran yang dalam’ dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek.

Bagaimana mendidik seseorang untuk berinovasi dan menemukan merupakan hal berharga yang saya perolehi dari Prof. saya di sini. Sehingga saya dapat merasakan pengalaman (’sensasi’) dari suatu penemuan tersebut. Selama melakukan riset di sini, kami telah mengusulkan konsep baru dalam bidang katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase-boundary catalysis‘ dan telah dipublikasikan di jurnal yang prestius (Chemical Communications, Journal of Catalysis dan Langmuir). Faktor lain juga sangat menentukan keberhasilan riset saya di Jepang adalah; saya memulai riset ketika laboratorium hanya memiliki empat orang peneliti (Prof., assistant Prof, seorang postdoc dan seorang mahasiswa master), sehingga saat itu kami terpaksa berpikir untuk memulai riset baru. Hal berharga yang dapat diambil dari pengalaman ini adalah; ‘tim riset yang kompak merupakan inkubator untuk memperbanyak ide‘ karena dalam riset yang dilakukan secara tim akan terjadi pertukaran ide, kritik dan kompetisi. Dan ini berarti, riset yang hebat biasanya dihasilkan oleh tim riset yang hebat, bukan dari perorangan.

Budaya ilmiah yang kental sangat terasa di Hokkaido University. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan dari Universitas (University policies). Hal ini ditandai dengan banyaknya seminar antar disiplin ilmu dengan peserta yang banyak. Salah satu hal yang juga sangat mendukung suasana ini adalah tidak adanya politik yang masuk ke administrasi universitas. Hal terakhir ini mulai diterapkan di Indonesia oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pemilihan rektornya tanpa intervensi dari pemerintah. Karena riset di Universitas sangat bergantung kepada program pasca sarjananya, maka kesejahteraan para mahasiswa di Jepang sangat diperhatikan sehingga mahasiswa pasca sarjana menerima gaji yang cukup. Karena inilah ujung tombak dari riset di Universitas. Di Indonesia bukan hanya mahasiswa pasca sarjana, Prof.-pun susah untuk hidup dengan layak jika hanya mengharapkan gaji dari pemerintah.

Refleksi

Saya pernah membaca di sebuah web site, sebuah wawancara dengan peneliti dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang memperoleh gelar doktor dari Tokyo Institute of Technology’ yang mengatakan: ‘tidak satupun yang patut ditiru dari orang Jepang, kecuali iptek-nya’. Komentar saya terhadap pernyataan ini adalah: ‘Sudah demikian hebatnya kah kita?’ Dari pengalaman dan pengamatan saya terhadap riset di Jepang di atas, saya cuma bertanya: What can Indonesia learn from these success story? Walaupun tulisan ini mungkin tidak penting bagi sebahagian kawan-kawan, karena juga pernah mengalami pengalaman dan pengamatan yang sama, bagi saya, ini merupakan ‘bahagian’ terpenting dari perjalanan karir (hidup) saya. Pengalaman 2.5 tahun melakukan riset di Jepang telah membuka wawasan saya, dan mempengaruhi cara berpikir saya dalam memandang dunia pendidikan dan riset. Saya mendapat nasehat dari seorang Prof. dari Italia (Prof. Leonardo Palmisano) yang kebetulan menjadi visiting professor selama tiga bulan di laborotorium tempat saya bekerja. Dia mengatakan kepada saya; “Jangan berhenti melakukan riset, jika berhenti, karirmu sebagai ilmuwan berakhir”. Ada satu lagi nasehat yang disampaikannya kepada saya yang cukup berat untuk saya untuk menjalaninya, yaitu pulanglah ke Indonesia dan kabari saya jika kamu sudah menjadi Profesor di Universitas Jakarta (?) (mungkin maksudnya Universitas Indonesia).
 

2 Responses to “Refleksi dari pengalaman riset di Jepang”

  1. marmotji says:

    yayayaya… memang digaji kan untuk bekerja secara administratif, bukan secara akademik. Karena persepsi bekerja adalah melakukan sesuatu yang berbau ‘clerk’
    Kegiatan akademik pun masih sangat kalut dengan persepsi ‘dosen’ yg fungsinya sama dengan ‘guru’.
    Kapan ya bisa meloncat, jika aturan2nya masih seperti pamer kepongahan seperti selama ini kita tonton sehari-hari.
    Selamat Berkarya pak !

  2. [...] Anda dipersilahkan membaca tulisan saya yang berkaitan dengan hal ini, yang berjudul “Refleksi dari pengalaman riset di Jepang” yang merupakan pengalaman saya melakukan penelitian di salah satu Universitas ternama di Jepang [...]

Leave a Reply