Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia

[Tulisan ini telah dipublikasikan di koran Waspada pada bulan Mei 2004].

Melihat perkembangan Indonesia saat ini, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, sosial dan politik sangatlah memprihatinkan. Kekurangan dan ketinggalan negara kita dibandingkan dengan negara lain dari hampir disemua aspek yang disebutkan di atas dapat dirasakan, terutama oleh intelektual Indonesia yang tinggal di luar negeri, yang relatif dapat melihat dengan lebih jelas karena berada di “luar orbit”. Indikator-indikator yang terukur, seperti ekonomi, telah menunjukkan hal ini, sedangkan indikator-indikator yang susah diukur dapat kita bandingkan selama kita berada di Indonesia dan di luar negeri. Banyak pendapat yang menyoroti penyebab hal ini. Salah satunya adalah rendahnya mutu pendidikan. Sebagai orang yang telah menggeluti dunia penelitian dalam bidang sains, saya dapat merasakan bahwa dalam ilmu pengetahuan terdapat aspek-aspek etika yang kalau diterapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif. Saya berpikir bahwa dengan mengetahui aspek etika dalam sains, dan mengajarkannya kepada mahasiswa dapat membantu membentuk kepribadian yang baik. Apa yang saya rasakan selama menempuh pendidikan di Indonesia adalah bahwa aspek ‘pendidikan’ (etika) kurang diperhatikan. Dosen-dosen lebih cenderung hanya memberikan knowledge saja kepada para mahasiswanya, yang dapat kita sebut sebagai ‘pengajaran’. Aspek ‘pendidikan’ yang saya maksudkan adalah termasuk pembentukan sikap dan kepribadian. Hal ini penting karena saya berpendapat bahwa institusi pendidikan tinggi adalah benteng terakhir yang seharusnya bertahan dalam menghadapi krisis moral di Indonesia.

Etika sains, riset dan pendidikan

Sains, ilmuwan, riset dan pendidikan merupakan hal yang sangat berkaitan erat. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa riset dan mengajar merupakan hal yang bersifat perkalian bukan pertambahan, salah satu sifat utama yang melekat kepada seseorang yang digelari ilmuwan Ini berarti bahwa seseorang akan nol sebagai ilmuwan jika tidak melakukan riset. Dan juga berarti akan nol sebagai ilmuwan jika tidak mengajar.

Berdasarkan hal ini, tulisan ini mencoba memberikan gambaran pentingnya etika sains dan manfaatnya dalam pendidikan.

Sebelum kita masuk ke dalam permasalahan: apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, betanggung jawab dan sportif? Ada baiknya kita mengetahui apa itu sains dan etika. Cara pandang terhadap sains bisa bermacam-macam tergantung bagaimana kita mendefinisikan sains tersebut. Tapi ada baiknya, sesuai dengan tujuan tulisan ini, definisi dari sains diambil dari Oxford English Dictionary: “A branch of study which is concerned with a connected body of demonstrated truths, orwith observed facts systematically classified and more or less colligated by being brought under general laws, and which includes trustworthy methods for the discovery of new truth within its own domain”. Apa itu etika? Webster’s New Collegiate Dictionary mendefinikannya sebagai berikut: “1 …the discipline dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation 2 a: a set of moral principles and values b: a theory or system of moralvalues c: the principles of conduct governing an individual or a group.”

Dari definisi-definisi di atas kelihatan dengan jelas bahwa sains adalah alat untuk mencari kebenaran. Dan dapat disadari untuk mencari kebenaran kita perlu strategi yang beretika. Strategi disini adalah metode ilmiah. Bagaimanapun banyak terjadi pelanggaran etika dalam penelitian saintifik, yang disebut sebagai penipuan saintifik (scientific fraud).

Penipuan saintifik

Penipuan saintifik (scientific fraud) didefinisikan sebagai usaha untuk memanipulasi fakta-fakta atau menerbitkan hasil kerja orang lain secara sengaja,. Bagaimanapun, definisi penipuan saintifik tidak selalu jelas. Salah satu aspek dari penipuan saintifik adalah memanipulasi dan mengubah data. Pada tahun 1830, matematikawan dari Inggris bernama Charles Babbage menerangkan teknik manipulasi data. Di dalamnya termasuk trimming (menghapus data yang tidak cocok dengan hasil yang diharapkan) dan cooking (memilih data yang hanya cocok dengan hasil yang diharapkan sehingga membuat data lebih meyakinkan). Sains yang ideal adalah bahwa para ilmuwan seharusnya objektif dan melaporkan semua hasil pengamatan secara lengkap dan jujur. Bagaimanapun, ini tidak selalu ditemui dalam laporan-laporan ilmiah.

Sebagai ilustrasi, tiga kasus di bawah ini dapat memberikan gambaran bagaimana etika sains dijunjung tinggi dalam dunia ilmiah:

Kasus pertama

Faktor yang merumitkan pendeteksian penipuan saintifik adalah karena begitu banyaknya publikasi-publikasi yang diterbitkan setiap tahun di dunia. Lebih daripada 40,000 jurnal dan ratusan ribu artikel ilmiah setiap tahun telah diterbitkan Sangatlah susah untuk meneliti apakah sebuah artikel mengandung penipuan atau tidak, walaupun paper tersebut telah dipublikasikan melalui penjurian (reviewing process). Salah satu kasus yang terkuak kepermukaan adalah kasus Elias A. K. Alsabti pada akhir 1970 dan awal 1980. Alsabti adalah seorang warganegara Irak, memperoleh sarjana kedokteran di Irak dan datang ke Amerika Serikat pada 1977 untuk bekerja dalam bidang immunologi di Temple University di Philadelphia, dan dilanjutkan di beberapa buah institut. Alsabti didapati terlibat dalam penipuan saintifik. Dalam sebuah kasus penipuan, rekan kerjanya menemukan bahwa dia telah mengubah data dalam sebuah publikasi ilmiah. Dalam beberapa contoh yang lain, Alsabti melakukan perbuatan plagiat, mengambil data dari jurnal, dan mempublikasikannya lagi dalam jurnal yang lain

Dalam beberapa kasus yang lain, plagiat yang dilakukan oleh Alsabti dengan mudah dapat ditemukan karena kecerobohan dia dalam menghilangkan tanda-tanda bahwa data tersebut telah diambil dari artikel orang lain.  Sebelum kasus ini ditemukan Alsabti tealah memperoleh posisi di enam buah institut yang berbeda dan mendapatkan izin untuk membuka praktek kedokteran di dua negara bagian di Amerika Serikat. Kasus ini telah dipublikasikan di Nature, the British Medical Journal dan disebuah buku yang berjudul Stealing Into Print oleh Marcel C. Lafollette. Kasus ini ditutup setelah Alsabti ditemukan tewas kecelakaan mobil pada tahun 1991.

Kasus kedua

Kasus serius lain ditemukan pada tahun 1980an, dimana seorang kardiolog muda bernama John Darsee, yang bekerja di salah satu lembaga riset bergengsi di dunia yaitu Harvard Medical School di Boston, Massachusetts. Dia dikenal sebagai ilmuwan yang berbakat karena telah mempublikasikan hampir 100 artikel dan abstrak dalam masa dua tahun di Harvard.

Pada tahun 1981, rekan-rekan kerja Darsee mengetahui dan melaporkan kepada kepala laboratorium bahwa dia telah membuat data palsu dalam eksperimen. Mereka juga melaporkan bahwa Darsee juga telah memalsukan data di beberapa artikel yang telah dipublikasikan. Ketika diselidiki, Darsee mengaku telah melakukan hal tersebut. Penyelidikan berikutnya juga menemukan bahwa Darsee telah memalsukan data bukan saja di Harvard, tetapi di posisi sebelumnya di Emory University di Georgia dan bahkan ketika sebagai mahasiswa sarjana di Notre Dame University di Indiana. Darsee dikeluarkan dari Harvard dan ditutup kemungkinannya untuk menerima dana riset dari pemerintah. Artikelnya di jurnal yang memuat data palsu tersebut juga telah ditarik kembali.

Kasus ketiga

Kasus ketiga terjadi di Indonesia. Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2000 akhirnya membatalkan gelar doktor pada Ipong S. Azhar. Disertasi Ipong ini mulai menjadi masalah setelah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Radikalisme Petani Masa Orde Baru: Kasus Sengketa Tanah Jenggawah pada pertengahan 1999. Mochammad Nurhasim, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkejut setelah membaca bab demi bab buku itu, karena isinya sama dengan skripsinya. Ia lalu menulis surat ke Senat UGM, sekaligus mengirim salinan skripsinya. Ia juga membuat surat terbuka ke berbagai media massa. Intinya, ia menuduh Ipong melakukan plagiat dan mendesak supaya gelar doktor kolumnis itu dicabut. Dan, keputusan final telah dijatuhkan pada 25 Maret 2000 dalam Forum Rapat Senat UGM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ichlasul Amal, Rektor UGM, dan dihadiri 102 anggota senat. Gelar doktornya dibatalkan. Keputusan Senat UGM tentu didasarkan pada temuan Tim Peneliti kasus Ipong. Hampir semua data disertasi Ipong menggunakan data orang lain. Selain itu, data yang diserahkan saat ujian meraih gelar doktor tidak sama dengan disertasi yang dikumpulkan ke bagian arsip dan perpustakaan UGM. Disertasi yang diserahkan kepada penguji tidak menyebutkan sumbernya. Sementara, salinan disertasi yang diserahkan ke bagian arsip perpustakaan sudah mencantumkan sumber referensinya, yakni skripsi Mochammad Nurhasim.

Kesalahan lain yang berasal dari kecerobohan, kurang baiknya merancang eksperimen atau tidak tepat dalam menyalin catatan laboratorium bukan merupakan penipuan saintifik (scientific fraud) walaupun merupakan hal yang tidak dapat diterima dalam sains. Salah satu contoh kasus terbaru dalam hal ini telah dilaporkan di Chemical and Engineering News pada 6 Agustus 2001 dimana ilmuwan-ilmuwan di Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) telah menarik kembali artikel mereka yang dipublikasikan di Physical Review Letters. Di jurnal bergengsi ini, mereka mengklaim bahwa mereka telah menemukan unsur baru dengan nomor atom 118 dan 116 dari hasil reaksi inti antara 208Pb dengan ion 86Kr yang berenergi tinggi. Penarikan artikel ini didasarkan kepada hasil eksperimen yang tidak bisa diulang di laboratorium di Jerman dan Jepang. Penarikan ini sangat beralasan karena hasil riset ini akan memberikan impak yang tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa hukuman terhadap penipuan saintifik itu sangat jelas. Contoh kasus di UGM memberikan kesadaran kepada kita bahwa diperlukan suatu instrumen dan peraturan yang jelas untuk memperkecil kemungkinan penipuan saintifik. Berbeda dengan perguruan tinggi di negara maju, instrumen dan peraturannya mengenai penipuan saintifik di universitas di Indonesia ini tidak jelas dan belum diatur. Di samping itu, di negara maju, etika sains dimasukkan dalam kurikukum, untuk memberikan kesadaran dan melatih mahasiswa bahwa etika sains mutlak diperlukan di dalam riset. Sebagai gambaran umum, di dalam perkuliahan etika sains disamping diterangkan pentingnya etika sains juga diajarkan bagaimana menulis, melaporkan dan menganalisis data percobaan secara betul. Di Woodrow Wilson Biology Institute, mata kuliah ini diajarkan dalam kurikulum ilmu-ilmu biologi yang dianggap rawan terhadap penipuan. Hal ini juga disampaikan melalui tugas laboratorium. Sebagai gambaran bagaimana etika sains diajarkan, di bawah ini diberikan contoh kuliah etika sains di Woodrow Wilson Biology Institute, di mana sasaran dari kuliah tersebut adalah mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk membedakan antara kesalahan biasa dan penipuan saintifik. Menerangkan kepada mahasiswa konsekwensi dari penipuan saintifik. Memahami sifat atur-diri (self-regulating) dari riset. Di dalam perkuliahan itu diajarkan sejarah penipuan saintifik dan mahasiswa dilibatkan dalam diskusi mengenai implikasi dari penipuan saintifik. Juga diajarkan cara menganalisa rancangan eksperimen dan data untuk mendeteksi kesalahan dan penipuan saintifik. Dalam perkuliahan juga disimulasikan situasi dilema etika dimana terjadi konflik antara kejujuran dengan keuntungan pribadi. Praktikum diberikan dengan menekankan pentingnya kontrol dalam perancangan eksperimen. Sebagai contoh, dengan menempatkan mahasiswa dalam posisi melaporkan kesimpulan yang salah karena perancangan eksperimen yang salah.

Dari kasus dan penjelasan di atas, kita dapat mengatakan, jika etika sains secara betul diajarkan dan diterapkan, maka kita dapat menjawab pertanyaan: Apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif?

Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam penipuan saintifik, secara umum, ada tiga hal yang memotivasi orang untuk melakukan penipuan saintifik: Pertama adalah tekanan karir, dimana untuk melancarkan karir, seseorang terpaksa untuk melakukan penipuan. Tekanan ini dapat terlihat bagi para mahasiswa program doktor di Jepang yang rata-rata harus mempunyai publikasi di jurnal dalam bidangnya untuk memperoleh gelar doktor. Kedua, mengetahui atau berusaha menjawab pertanyaan dari riset tanpa susah payah melakukan eksperimen yang memakan waktu dan tenaga di laboratorium. Ketiga, bekerja pada bidang dimana hasil eksperimen tidak akan selalu sama jika diulang (reproducible). Hal ini dapat menjelaskan mengapa penipuan saintifik banyak terjadi pada bidang biologi dan biomedik, karena sulit mendapatkan data-data yang betul-betul bisa diulang, karena tergantung kepada banyak faktor yang susah dikontrol.

Antisipasi untuk Indonesia

Melihat kepada kemajuan zaman, mau tidak mau bangsa Indonesia harus menguasai ilmu dan teknologi. Hal ini tidak hanya dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kerangka etika (dalam arti yang luas), walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan banyak berpengaruh dengan banyaknya kasus-kasus penipuan saintifik. Hal ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai daya untuk memperbaiki dirinya sendiri (self correction). Hal ini sesuai dengan sifat ilmu pengetahuan yang berkembang berdasarkan pengetahuan yang telah ditemukan sebelumnya. Bagaimanapun, mentalitas yang jujur mutlak diperlukan sebagai landasan untuk mencapai kemajuan. Pengajaran etika sains kepada para mahasiswa sarjana, magister dan doktor diharapkan dapat menambah kesadaran para mahasiswa bahwa para calon sarjana, calon doktor dan calon professor harus menjunjung tinggi kejujuran. Setidaknya hal ini dapat menjadi sumbangan kecil untuk perbaikan masyarakat kita, yang sedang dihinggapi penyakit korupsi, plagiat, membeli gelar, menyontek dan lain sebagainya. Inilah tugas berat para ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang menyadari pentingnya etika sains dalam pendidikan sains dan riset di Indonesia.

7 Responses to “Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia”

  1. silvi says:

    Bukti-bukti Historis
    KEMAJUAN PERADABAN ISLAM
    Oleh Dr.-Ing. Fahmi Amhar

    Sebagai sebuah mabda’ (ideologi), orang sering mempertanyakan sejauh mana Islam terbukti berhasil diterapkan di dunia. Hal ini karena dewasa ini umat manusia sudah sedemikian lama dilupakan dari penerapan syariat Islam dalam kehidupan. Kalaupun ada sekelompok orang yang bercita-cita mengembalikan kehidupan Islam, dari kalangan yang skeptis akan muncul pertanyaan, “Islam model negara mana?” Apakah seperti Saudi, Pakistan, Malaysia, Iran, atau bahkan Taliban? Ataukah seperti negara Utsmani atau Abbasi pada masa lalu?
    Ketika berbicara masa lalu pun, tidak jarang muncul suara miring, seakan-akan masa lalu adalah masa kegelapan, yang tidak perlu kita rujuk kembali.
    Hal ini ditunjang dari buku-buku sejarah, termasuk yang ditulis oleh sejarahwan Muslim yang hidup dekat dengan masa kejadian, semacam Târîkh al-Umam wa al-Mulk (At-Thabari, w. 839 M), Murûj azd-Dzahab (Al-Mas’udi, w. 956 M) hingga Târîkh al-Khulafâ’ (Imam as-Suyuthi, w. 1505 M). Buku-buku ini umumnya didominasi oleh kisah-kisah politik, misalnya intrik-intrik di tingkat elit, perebutan kekuasaan, atau peperangan yang keji, yang mungkin sebagai Muslim, tidak semua kisah itu pantas kita contoh. Apalagi sejarah bukan dalil syariat.
    Memang, politik memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap peristiwa-peristiwa yang lain. Namun, kita perlu heran: Andaikata benar sejarah perpolitikan di era Khilafah Islam begitu kelam, bagaimana kita bisa menjelaskan capaian-capaian peradaban yang begitu mengagumkan?
    Dalam tulisan singkat ini, kita secara sepintas akan melihat bukti-bukti historis yang menunjukkan kemajuan peradaban Islam, justru pada era Kekhilafahan Islam. Bukti-bukti ini akan mengajak kita berpikir: jangan-jangan, para penulis sejarah-termasuk dari kalangan Muslim sendiri-mengalami bias dalam merekam peristiwa-peristiwa politik.
    Mereka bisa mengalami bias kepentingan, karena seorang penguasa politik umumnya ingin ditulis dalam sejarah sebagai lebih baik dari pendahulunya. Bias juga bisa muncul akibat kesulitan menyeleksi sumber data-yang dalam ilmu sejarah adalah periwayatan. Semakin jauh jarak waktu antara peristiwa dan sejarahwan, semakin luas daerah yang akan ditulis, dan semakin banyak orang yang terlibat, akan semakin sulit untuk dipilih mana riwayat yang akurat dan mana yang tidak. Jangankan menulis seluruh peristiwa di era Khilafah Islam yang begitu luas wilayahnya, pada zaman modern saja, dengan alat-alat komunikasi yang sangat canggih, berita tentang seorang selebriti saja bisa sangat bias.

    Kosmopolitan
    Buku-buku sejarah peradaban Islam yang paling obyektif pun, semacam buku, Allah Sonne ueber dem Abendland (Matahari Allah di atas Dunia Barat), karya sejarahwan dari Jerman, Dr. Sigrid Hunke, lebih sering menyebut ‘bangsa Arab’ pada rakyat Negara Khilafah. Meski Hunke melukiskan dengan sangat rinci, bahkan menyebutkan banyak nama tokoh-tokoh ilmuwan yang secara etnis non-Arab (seperti dari Persia, Turki, atau Berber), atau bahkan non-Muslim, dia mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi ‘rakyat Negara Khilafah’, sehingga menyebutnya ‘bangsa Arab’.
    Sesungguhnyalah, potensi bahasa Arab dan beberapa kebiasaan Arab (yang dimubahkan Rasul) sangat berperan dalam membawa umat Islam ke zaman keemasan budayanya. Bahasa Arab yang dijadikan bahasa al-Quran berkembang menjadi bahasa ijtihad, bahasa ilmiah, dan bahasa komunikasi internasional antaretnis dan antarpemeluk agama yang berbeda-beda di dalam Daulah Islamiyah.
    Karena itu, jika kemudian-termasuk dalam tulisan ini-ditulis secara bergantian: “rakyat Khilafah”, “bangsa Arab”, atau “ilmuwan Islam”, yang dimaksud adalah sama, yaitu warga Negara Daulah Khilafah Islamiyah; walaupun dari etnis non-Arab atau bahkan bestatus dzhimmi (warga non-Muslim). Mereka semua hidup dan diatur di bawah suatu sistem Islam, yang dibangun di atas landasan akidah Islam. Akibatnya, mereka semua bekerja demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim secara keseluruhan. Tentu saja, mayoritas dari mereka adalah Muslim, namun yang menarik manfaat sistem Islam tidak hanya Muslim. Islam didesain untuk menjadi rahmat seluruh alam.
    Hal seperti ini sebenarnya mirip dengan kalau kita mengatakan ‘bangsa Amerika’, meski kita tahu, di sana terdiri dari berbagai etnis; ada petinju Muhammad Ali yang Muslim dan negro, Albert Einstein yang keturunan Jerman dan Yahudi, Bruce Lee yang keturuan Cina, selain mayoritas keturunan Anglo-Saxon yang beragama Protestan. Mereka semua disatukan dan diatur oleh suatu sistem yang berdiri di atas suatu ideologi Amerika, yaitu ideologi Kapitalisme yang sekular dan liberal.
    Meski demikian, analogi di atas hanya untuk mempermudah pemahaman, karena realitasnya, semangat kosmopolitan di dalam Islam tidak bisa ditandingi dengan budaya atau ideologi manapun.

    Secuil Karya-karya Besar para Ilmuwan
    Kadang-kadang menjelang Peringatan Hari Besar Islam, semacam Isra Mikraj atau 1 Muharam, umat Islam menginginkan agar kemajuan peradaban Islam diungkap kembali. Menjelang Ramadhan, beberapa pihak juga gemar mengadakan seminar yang terkait dengan astronomi, namun hanya terbatas pada soal hisab dan rukyat hilal. Padahal astronomi Islam tidaklah sebatas jadwal shalat, arah kiblat, hisab, dan rukyat; namun lebih jauh lagi, menyangkut banyak aspek sains, teknologi, dan industri yang dibutuhkan dalam melayani urusan umat, serta dalam dakwah dan jihad fi sabilillah. Karena itu, sebagai ilustrasi tentang bagaimana kehidupan para ilmuwan di bawah naungan syariat pada masa itu, bisa kita ikuti kisah menarik berikut, yang dikutip dari buku, Allah Sonne ueber dem Abendland, karya Sigrid Hunke.
    Musa bin Syakir diketemukan tewas ketika sedang melakukan aktivitasnya sebagai penyamun. Dia meninggalkan tiga putra remaja. Berita kematiannya sampai kepada Khalifah al-Makmun saat ia sedang meninjau Asia kecil. Segera dia memberikan perintah kepada pejabat di Bagdad agar mengurus anak-anak Musa (Banu Musa), dan di setiap suratnya ia tidak pernah lupa menanyakan keadaan anak-anak asuhnya itu.
    Banu Musa diserahkan kepada Yahya bin Abi Mansur untuk dididik. Yahya adalah astronom Khalifah dan ketua Akademi Ilmu Pengetahuan (Baitul Hikmah) yang didirikan Khalifah al-Manshur. Saat itu, di sana al-Khawarizmi sedang menerjemahkan Siddhanta, memperbaiki tabel Ptolomeus, serta menulis bukunya yang monumental, buku tentang ilmu hitung dan persamaan-persamaan matematika: Aljabar.
    Di sinilah, langsung di mataair ilmu, di antara ribuan buku-buku, peralatan yang jarang ditemui, dan di antara percakapan dan debat antar ilmuwan segala bidang, tumbuh dewasalah tiga remaja berbakat itu. Tidak aneh jika di kemudian hari, tiga putra penyamun padang pasir Musa bin Syakir serta anak asuh Amirul Mukminin tumbuh menjadi mercusuar ilmu pengetahuan.
    Muhammad bin Musa, yang tertua, adalah yang paling berpengaruh di antara mereka. Dia menjadi seorang lelaki yang gagah, negarawan yang disegani, dan menjadi kepercayaan Khalifah.
    Khalifah al-Makmun telah memerintahkan untuk membuatkan para astronomnya sebuah observatorium di tempat tertinggi di Bagdad, di dekat pintu masuk Syammasiya, untuk mengamati gerakan planet secara sistematis. Dengan pengamatan yang eksak, yang pada saat bersamaan juga dilakukan di Jundisyapur, dan untuk kontrol tiga tahun kemudian diulang di gunung Kasiyum dekat Damaskus, para astronom bersama-sama menyusun apa yang disebut, “Tabel Makmun yang Telah Diverifikasi”, yang merupakan revisi total atas tabel astronomi Ptolomeus.
    Dengan tabel astronomi yang teliti, orang bisa menentukan posisi suatu tempat (lintang/bujur) dengan mengukur sudut tinggi bintang tertentu pada waktu tertentu. Bintang apa pada waktu kapan akan memiliki koordinat langit yang akan bisa dibaca atau dihitung dari tabel. Dengan posisi yang teliti ini, sebuah kapal bisa bernavigasi di lautan dengan akurat. Kalau dia kapal dagang, dia bisa memperhitungkan kapan dia bisa mengisi kapalnya dengan air, logistik, dan barang dagangan di pelabuhan terdekat. Kalau dia kapal perang, dia akan tahu di posisi mana dia harus mewaspadai patroli atau ranjau musuh.

    Sebuah Astrolabium dari Abad 12 M.
    Akhirnya, sampai juga saatnya Muhammad bin Musa untuk boleh ikut dalam kampanye pengukuran bumi. Dengan suatu regu astronom, berangkatlah ia ke dataran Sindsyar sebelah barat Mosul. Eratosthenes telah mendapatkan besar keliling bumi untuk pertama kali dengan mengukur sudut sinar matahari.
    Kini, para astronom Al-Makmun mencoba metode yang lain. Berangkat dari suatu titik, satu regu berjalan ke utara, satu regu lainnya ke selatan, hingga mereka melihat bintang ‘keledai muda’-sebuah bintang kutub-terbit di sini, dan terbenam di sana. Dari jarak antara kedua regu pengamat ini mereka bisa menghitung panjang satu meridian, dan ini dengan ketelitian yang sangat tinggi.
    Namun kemudian, mulailah Muhammad bin Musa dan saudaranya membuat nama dengan pengamatan dan hitungan yang mereka lakukan sendiri. Hasil penelitian mereka tidak hanya membayang-bayangi pekerjaan Ptolomeus, namun juga astronom Khalifah yang terkenal: Mawaruzi.
    “Saya temukan”, demikian kata Al-Biruni seratus lima puluh tahun kemudian, “bahwa di antara hasil penelitan-penelitan ini, orang terutama mengambil hasil dari Banu Musa, dan akhirnya mengikutinya, karena mereka telah menyerahkan segenap kekuatannya, untuk menemukan kebenaran; mereka menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengembangkan metode astronomi serta kecakapan aplikasinya, dan kemudian banyak ilmuwan lain yang menyaksikan, bersedia menjamin ketelitian pengamatan mereka.”
    Sementara itu, Banu Musa telah meninggalkan observatorium “si tua” Yahya bin Abi Manshur. Muhammad bin Musa kini adalah seorang lelaki mandiri yang perfeksionis. Soal uang, tiga bersaudara itu tidak perlu risau. Mereka kini memiliki observatorium sendiri, di dekat jembatan sungai Tigris di Bab at-Taq. Di sini Muhammad menekuni pengamatan dan perhitungannya dengan penuh dedikasi. Di sini pula ia mengarang karya-karya astronomi, tulisan pertama dalam bahasa Arab tentang hukum transversal yang sangat penting dalam astronomi, dan bersama saudaranya menulis tentang pengukuran pada permukaan datar dan sferis, yang oleh Gerhard von Cremona dialihkan ke bahasa Latin sebagai “Buku dari Tiga Bersaudara”-”Libertrium fratrum de geometrica”.
    Akan tetapi, Muhammad tidak cuma seorang astronom dan matematikawan yang produktif. Dia juga sibuk dengan filsafat, terutama logika, serta menulis karya tentang “sebab-sebab pertama dunia”. Dia juga tertarik pada meteorologi dan membuat pengamatan atmosfir. Dia pun bersemangat untuk membuat berbagai konstruksi mekanik, yang merupakan batu loncatan bagi adiknya, Ahmad, yang dalam tulisannya tentang “timbangan cepat” menambah pengenalan dunia antik.
    Ahmad adalah seorang insinyur yang piawai dan penemu jenius di keluarga. Sebuah sumber Arab mengatakan, “Pada Ahmad terdapat bakat membuat benda-benda yang baik saudaranya sendiri (Muhammad) maupun orang-orang lain sebelumnya (seperti Heron) tidak pernah sampai, yang sibuk secara mendasar dengan teknik peralatan otomatis yang penuh makna”. Bukunya yang sangat tebal tentang “Konstruksi Penuh Makna” bahkan membuat orang Arab yang berbakat teknik pun berdecak kagum.
    Inovasinya ‘menyulap’ komponen-komponen sederhana menjadi banyak sekali peralatan yang baru dan kompleks untuk keperluan praktis, baik untuk setiap ibu rumahtangga modern, atau setiap petani; dia juga membuat permainan teknis untuk hiburan, yang hingga hari ini akan tetap membuat setiap anak-anak gembira.
    v Ada sebuah bejana yang bisa mengeluarkan sejumlah tertentu cairan, yang di antara kedua keluaran ada waktu jeda; sebuah bejana untuk mengukur berat jenis suatu cairan; sebuah mekanisme untuk mengisi bejana secara otomatis, segera setelah ia kosong; botol, yang sesuai dengan kebutuhan bisa diisi dengan dua macam minuman, dan bisa dituangkan terpisah atau bercampur; lampu yang sumbunya bisa keluar sendiri, atau yang minyaknya bisa menetes sendiri sehingga tidak bisa dimatikan oleh angin; sebuah alarm, yang dipakai pada alat pengairan, yang akan memberikan tanda jika tinggi air tertentu telah tercapai; bermacam-macam air mancur, yang pancurannya selalu menimbulkan bentuk yang berlain-lainan.

    Ilustrasi Mesin Pengangkat Air dari Abad 13 M
    Tentu saja, Ahmad juga menunjukkan keahliannya dalam dunia astronomi. Dengan Muhammad ia membuat sebuah jam dari tembaga dengan ukuran raksasa. Muhammad menghitung variasi terbit dan terbenam dari beberapa bintang terpenting baik dalam sehari maupun setahun. Ahmad menuangkan hitungan yang sangat rumit dari kakaknya ini pada sebuah alat yang bekerja dengan sangat jenial, yang mengagumkan setiap orang. Dengan takjub, dokter Khalifah, Ibn Rabban at-Tabari berkomentar:

    Di depan observatorium di Samara aku melihat alat yang diciptakan Muhammad dan Ahmad bin Musa, keduanya astronom dan insinyur. Alat itu berbentuk sebuah bola dan di atasnya semua gambar-gambar bintang. Alat itu digerakkan oleh tenaga air. Jika di langit yang sesungguhnya suatu bintang tenggelam, maka pada saat yang sama hilang pulalah gambarnya di alat itu, yakni terbenam di bawah suatu garis lingkaran yang menggambarkan horizon. Jika di langit bintang itu terbit kembali, demikian pula di alat itu, gambarnya muncul kembali di atas garis horizon.

    “Saudara ketiga yaitu al-Hasan”, cerita sumber Arab, “adalah besar dalam geometri. Dia sangat berbakat dan tidak seorang pun mendekati kemampuannya walaupun sedikit. Ingatannya sangat kuat dan ia memiliki kemampuan abstraksi yang luar biasa sehingga mampu menjawab berbagai soal, yang tidak seorang pun sebelumnya bisa memecahkannya. Kadang-kadang ia begitu tenggelam dalam berpikir sehingga dalam suatu konferensi dia bisa tidak mendengar sedikit pun.”
    Sementara itu, jika ia sedang sibuk dengan suatu soal, terjadilah-seperti ceritanya sendiri-”Aku melihat dunia di depan mataku tiba-tiba menjadi gelap dan aku merasa seperti dalam mimpi.”
    Namun, tidak cuma dari risetnya Banu Musa menjadi terkenal, melainkan juga dari jasa-jasanya bagi ilmu pengetahuan. Mereka masih relatif muda ketika muncul sebagai sponsor dunia ilmu. Dengan biaya sendiri, mereka mengirim utusan ke Kekaisaran Byzantium untuk mencari tulisan-tulisan tentang filsafat, astronomi, matematika, dan kedokteran. Dengan biaya tinggi, mereka membeli karya-karya Yunani dan menaruhnya di rumahnya di Bab at-Taq di Bagdad. Di sana dan di areal yang didapat sebagai hadiah dari Al-Mutawakkil di Samarra, mereka mempekerjakan satu tim penerjemah yang berasal dari berbagai negeri. Khalifah al-Makmun sendiri yang telah memerintahkan untuk mengumpulkan buku-buku kuno dan mendirikan sekolah penerjemah.
    Namun, lebih penting dari kemajuan dan penemuan dalam bidang pengamatan bintang, bahkan lebih penting dari penemuan fisika dan teknik-sekaligus syarat untuk prestasi di kedua bidang ini-adalah pendidikan dari ‘alat-alat berpikir’ yang mereka ciptakan, serta secara tidak langsung mereka ’siapkan’ untuk dunia Barat.
    Bangsa Arab-maksudnya rakyat Khilafah-saat itu adalah tokoh-tokoh matematika. Ini berlawanan dengan bangsa Romawi yang dalam bidang ini hanya membawa hasil-hasil yang sedikit, dan itu pun kadang-kadang hasil ‘curian’. Ketika bakat matematika yang tinggi dari bangsa Yunani lebih didominasi oleh geometri sehingga aljabar pun mereka bungkus dengan geometri, sedangkan di sisi lain bangsa India murni “tukang hitung” (aritmetikawan), maka pada bangsa Arab kedua hal ini telah berhasil dikawinkan; suatu bakat yang dimiliki oleh Hassan bin Musa.
    Dengan kemampuan ini, bangsa Arab membuka banyak cabang pengetahuan baru dan mengembangkannya hingga tingkat kematangan yang tidak pernah dicapai baik oleh bangsa Yunani maupun India. Karena itu, “bukan bangsa Yunani, namun bangsa Arablah guru-guru matematika Rennaisance”. Di sini angka India sangat membantu.
    Jelas, bangsa Arab amat beruntung mengenal angka India, namun juga beruntung bahwa mereka memahami untuk menggunakannya; tidak cuma sekadar melihat sebagai angka asing yang menarik. Di Alexandria dan Syria, orang sudah lebih dulu mengenal angka India, namun tanpa membuatnya sesuatu yang berarti. Di tangan rakyat Khilafahlah angka ini dalam waktu singkat menjadi alat yang sangat bermanfaat.
    Setiap konstruksi, setiap hitungan astronomi atau fisika yang rumit, sangat bergantung pada adanya sistem bilangan yang sempurna. Bangsa Arab terbukti sangat bergairah dalam soal hitung-menghitung. Banyak desain teknik yang tidak pernah direalisasi, karena niatnya memang tidak untuk dibuat, melainkan sekadar untuk bermain hitungan. ‘Kegilaan’ mereka pada disiplin ilmu terindah, yakni berhitung ini, membawa mereka ke soal-soal aritmetika yang bagi matematikawan besar zaman itu dianggap tidak bisa dipecahkan. Aneh. Sebab, kata aritmetika adalah kata Yunani yang berarti “seni berbuat sesuatu dengan bilangan”. Namun, bagi bangsa Yunani yang lebih berbakat spekulasi, hal itu terasa ‘luks’. Sebagai ‘putra mistik yang telah terdidik’, aritmetika Yunani menyibukkan diri dengan teori bilangan, simbolik, deret, dan hubungan antarbilangan-namun tidak dengan hitungan yang bisa dipakai orang di pasar! Aritmetika praktis seperti yang kita pahami sekarang, yang merupakan seni berhitung yang sesungguhnya, justru dimasukkan ke disiplin ilmu yang kurang diminati, yaitu logistik (tentang menata barang konsumsi).
    Namun, justru ini medan utama bangsa India. Mereka banyak menghasilkan karya orisinal dan bermutu. Akan tetapi, seperti apa? Apa yang bisa dipakai dari situ? Mereka tidak hanya menuangkan agama dan filsafatnya ke dalam bentuk puisi. Bangsa lain, bahkan bangsa Arab juga seperti itu. Namun, bangsa India juga menuliskan ilmu astronomi dan matematika dalam bahasa misterius yang hanya bisa dipahami kalangan Brahmana saja.
    Baru bangsa Arab-sekali lagi, mereka adalah rakyat Khilafah-yang berpikir cerah, praktis, dan presisi; mengolah semua itu ke dunia yang jelas. Barulah lewat Al-Khawarizmi aritmetika dibuka, baik untuk keperluan sehari-hari maupun dunia ilmu, serta dikembangkan secara sistematis. Dengan tambahan dari matematikawan Muslim selama beberapa abad, berkembanglah ia menjadi landasan aritmetika, dan nama Al-Khawarizmi diabadikan untuk menyebut ’sekumpulan perintah yang logis dan runtut’-'algoritma’-yang tanpa itu dunia komputer atau informatik tidak akan bisa dibayangkan; terutama aljabar, yang juga untuk pertama kalinya disusun al-Khawarizmi ke dalam suatu sistem, bangsa Arab menjadikannya ilmu pasti. Dari aljabarlah Abu Kamil, al-Biruni, Ibnu Sina dan al-Karaji, dan Leonardo de Pisa menggali pengetahuannya tentang persamaan kuadratis dan kubis, yang lalu ditulis di bukunya, Liber abaci.
    Bangsa Arab juga menemukan hitungan dengan angka pecahan desimal (hitungan “di belakang koma”). Astronom al-Kajilah yang pertama kali menuliskan angka 210/125 sebagai 2,08-suatu prestasi, yang tanpa itu tentu dewasa ini baik seorang penjual susu maupun ilmuwan akan mengalami kesulitan serius, dan bahkan hitung logaritmik pun akan menjadi mustahil.
    Hingga saat ini, wajah aljabar kita ditandai oleh suatu ciri Arab: huruf x untuk tercari dalam suatu persamaan. Huruf ini, yang sering diikuti y untuk tercari kedua dan z untuk ketiga-murni urut alfabet-telah masuk ke khazanah Barat secara tersembunyi sehingga sulit dipercaya bahwa ia berasal dari Arab, apalagi di alfabet Arab tidak ada huruf x. Sesungguhnyalah, ‘benda’ yang dicari itu dalam bahasa Arab disebut ’syai’, atau disingkat ’sy’ (huruf syin). Bunyi huruf ini dalam bahasa Spanyol kuno ditulis dengan huruf x. Lalu belajarlah kita, paling lambat di SMP, dengan ‘benda’ Arab yang diberi ‘pakaian’ Spanyol.
    Tujuh ratus tahun sebelum orang Inggris Newton dan orang Jerman Leibniz, dua ilmuwan Muslim sudah memikirkan hitung diferensial. Mereka adalah seorang dokter dan filosof Ibnu Sina (980-1037) alias Avicenna, serta teolog al-Ghazali (1053-1111) alias Algazel. Ibnu Sina, yang pada usia sepuluh belajar aritmetika India pada seorang pedagang arang, tumbuh menjadi matematikawan dan astronom yang sangat produktif dan kreatif. Dia memperkaya seluruh cabang ilmu pengetahuan, ‘yang sebelumnya tidak ada orang yang sampai ke sana’. Di antaranya dia mengungkapkan adanya problem besaran yang tidak terhingga kecil, baik dalam agama maupun fisika dan matematika; suatu hal yang pada abad-17 mengantarkan Newton dan Leibniz pada infinitesimal dan kemudian membentuk ilmu kalkulus.

    Al-Farabi (870-950), yang sering dijuluki ‘guru kedua’ setelah Aristoteles, adalah filosof dan matematikawan terkemuka serta musisi jempolan. Dia terkenal akan ide-idenya serta debatnya yang selalu berhasil dengan para ilmuwan di Damaskus, yang dengan ini ia bisa menghibur para pemuka masyarakat. Dia juga terkenal dengan kuliah-kuliah musiknya tentang Canun, suatu jenis Harfa yang ia temukan, yang dengan itu, publikumnya yang panas bisa ditenangkan, dan pendengar yang capai bisa disegarkan. Kesibukannya dengan teori musik, akord, dan interval membawanya ke ide logaritma, yang ia tulis dalam bukunya, Elemen-elemen Seni Musik.
    Demikianlah, cuplikan buku Hunke yang secara obyektif mengungkap kembali berita-berita dari orang Barat pada masa keemasan Islam.
    Berita-berita ini bisa diuji-silang dengan benda-benda sejarah yang disimpan di museum, atau juga dengan bangunan-bangunan fisik, yang sampai hari ini masih bisa disaksikan. Di berbagai museum besar Dunia Islam, terutama di Kairo, Damaskus, Bagdad, dan Istambul, benda-benda seperti dokumen penting negara, senjata, hingga alat-alat ilmu pengetahuan masih bisa disaksikan. Hanya saja, untuk Bagdad, serbuan tentara Amerika ke Irak baru-baru ini telah ikut memusnahkan bukti historis yang tidak ternilai ini. Sebagian benda sejarah ini juga barangkali akan diangkut ke museum-museum di Barat, seperti di Leiden (Belanda), Paris, atau New York; sebagaimana sudah berkali-kali terjadi selama ini.

    Dokumentasi Tertulis
    Dokumen tertulis ini meliputi surat-surat keputusan pemerintah (yang juga disebut “Lembaran Negara”), surat-menyurat dengan pemerintah asing, dokumen pertanahan-termasuk peta, manuskrip ilmiah, hingga risalah di suatu sidang pengadilan.
    Dokumen ini tersimpan di museum-museum atau bekas istana pemerintahan-pemerintahan Islam di seluruh dunia. Bahkan di sebagian besar istana kesultanan-kesultanan di Indonesia pun tersimpan dokumen serupa, misalnya di Aceh, Banten, Cirebon, Makassar, hingga Ternate. Namun, ada dua kendala untuk memahami dokumen tersebut:
    (1) Keberadaan dokumen ini sebagai bukti sejarah sering tidak disadari sehingga dokumen tidak terawat baik;
    (2) Dokumen itu sering ditulis dalam bahasa dan alfabet lokal, yang saat ini sudah jarang dipakai. Sebagai contoh, dokumen Kesultanan Mataram ditulis dalam bahasa Jawa kuno dan berhuruf Jawa atau Arab Pegon (Arab Melayu). Dokumen di Istanbul, meski dalam huruf Arab, bahasa yang dipakai adalah bahasa campuran Arab, Persia, dan Turki.

    Sebagian dokumen itu sudah ditransliterasi atau diterjemahkan; sebagian besar justru oleh para peneliti Barat. Sebagian hasilnya dibuka untuk publik di museum atau diterbitkan sebagai buku. Di Aya Sofia, museum di Istambul yang sebelumnya masjid, dan sebelumnya lagi katedral, dipamerkan surat-surat Khalifah (“Usmans Fermans”) yang menunjukkan kehebatan Khilafah Utsmaniyah dalam memberikan jaminan, perlindungan, dan kemakmuran kepada warganya maupun kepada orang asing pencari suaka, tanpa memandang agama mereka.
    Yang tertua adalah sertifikat tanah yang diberikan tahun 925 H (1519 M) kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman Inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam Andalusia; lalu surat ucapan terima kasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim Khalifah ke Amerika Serikat yang sedang dilanda kelaparan (pasca perang dengan Inggris) pada abad 18; kemudian surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke Khalifah pada 30 Jumadil Awal 1121 H (7 Agustus 1709); selanjutnya surat tertanggal 13 Rabiul Akhir 1282 H (5 September 1865 M) yang memberi izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah beremigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah Khilafah, karena di Rusia mereka justru tidak sejahtera.
    Yang paling mutakhir adalah peraturan bebas cukai bagi barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari eksil ke wilayah Utsmani pasca Revolusi Bolschewik, tertanggal 25 Desember 1920.
    Di Aya Sofia dipamerkan sekitar 100 sampel surat-surat yang menakjubkan, baik yang ditujukan kepada Khalifah maupun yang dikeluarkan oleh Khalifah. Sayangnya, yang ditonjolkan adalah bahwa semua itu seakan-akan merupakan bukti kehebatan bangsa Turki pada masa lalu, bukan terpancar dari akidah dan syariat Islam atau Daulah Khilafah Islamiyah.

    Di Ankara, ibukota Turki sekarang, terdapat Pusat Arsip Pertanahan. Pada 1416, Sultan Muhammad I (kakek al-Fatih) menyatakan bahwa tanah-tanah yang didapatkan melalui jihad adalah milik umum (dikelola negara), sedangkan hak gunanya ada pada pemilik sebelumnya. Beliau lalu melakukan sensus pertanahan (land census). Registrasi ini berjalan bagus hingga Abad 17.
    Jumlah dokumen di pusat arsip ini ada sekitar 1500 ton, meliputi wilayah dari Afganistan sampai Maroko, dari Semenanjung Krim di Rusia sampai Sudan. Ini adalah bukti otentik, bahwa kekuasaan sah Daulah Khilafah Utsmaniah adalah seluas itu.
    Ada cerita bahwa setelah Republik Turki berpisah dari negeri-negeri yang semula dikuasainya, ada keluarga Turki yang mengklaim tanah warisan yang berada di Mesir. Dari Pusat Arsip ini dia mendapatkan mikrofilm yang ternyata diterima di Pengadilan Mesir sampai mendapatkan ganti rugi beberapa juta dolar.

    Bukti Arkeologis Daulah Khilafah Islamiyah
    Kemajuan peradaban Islam juga tampak dari berbagai bangunan kuno yang saat ini masih bisa disaksikan di berbagai penjuru dunia.
    Kordoba sebagai ibu kota Khilafah Umayah di Spanyol dibangun pada tahun 750 M; ia menjadi pusat peradaban hingga 1258 M. Kota tua Kordoba masih bisa kita saksikan sekarang. Sejak berdirinya, kota ini memiliki drainase yang bagus sehingga jalan-jalan tampak bersih dan asri. Ini adalah suatu teknologi sanitasi-yang Jakarta hari ini perlu iri.
    Masjid Jami Kordoba, yang saat ini hanya tinggal sebagai museum, memiliki arsitektur yang sangat indah; sekaligus memiliki fungsi akustik sehingga meskipun saat itu belum ada alat pengeras suara elektronik, suara khatib bisa terdengar jelas hingga pojok-pojok masjid yang cukup besar. Tata ruang masjid juga ditambah dengan pola ventilasi yang luar biasa, yang menjamin cukupnya cahaya dan segarnya udara.

    Tidak jauh dari masjid terdapat Taman Alcazar yang sangat indah. Mengingat Andalusia dikelilingi oleh tanah-tanah yang gersang, maka keberadaan taman itu membuktikan sistem irigasi yang baik. Irigasi memang salah satu teknologi yang diwariskan Islam.
    Di banyak negeri Timur Tengah, masih dijumpai kincir untuk menaikkan air yang dibangun berabad-abad yang silam-dan kincir ini masih berfungsi! Di beberapa kota gurun pasir juga masih dijumpai sistem distribusi air bawah tanah, yang disebut Qanat.

    Dari sekian banyak bangunan fisik berusia tua di Istambul, yang paling menarik tentu saja adalah masjid-masjid yang indah. Ikon Istambul adalah masjid Sultan Ahmet, yang berhadapan dengan Aya Sofia. Masjid ini dibangun pada Abad 16 dan satu-satunya masjid yang punya enam minaret.
    Ketahanan bangunan ini terhadap gempa telah teruji. Harus diingat bahwa Turki adalah wilayah pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Eropa, Asia, dan Afrika-Mediteran. Wilayah ini sangat sering diguncang gempa hingga data pertanahan di sana harus terus-menerus di-update karena titik-titiknya akan selalu bergeser oleh dinamika bumi. Namun, masjid-masjid di Turki yang dibangun berabad-abad yang lalu terbukti bertahan hingga kini.
    Bangunan bersejarah semacam ini berserakan di seluruh dunia, di tempat Islam pernah berkuasa. Di Cina juga terdapat banyak masjid berusia minimal 1000 tahun. Di India, meski sejak masa penjajahan Inggris didominasi oleh warga beragama Hindu, sebagian besar bangunannya berarsitektur Islam; termasuk Tajmahal, sebuah bangunan mirip masjid yang sangat indah, padahal sebenarnya hanya makam.
    Beberapa bangunan tua masih memegang fungsi seperti saat didirikan dulu, sekalipun mengalami renovasi berkali-kali. Contohnya adalah berbagai masjid dan universitas di Mesir, Damaskus, atau Istambul. Universitas al-Azhar di Mesir faktanya adalah universitas tertua di dunia!

    Bukti-bukti Pengaturan Masyarakat oleh Daulah Khilafah Islamiyah
    Setelah melihat bukti-bukti historis di muka, mulai timbul pertanyaan, sejauh mana masyarakat yang melahirkannya? Dengan kata lain, bagaimana Daulah Khilafah Islamiyah mengatur masyarakat hingga bisa berprestasi seperti itu?
    Sering ada spekulasi, bahwa kemunduran dunia riset Islam dimulai ketika iklim kebebasan berpikir-yang sering dianggap direpresentasikan kaum Muktazilah-berakhir, dan digantikan oleh iklim fikih yang skripturalis dan kaku. Teori ini terbukti bertentangan dengan fakta bahwa munculnya ilmu-ilmu fikih dan ilmu-ilmu sains dan teknologi berjalan beriringan. Bahkan ketika ilmu dasar umat Muslim mulai kendur, teknologi mereka masih cukup tinggi untuk bertahan jauh lebih lama.
    Hunke dan Al-Faruqi dengan baik melukiskan latar belakang masyarakat di negara Khilafah Islam sehingga keberhasilan pengembangan teknologi Islam terjadi. Ini bisa diklasifikasikan menjadi dua hal: Pertama, paradigma yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Islam, yang karena faktor teologis, ilmu menjadi ’saudara kembar’ dari iman, menuntut ilmu adalah ibadah, salah satu jalan mengenal Allah (makrifatullah), dan ahli ilmu sebagai pewaris para nabi, sementara percaya tahayul adalah sebagian dari syirik. Paradigma ini menggantikan paradigma Jahiliah; juga paradigma di Romawi, Persia, atau India kuno yang menjadikan ilmu sebagai suatu privilese kasta tertentu dan rahasia bagi awam. Sebaliknya, Hunke menyebut, “satu bangsa pergi sekolah,” untuk menggambarkan bahwa paradigma ini begitu revolusioner sehingga terjadilah kebangkitan ilmu dan teknologi.
    Para konglomerat pun menjadi sangat antusias dan bangga jika dapat berbuat sesuatu untuk peningkatan taraf ilmu pengetahuan atau pendidikan masyarakat, seperti misalnya membangun perpustakaan umum, observatorium, ataupun laboratorium, lengkap dengan menggaji pakarnya.
    Kedua, peran negara yang sangat positif dalam menyediakan stimulus-stimulus positif bagi perkembangan ilmu. Walaupun kondisi politik bisa berubah-ubah, sikap para penguasa Muslim pada masa lalu terhadap peradaban dan ilmu pengetahuan masih jauh lebih positif dibandingkan dengan para penguasa Muslim di dunia sekarang ini. Sekolah-sekolah yang disediakan negara ada di mana-mana dan bisa diakses masyarakat secara gratis. Sekolah-sekolah ini mengajarkan ilmu pengetahuan tanpa dikotomi antara ilmu agama dan teknologi yang bebas nilai.
    Rasulullah saw. pernah mengatakan, “Antum a‘lamu bi umûri dunyâkum” (Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian). Hadis ini jelas berkaitan dengan masalah teknologi-waktu itu teknologi penyerbukan kurma. Ini adalah dasar bahwa teknologi bersifat bebas nilai. Namun demikian, dalam pencarian ilmu, Islam memberikan sejumlah motivasi maupun guideline.
    Motivasi pencarian ilmu dimulai dari hadis-hadis (yang artinya) seperti, “Mencari ilmu itu hukumnya fardhu atas setiap Muslim,” “Carilah ilmu dari buaian sampai lubang lahad,” “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina,” “Orang yang belajar dan mendapatkan ilmu sama pahalanya dengan shalat sunat semalam suntuk,” dsb..
    Sedangkan guideline bisa dibagi dalam tiga kelompok sesuai dengan pembagian dalam filsafat ilmu , yaitu dalam kelompok ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
    Ontologi menyangkut masalah mengapa suatu hal perlu dipelajari atau diteliti. Al-Quran memuat cukup banyak ayat-ayat yang merangsang pembacanya untuk menyelidiki alam, seperti: Apakah kalian tidak memperhatikan, bagaimana unta diciptakan, atau langit, bagaimana ditinggikan….” (QS al-Ghasiyah []: 17-18).
    Karena itu, tidak aneh bahwa pada masa Khalifah al-Makmun, para pelajar ilmu tafsir akan menyandingkan buku astronomi Almagest karya Ptolomeus (astronom Mesir kuno) sebagai ’syarah’ dari surat al-Ghasiyah tersebut.
    Kaidah ushul, “Mâ lâ yatim al-wâjib illâ bihi fahuwa wâjib (Apa yang mutlak diperlukan untuk menyempurnakan sesuatu kewajiban hukumnya wajib pula),” juga memiliki peran yang besar. Ketika kaum Muslim melihat bahwa untuk menyempurnakan jihad melawan adikuasa Romawi diperlukan angkatan laut yang kuat, maka mereka-berpacu dengan waktu-mempelajari teknik perkapalan, navigasi dengan astronomi maupun kompas, mesiu, dsb. Jika untuk mempelajari ini mereka harus ke Cina yang waktu itu lebih dulu mengenal kompas atau mesiu, mereka pun pergi ke sana, sekalipun menempuh perjalanan yang berat, dan harus mempelajari sejumlah bahasa asing.
    Dengan ontologi syariat ini, kaum Muslim pada masa lalu berhasil mendudukkan skala prioritas pembelajaran dan penelitian secara tepat, sesuai dengan ahkâm al-khamsah (hukum yang lima: wajib-sunah-mubah-makruh-haram) dari perbuatannya..

    Epistemologi adalah menyangkut metode bagaimana suatu ilmu dipelajari. Epistemologi Islam mengajarkan bahwa suatu ilmu harus dipelajari tanpa melanggar satu hukum syariat pun. Karena itu, beberapa jenis eksperimen akan dilarang jika bertentangan dengan syariat, misalnya kloning manusia. Di sisi lain, ilmu dipelajari untuk diamalkan. Oleh karena itu, ilmu seperti sihir hitam (blackmagic) menjadi haram dipelajari, karena epistemologinya adalah dipelajari sambil dipraktikkan. Jadi, bagaimana mungkin mempelajari suatu ilmu yang praktikumnya saja akan berarti kemaksiatan?
    Demikian juga dengan meramal nasib dengan melihat posisi bintang atau astrologi. Nabi saw. sendiri sudah menggantikan posisi bintang-bintang yang didewakan dengan Tuhan Yang Maha Esa, Penguasa alam semesta dan Pencipta langit dan bumi. “Haramlah sekarang untuk mempercayai pengaruh bintang atas nasib serta pemujaannya.”
    Namun, kaum Muslim perlu mempelajari ilmu bintang. Allah sendiri telah memerintahkan untuk mengamati langit. Dengan nama Allah maka gerakan bintang di langit dipelajari. Dengan nama Allah pulalah setiap karya ilmiah dimulai. Karena itulah, umat Islam mendahului umat lain di dunia Barat: tingginya level pendidikan ilmiahnya, yang melindunginya dari jebakan-jebakan mistisme. Karena itu, seni penakwilan bintang atas nasib bagi bangsa Arab yang realistis sama sekali tidak memiliki kekuatan magis, seperti pengaruh buku-buku astrologi di dunia Barat. “Astrologi Arab” terutama adalah “anak manja” budaya Persia. Merekalah yang membawa seni ini ke Dunia Islam.
    Di sisi lain, ilmu-ilmu seperti kedokteran, fisika, juga ilmu sosiologi atau hukum (fikih) menjadi tumbuh pesat karena setiap yang mempelajarinya mempunyai gambaran yang jelas bagaimana nanti menggunakan ilmu itu. Berbeda dengan sekarang ketika banyak mahasiswa yang ada di ‘menara gading’, yang ketika turun ke masyarakat ternyata tidak mampu harus mulai dari mana dalam menggunakan ilmunya.
    Sedangkan aksiologi adalah menyangkut bagaimana suatu ilmu diterapkan. Ilmu atau teknologi adalah netral, sedangkan akibat penggunaannya bergantung pada peradaban (hadhârah) manusia atau masyarakat yang menggunakannya. Banyak hasil riset yang, walaupun dibungkus dengan suatu metode statistik, dipakai hanya untuk membenarkan suatu model yang bias secara ideologis ataupun kepentingan tertentu..
    Pada masyarakat Muslim, penggunaan teknologi akan dibatasi oleh hukum syariat. Teknologi hanya akan digunakan untuk memanusiakan manusia, bukan memperbudaknya. Teknologi digunakan untuk menjadikan Islam rahmat seluruh alam, bukan untuk menjajah negeri-negeri lain. Ini sudah terbukti! Ketika orang berbicara zaman penjajahan atau kolonialisme, mereka akan menunjuk Barat sebagai pelakunya, dan tidak pernah menunjuk Negara Khilafah. Oleh karena itu, kebuntuan untuk mencapai kemajuan pada negeri-negeri miskin- seperti yang terjadi dewasa ini di Afrika- akan bisa didobrak dengan aksiologi syariat. []

    Penulis adalah staf pengajar Universitas Paramadina, Jakarta.

  2. penganalisaan yang sangat baik mengenai sejarah dan dampak dari perkembangan yang kini menjadi pembicaraan banyak orang dari berbagai partisi kaum manusia bijak dalam dunia sain

  3. deni_muhi says:

    begini,jika suatu komputer mengalami virus dan telah membuat beberapa folder tuh gimana>?

  4. [...] Mentalitas Etis Masalah etika kadang-kadang jarang diperhatikan. Silahkan rujuk tulisan saya mengenai masalah ini yang telah dipublikasikan di blog ini tahun lalu dengan judul: Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi di Indonesia. [...]

  5. [...] Mentalitas Etis Masalah etika kadang-kadang jarang diperhatikan. Silahkan rujuk tulisan saya mengenai masalah ini yang telah dipublikasikan di blog ini tahun lalu dengan judul: Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi di Indonesia. [...]

  6. [...] sering tidak diabaikan, karena ‘knowledge’-lah yang lebih banyak diperhatikan (klik disini). Sebagai contoh; salah satu hal yang nampaknya sepele tetapi sering dilupakan adalah penggunaan [...]

  7. sistem ekonomi islam…

    [...]Catatan Hadi Nur » Blog Archive » Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia[...]…

Leave a Reply