Archive for August, 2008

Pengalaman mantan mahasiswa di Perancis

Thursday, August 21st, 2008

Hari ini saya kedatangan mantan mahasiswa saya, Ng Eng Poh, yang sekarang sedang belajar untuk program PhD di L’Université de Haute-Alsace, Perancis. Banyak cerita mengenai riset dan pengalaman belajar di negeri orang yang saya dengan dari beliau. Kebanyakan cerita tersebut adalah mengenai sang mentor PhD yang mempunyai dedikasi yang tinggi dalam penelitian dan juga sangat menguasai bidang yang ditekuni. Beliau menceritakan bagaimana budaya ilmiah telah terbangun disana. Dalam percakapan kami yang mengasyikan di sebuah restoran di Jusco, Taman Universiti dan juga di kamar kerja saya — terlintas juga dalam benak saya, bagaimana ‘prestasi’ saya dalam menggeluti bidang saya disini. Kadang-kadang ada perasaan malu dan juga sedih melihat keadaan dan situasi ‘budaya ilmiah’ yang belum terbangun di universiti tempat saya bekerja. Mudah-mudahan akan ada ‘political will‘ yang cukup untuk mengubah keadaan ini dari para pengambil keputusan di universiti ini. Insya Allah

Doa bapak dan mamak

Wednesday, August 20th, 2008

“Bapak” dan “mamak”, begitulah saya memanggil ayah (77 tahun) dan ibu (74 tahun) saya. Walaupun umur saya yang hampir kepala empat saya masih selalu meminta pendapat dan saran-saran mereka — terutama ketika saya ditimpa masalah. Adalah kebiasaan saya selalu menelpon mereka yang sudah pensiun sebagai dosen di Universitas Negeri Padang, Indonesia — paling tidak sekali dua minggu. Saya percaya, dengan doa dan restu merekalah saya dapat berkarir seperti sekarang ini. Mereka selalu berkata, “Kami selalu mendoakan anak-anak supaya mereka diberikan jalan yang terbaik“. Walaupun saya tidak jadi pindah ke Universiti Malaysia Pahang, dan tetap di sini (Universiti Teknologi Malaysia) — bagi mereka, inilah jalan yang terbaik yang ditunjukkan oleh Allah SWT kepada saya.

Saya tidak akan melupakan kalian

Tuesday, August 12th, 2008

Kartu perpisahan

Terima kasih banyak atas kenang-kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan (dari staf Institut Kajian Sains Fundamental Ibnu Sina, Universiti Teknologi Malaysia). Mudah-mudahan persahabatan kita tidak hanya sampai disini, walaupun saya tidak lagi bersama kalian …

Indahnya sebuah universitas

Saturday, August 9th, 2008

Richard Feynman, pemenang Nobel Fisika pernah mengatakan bahwa sebagai saintis dia akan lebih menikmati keindahan bunga dengan lebih ‘mendalam’ dibandingkan artis. Artis atau orang biasa hanya akan menikmati dan mengapresiasikan keindahan bunga — hanya dari tampak luar saja. Sebagai saintis dia lebih menikmati keindahan bunga — bukan hanya dari bentuk luarnya saja — tetapi jauh lebih dalam, seperti struktur molekul, metabolisme, biofisika dan aspek-aspek ilmiah yang lain.

Berpijak dari pandangan di atas, sebagai dosen dan peneliti, saya juga dapat menganologikan universitas sebagai ‘bunga’-nya Richard Feynman. Universitas bukan hanya dilihat dari fasilitas fisiknya saja (tampak luarnya saja), tetapi jauh lebih dalam — iaitu ‘proses’ pendidikan dan penelitian didalamnya. Proses ini harus didasari dari ‘budaya ilmiah‘. Universitas harus memperhatikan dan melaksanakan proses ini supaya menjadi universitas yang terpandang. Apalah artinya publikasi ilmiah, paten dan medali-medali yang didapatkan dari pameran jika hanya memamerkan ‘keindahan luar’ dari universitas — sama seperti bunga yang keindahannya hanya dinikmati oleh orang-orang biasa yang tidak mengerti mengenai keindahan sebenarnya dari bunga, seperti yang dikatakan oleh Richard Feynman.

Makna kehidupan dan teologi takdir

Saturday, August 9th, 2008

Masalah “makna dari kehidupan” dan “makna dalam kehidupan” merupakan hal yang perlu dimengerti dan dipahami sebagai landasan kita untuk dapat mencapai kejayaan didunia dan akhirat.

Kita kembali kepada pemikiran-pemikiran Islam masa lalu yang sangat kaya dengan pemikiran, baik dalam bidang teologi, filsafat, hukum maupun tasawuf. Dan kita jumpai adanya keragaman dalam pemikiran dan paham/aliran. Ada pertanyaan yang mengusik saya dari dulu sampai sekarang, kenapa umat Islam tidak maju-maju, dibandingkan dengan bangsa barat (terutama setelah hancurnya Baghdad abad ke 13)? Kenapa dengan konsep “meaning in life” yang dimiliki oleh bangsa barat, mereka dapat lebih maju dan menguasai kehidupan dunia ini? Salah satu penyebab, dari banyak penyebab, mungkin, menurut pendapat saya, karena pemahaman kita terhadap konsep-konsep dalam teologi Islam itu sendiri. Sebagai contoh adalah mengenai masalah teologi Takdir. Bagaimana kita memandang masalah takdir dalam kehidupan ini?

Teologi takdir adalah sangat penting; ia menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan maju dan mundurnya umat Islam. Ada paham takdir yang dapat menyebabkan umat Islam mundur dan lemah; sebaliknya ada pula paham takdir yang dapat mendorong umat Islam kepada kemajuan dan kekuatan. Dua pemikiran mengenai takdir tersebut adalah paham “Jabariyah” dan paham “Qadariyah”.

Pada umumnya para pemikir pembaharuan dalam Islam mempunyai pandangan bahwa lemahnya umat Islam adalah pengaruh dari paham “Jabariyah”. Menurut versi jabariyah, takdir Tuhan sedemikian rupa, sehingga manusia tidak ubahnya seperti wayang, yang berbuat begitu rupa mengikuti kelihaihan pengendalinya. Paham Jabariyah mulai meluas, sejalan dengan meluasnya paham Asy’ariah dan paham tarekat menguai dunia Islam, sejak hancur Baghdad sekitar 1200 M.

Versi lain dari paham takdir adalah apa yang disebut paham “kadariah”. Menurut paham ini, takdir Tuhan adalah ketentuan Tuhan bagi mahluk-Nya. Takdir ini menjelma dalam bentuk sifat-sifat alam atau hukum-hukum sebab-akibat yang pasti berlaku. Manusia diberi kebebasan dalam kemauan dan perbuatan, diberi tanggung jawab, supaya manusia dapat diuji apakah beriman, beramal saleh atau sebaliknya. Dengan paham ini, manusia diberi landasan untuk bekerja keras, bekerja semaksimal kemampuan dan bertanggung jawab demi dunia dan akhirat.

Ada yang merumuskan paham lain, yang dianggap sikap tengah antara jabariyah dan kadariah, yang disebut paham “kasab” (yang saya sendiri tidak mengetahuinya secara detail). Namun, dalam sejarah teologi Islam, sebahagian penulis hanya membagi paham takdir kepada dua paham yang disebutkan di atas.

Dari penjelasan di atas, sekarang, mungkin kita dapat merasakan, paham mana sekarang yang kita anut? dan paham-mana yang banyak dianut oleh mayoritas umat Islam sekarang ini?

Perspektif

Friday, August 8th, 2008

09072008165.jpg

Foto di atas adalah ‘perspektif’ yang diambil dari tempat parkir Plaza Kotaraya, Johor Bahru.

What is scientific method?

Friday, August 8th, 2008

(Tulisan ini adalah bahan lama yang didasarkan kepada ceramah saya kepada mahasiswa master dan PhD, dan staf program kimia, Institut Kajian Sains Fundamental Ibnu Sina, UTM pada tanggal 16 Oktober 2002)

Dalam menjalankan penelitian ilmiah kita menggunakan “tool” dalam mencari “kebenaran” (yang bukan absolut!), yang dinamakan sebagai “scientific method“, yang prosesnya adalah sebagai berikut:

Kenali dan rumuskan masalah yang akan diteliti dengan jelas
Ini mungkin adalah pertanyaan atau tujuan yang tidak terselesaikan dari eksperimen yang telah dilakukan sebelumnya — sebuah pertanyaan atau pernyataan apa yang patut dan harus diteliti selanjutnya. Mungkin kita bertanya, darimana saintis mendapatkan “masalah” pertama kali. Perlu diingat bahwa “scientific method” itu adalah “proses” yang sedang berlangsung dan tidak pernah berhenti. Dimana, walaupun sebuah penjelasan kelihatan “benar”, masalah lain pasti akan muncul untuk diuji kebenarannya.

Coba cari penjelasan yang mungkin terhadap “masalah” yang akan diteliti
“Penjelasan yang mungkin terhadap suatu masalah” disebut sebagai “hipotesis”. Hipotesis inilah yang akan diuji kebenarannya.

Uji hipostesis dengan melakukan eksperimen dan pengamatan
Bagaimana sebuah eksperimen dijalankan dilandaskan kepada sebuah “metoda”. Kemungkinan, metoda tersebut telah ditemukan dan didesain dengan hati-hati oleh para saintis, yang dijumpai dalam jurnal-jurnal dan buku-buku ilmiah. Dalam hal ini, sebagai saintis, kita diharapkan dapat mendesain metoda sendiri.

Catat semua hasil pengamatan dengan lengkap
Ini dilaporkan dalam bagian “hasil eksperimen” buku catatan laboratorium. Hanya pengamatan yang dicatat disini, tanpa penjelasan. Pengamatan termasuk semua yang dirasakan, termasuk bau, apa yang didengar, warna atau apa saja yang diamati dengan alat sewaktu eksperimen dilakukan.

Ulangi eksperimen (sampai kita yakin “kebenarannya”)
Ini dilakukan supaya hasil eksperimen kita tidak dikatakan suatu “keberuntungan”. Ini sangat penting bagi seorang saintis dalam menjelaskan sebuah penemuan baru.

Pelajari pengamatan-pengamatan yang telah dilakukan sehingga kita dapat melihat “masalah” tersebut sudah terselesaikan atau perlu eksperimen lebih lanjut
Ini adalah “kesimpulan”. Kesimpulan dari sebuah eksperimen harus menyatakan apakah “masalah yang akan diselesaikan” atau “tujuan” sudah terjawab atau tidak. Jika kelihatan bahwa eksperimen yang telah dilakukan tidak cukup untuk menjawab masalah, penjelasan harus diberikan untuk menerangkan keterbatasan eksperimen yang telah dijalankan atau kekurangan dalam mendesain eksperimen.

Diskusikan apakah hasil dan kesimpulan adalah valid dengan teman-teman sejawat
Biasanya, untuk saintis yang profesional, diskusi ini dilakukan melalui jurnal-jurnal ilmiah yang dikenal, atau melalui presentasi dalam konferensi, seminar dan sebagainya. Setelah “Scientific Method” ini telah dijalankan, dan hasil-hasilnya telah dipublikasikan dan diulang oleh saintis yang lain, hipotesis-nya dapat dipertimbangkan sebagai sebuah “teori”. Jika teori telah diuji selama bertahun-tahun dan telah terbukti merupakan pengetahuan yang tangguh dalam menjelaskan sebuah fenomena, dia dapat dipertimbangkan sebagai “Scientific Law”.

Mengabdi untuk kemanusiaan

Friday, August 8th, 2008

Tanggal 26 Juli 2008 saya diundang oleh Persatuan Pelajar Indonesia, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) untuk memberikan motivational talk kepada mahasiswa baru (17 orang) yang berasal dari Indonesia — yang juga dihadiri oleh mahasiswa veteran. Saya bercerita kepada mereka bahwa mereka yang diterima di UTM adalah orang yang sangat beruntung, karena telah menyisihkan sekitar 150 lamaran. Mereka harus mensyukuri hal tersebut dengan cara belajar keras untuk mencapai cita-cita mereka. Ah.. nampaknya topik yang biasa saja.

26072008187.jpg

Yang menarik adalah ketika sesi dialog. Seorang mahasiswa bertanya kepada saya: “Sebagai orang Indonesia yang telah bekerja di luar negeri lebih dari 10 tahun, apa yang telah bapak sumbangkan untuk Indonesia?” Ini juga pertanyaan klasik yang banyak didiskusikan sejak lama. Istilah yang populer untuk itu adalah brain drain. Saya menjawab dengan fakta; walaupun saya bekerja disini, hampir semua mahasiswa program doktor yang saya bimbing berasal dari Indonesia. Hal yang sukar saya lakukan jika saya menjadi dosen di Indonesia. Nah.. untuk kasus ini, istilah yang mungkin tepat adalah brain gain.

Saya mempunyai prinsip bahwa “bumi Allah SWT ini luas dan sebagai hambanya kita harus memikirkan kontribusi kita kepada kemanusiaan — yang semua ini adalah didasarkan kepada pengabdian kepada-Nya“. Dengan begitu hidup kita akan lebih bermakna.

Politik dan kebohongan

Thursday, August 7th, 2008

Sebagai dosen dan mentor dari mahasiswa program doktor dan master, saya selalu mengatakan dan mengajarkan mahasiswa saya bahwa dalam menulis tesis atau makalah ilmiah haruslah selalu berdasarkan fakta yang dilandasi dengan hasil eksperimen yang tepat dan jujur — karena ini adalah landasan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika kita menulis dengan ‘tidak’ berdasarkan fakta, maka hasil tulisan tersebut mungkin dapat dikategorikan sebagai ’sastra’. Kalau kita melihat film CSI: Crime Scene Investigation kita dapat melihat bahwa ketidakjujuran lambat laun akan terungkap dengan fakta-fakta yang akurat dan lengkap. Namun dengan permainan politik semua fakta-fakta tersebut dapat disamarkan dan diubah. Sungguh memuakkan melihat suasana politik dirantau ini yang banyak diisi dengan kebohongan dan ketidakjujuran — demi yang namanya kekuasaan. Saya jadi teringat bahwa “Politics is the study of the exercise of power” — kadang-kadang kebohongan dan ketidakjujuran merupakan permainan sehari-hari dari orang-orang yang bermain ‘politik’.

Profesor harus berakar di laboratorium

Wednesday, August 6th, 2008

Para petinggi UTM masih masih belum mengeluarkan surat yang menyatakan saya berhenti sebagai dosen disini — walaupun saya tetap akan pindah ke Universiti Malaysia Pahang bulan September 2008. Minggu lalu saya telah dipanggil oleh TNCPI (Timbalan Naib Canselor Penyelidikan dan Inovasi — Dato’ Prof. Zaini Ujang) yang membujuk saya untuk tetap bekerja di UTM dengan menawarkan kenaikan pangkat dan juga memindahkan saya ke kampus UTM di Kuala Lumpur. Saya sangat terharu dengan tawaran tersebut yang bagi saya merupakan penghargaan terhadap apa yang telah saya hasilkan dalam bidang akademik selama saya bekerja di UTM. Saya juga merasakan semangat Dato’ Prof. untuk memajukan UTM, walaupun kami tidak pernah bertemu secara langsung sebelumnya. Saya berkesempatan berbincang dengan beliau di kantor beliau pada 31 Juli 2008 setelah jam kerja.

Saya menceritakan kepada beliau bahwa selama saya bekerja di UTM saya masih belum merasakan ‘budaya ilmiah’. Budaya ilmiah yang saya maksudkan tersebut termasuk adalah norma ilmiah dan sebagainya yang saya telah tulis dalam blog ini (lihat disini). Apa yang saya perhatikan adalah masih banyak profesor dalam bidang sains dan teknologi yang tidak memiliki budaya ilmiah. Jabatan profesor hanyalah sekedar ‘embel-embel’ yang kurang memiliki arti ‘ilmiah’. Indikatornya adalah kurangnya publikasi ilmiah dan recognition dari komunitas ilmiah. Kebanyakan mereka hanyalah ‘jago kandang’ yang biasanya dijadikan sebagai bahan publisiti murahan di surat kabar — bukannya di jurnal-jurnal saintifik ataupun komunitas ilmiah internasional. Salah satu alasan yang yang paling mendasar kenapa ini terjadi adalah karena para profesor ini tidak berakar di laboratorium. Banyak para profesor yang tidak pernah masuk laboratorium sejak mereka lulus PhD. Oleh karena itu, kualitas keilmuan mereka patut dipertanyakan — karena semua kecanggihan dalam bidang sains dan teknologi bermula dari laboratorium. Apalah artinya saya, yang hanya dosen kontrak — yang walaupun sadar bahwa budaya ilmiah tersebut perlu dibangun — tetapi tidak mempunyai ‘kekuatan’ untuk membangun budaya tersebut disini. Dengan berpindahnya saya di universitas yang baru, Insya Allah saya akan mencoba untuk membangun ‘budaya ilmiah’ ditempat yang baru.