Kamar kerjaku dan Prinsip 5S
Tuesday, December 30th, 2008Inilah situasi kamar kerjaku yang di foto pada 21 Agustus 2007:

Tadi, dengan bantuan Farid, saya membersihkan kamar yang berantakan itu dan inilah hasilnya:

Di bawah ini adalah kertas-kertas dan kotak-kotak yang dibuang, yang ditumpuk selama hampir 3 tahun.

Sebenarnya, saya ingin menerapkan Prinsip 5S yang sedang diterapkan di tempat saya bekerja. Apa itu Prinsip 5S?
PRINSIP 5S (SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE)
SEIRI – Put things in order (remove what is not needed and keep what is needed)
1. Jangan meletakkan barang-barang yang tidak diperlukan di atas/ di bawah meja; yang boleh menghalang laluan di tempat kerja; di bilik mesyuarat atau bilik yang tertutup.
SEITON – Proper Arrangement (Place things in such a way that they can be easily reached whenever they are needed)
1. Simpan barang-barang dan peralatan-peralatan dengan teratur supaya senang dicapai.
2. Jangan meletakkan barang-barang dalam keadaan mengelilingi atau menghalang alat-alat memadam api atau alat-alat keselamatan.
SEISO – Clean (Keep things clean and polished; no trash or dirt in the workplace)
1. Sentiasa bersihkan mesin-mesin dan peralatan-peralatan.
2. Bersihkan tempat rehat dan kawasan merokok secara bergilir-gilir.
SEIKETSU – Purity (Maintain cleanliness after cleaning – perpetual cleaning)
1. Setiasa memelihara kebersihan pakaian dan kasut kerja.
2. Gunakan tempat membasuh tangan dan tandas dengan betul.
SHITSUKE – Commitment (Actually this is not a part of ā4Sā, but a typical teaching and attitude towards any undertaking to inspire pride and adherence to standards established for the four components)
1. Beri salam dalam keadaan ceria dan bertenaga.
2. Gunakan alat-alat perlindungan dengan betul.
3. Bimbing atau melatih yang lain.
Dalam bahasa Inggris:
|
|
|
|
|
|
|
|
|




Saya teringat dengan cerpen “Robohya Surau Kami”, karangan Ali Akbar Navis, yang saya baca ulang diperpustakaan orang tua saya di Padang bulan Agustus 2008 yang lalu — ketika saya berlibur kesana. Kebetulan pak Ali Akbar Navis (almarhum), pengarang cerpen itu, adalah kawan ayah saya. Sayapun pernah diajak ayah saya berkunjung ke rumah pak Navis di Padang. Cerpen itu juga mengingatkan saya untuk lebih mengetahui apa itu ibadah. Cerpen ini juga saya anggap masih relevan saat ini walapun dipublikasikan 52 tahun yang lalu. Apakah ibadah itu hanya sekadar rajin shalat ke mesjid? ataukah lebih daripada itu?