Archive for the ‘Mengenai Saya’ Category

Born in 1969. Online since 1999

Saturday, February 20th, 2010

This post is about the history of my personal website, http://www.hadinur.com. I began to know the Internet when I came to the Universiti Teknologi Malaysia (UTM) in 1995 as a PhD student. In 1999, when I was a postdoctoral fellow at UTM, I created a website at http://www.angelfire.com/mt/hadinur. In 2000, I created a new account in http://www.geocities.com/hadinur when I was a postdoctoral research fellow at Catalysis Research Center, Hokkaido University. After I returned to UTM, in 2003, I moved my website to http://www.ibnusina.utm.my/~hadi. In May 2007, I decided to rent a domain http://www.hadinur.com.

Hadi Nur - View 'My website's frontpage' set on Flickriver

My mother

Saturday, February 13th, 2010

I and my mother when I was 10 months (1970) in Bukittinggi, West Sumatera.

Abu Huraira reported that a person came to Muhammad SAW and said: Who among the people is most deserving of a fine treatment from my hand? He said: Your mother. He again said: Then who (is the next one)? He said: Again it is your mother (who deserves the best treatment from you). He said: Then who (is the next one)? He said: Again, it is your mother. He (again) said: Then who? Thereupon he said: Then it is your father.

This page is about my mother. My mother’s name is Sofiah Djamaris. She was born in Sawahlunto, West Sumatera on October 10, 1933 (in the certificate and the passport was written born in 1934). She was retired as a senior lecturer at State University of Padang (Universitas Negeri Padang) in 1999. Although my mother is not well recognized in the academic world, their children know that she is an intelligent person. Her friends and teachers recognize that she is a smart student. She was the favorite pupil of Pak Jalal (father of Prof. Fasli Jalal, now is a Deputy Minister of Ministry of National Education, Indonesia) when she was studying at Diniyyah Putri, Padang Panjang, West Sumatra in the 1950s. She obtained her first degree in Islamic Studies from Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta in 1964. Her thesis was supervised by the late Prof. Muchtar Jahja.

My mother come from a village called Pamuatan which is located in Sijunjung distric in West Sumatera province. She was the first person from the village who got a bachelor degree from the university. At that time, this is a remarkable achievement since her mother who financed her study at the university is illiterate.

My brothers

Tuesday, February 9th, 2010

My brothers - left to right: Hamdi Nur, Huseini Nur, Me and Hamda Nur

The above photo was taken in 1973 in Bukittinggi, West Sumatra. At that time my father was teaching at IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) in Bukittinggi. Our house is located near to the Bung Hatta Palace and the Clock Tower (Jam Gadang).

Assessment of my teaching by students

Monday, February 8th, 2010

What is the feeling of having successfully managed teaching? Surely the answer is excited. I felt this feeling when I saw my assessment of my teaching last semester (Quantum Chemistry and Spectroscopy – SSC2463). This assessment was made by the students. The following is my score.

Overall Achievement Statistics:
Min of my score: 4.64335
Min score of faculty: 4.39
Min score of university: 4.35
My rank in UTM: P5

Note:
P1: Rank <= 20%
P2: 20% P3: 40% P4: 60% P5: Rank> 80%

Below are the comments from my students:
1. best belajar dengan Dr Hadi
2. Dr Hadi Nur baik…
3. bagus naikkan gaji naikkan pangkat
4. sila naikkan gaji pensyarah ini

My dad

Sunday, February 7th, 2010

My father, Nur Anas Djamil, in his library at home in Padang, West Sumatera. The shelves of books collapsed when the earthquake hit Padang on September 30, 2009.

This is the first post about my father, Nur Anas Djamil, written by me in this blog. As you can see in the above picture, you can guess my father’s occupation. Yes, my father was a teacher, more precisely a Professor in Islamology. He graduated from IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta in 1962. His thesis was supervised by the late Prof. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, an Indonesian national hero. Before retiring as a professor at the University of Padang in 2001, he has served as dean of the Faculty of Literature and Art Teacher Training at this university from 1969 to 1971. He was Chairman of the Regional Board of Muhammadiyah of West Sumatera Province, Indonesia from 1995 to 2000.

As a lecturer and researcher, he has published several research articles that can be viewed via Google Books#1 and Google Books#2.

In Minangkabau society, a clan has a chief, called “Datuk”, who is appointed on the basis of matrilineal descent. My father was appointed “Datuk Rajo Mangkuto” by his clan. The following link is the procession of inauguration of my father as Datuk Rajo Mangkuto in Balai Mansiro, Payakumbuh, West Sumatera in 2003.

Tantangan di tahun 2009

Thursday, January 1st, 2009

Satu Januari tahun dua ribu sembilan di mulai dengan memasuki ruang kuliah — mengajar mata pelajaran Solid State Chemistry. Tidak ada yang menarik, namun tahun ini merupakan tahun yang penuh cabaran karena:

  • restrukturisasi Universiti Teknologi Malaysia (UTM)
  • dunia yang mengalami krisis ekonomi
  • tugas saya sebagai profesor madya dan Manager of International Affairs di UTM.

Kamar kerjaku dan Prinsip 5S

Tuesday, December 30th, 2008

Inilah situasi kamar kerjaku yang di foto pada 21 Agustus 2007:

Tadi, dengan bantuan Farid, saya membersihkan kamar yang berantakan itu dan inilah hasilnya:

Di bawah ini adalah kertas-kertas dan kotak-kotak yang dibuang, yang ditumpuk selama hampir 3 tahun.

Sebenarnya, saya ingin menerapkan Prinsip 5S yang sedang diterapkan di tempat saya bekerja. Apa itu Prinsip 5S?

PRINSIP 5S (SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE)

SEIRIPut things in order (remove what is not needed and keep what is needed)

1. Jangan meletakkan barang-barang yang tidak diperlukan di atas/ di bawah meja; yang boleh menghalang laluan di tempat kerja; di bilik mesyuarat atau bilik yang tertutup.

SEITONProper Arrangement (Place things in such a way that they can be easily reached whenever they are needed)

1. Simpan barang-barang dan peralatan-peralatan dengan teratur supaya senang dicapai.
2. Jangan meletakkan barang-barang dalam keadaan mengelilingi atau menghalang alat-alat memadam api atau alat-alat keselamatan.

SEISOClean (Keep things clean and polished; no trash or dirt in the workplace)

1. Sentiasa bersihkan mesin-mesin dan peralatan-peralatan.
2. Bersihkan tempat rehat dan kawasan merokok secara bergilir-gilir.

SEIKETSUPurity (Maintain cleanliness after cleaning – perpetual cleaning)

1. Setiasa memelihara kebersihan pakaian dan kasut kerja.
2. Gunakan tempat membasuh tangan dan tandas dengan betul.

SHITSUKECommitment (Actually this is not a part of ā€˜4S’, but a typical teaching and attitude towards any undertaking to inspire pride and adherence to standards established for the four components)

1. Beri salam dalam keadaan ceria dan bertenaga.
2. Gunakan alat-alat perlindungan dengan betul.
3. Bimbing atau melatih yang lain.

Dalam bahasa Inggris:

tn_5s_0.jpg

tn_5s_1.jpg

tn_5s_2.jpg

tn_5s_3.jpg

tn_5s_4.jpg

tn_5s_5.jpg

Cerita “Robohnya surau kami” ternyata masih relevan

Tuesday, December 16th, 2008

Saya teringat dengan cerpen “Robohya Surau Kami”, karangan Ali Akbar Navis, yang saya baca ulang diperpustakaan orang tua saya di Padang bulan Agustus 2008 yang lalu — ketika saya berlibur kesana. Kebetulan pak Ali Akbar Navis (almarhum), pengarang cerpen itu, adalah kawan ayah saya. Sayapun pernah diajak ayah saya berkunjung ke rumah pak Navis di Padang. Cerpen itu juga mengingatkan saya untuk lebih mengetahui apa itu ibadah. Cerpen ini juga saya anggap masih relevan saat ini walapun dipublikasikan 52 tahun yang lalu. Apakah ibadah itu hanya sekadar rajin shalat ke mesjid? ataukah lebih daripada itu?

Di bawah ini adalah sinopsis dari cerpennya pak Navis yang saya salin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Robohnya_Surau_Kami:

Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Mesjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun. Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

Penasaran untuk baca cerpen lengkapnya? Silahkan download PDF file berikut ini: Robohnya surau kami.

Wajah karikatur

Monday, September 1st, 2008

Wajah karikatur

Di gambar oleh pelukis ‘jalanan’ di Jusco Tebrau (31/08/2008).

Doa bapak dan mamak

Wednesday, August 20th, 2008

“Bapak” dan “mamak”, begitulah saya memanggil ayah (77 tahun) dan ibu (74 tahun) saya. Walaupun umur saya yang hampir kepala empat saya masih selalu meminta pendapat dan saran-saran mereka — terutama ketika saya ditimpa masalah. Adalah kebiasaan saya selalu menelpon mereka yang sudah pensiun sebagai dosen di Universitas Negeri Padang, Indonesia — paling tidak sekali dua minggu. Saya percaya, dengan doa dan restu merekalah saya dapat berkarir seperti sekarang ini. Mereka selalu berkata, “Kami selalu mendoakan anak-anak supaya mereka diberikan jalan yang terbaik“. Walaupun saya tidak jadi pindah ke Universiti Malaysia Pahang, dan tetap di sini (Universiti Teknologi Malaysia) — bagi mereka, inilah jalan yang terbaik yang ditunjukkan oleh Allah SWT kepada saya.