Saya.. saya.. dan saya..
Thursday, March 4th, 2010[renungan dan nasehat untuk diri sendiri]
Jadi ingat dengan sebuah teori dalam ilmu psikologi, yang menyatakan bahwa jika kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan memiliki dan cinta, dan kebutuhan penghargaan sudah terpenuhi dan terpuaskan, barulah kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri yang perlu dipenuhi.
Kebutuhan aktualisasi diri, menurut teori tersebut, yang biasa disebut dengan Teori Kebutuhan Maslow, merupakan suatu kondisi puncak dari perkembangan individu. Apa ciri-ciri orang yang masih belum sampai pada tahap ini? Salah-satunya adalah selalu mengatakan… saya.. saya.. saya dan saya. Maksudnya adalah, orang tersebut selalu berusaha menarik perhatian orang lain dengan menyampaikan prestasi-prestasi yang telah diraihnya kepada orang lain — baik melalui media massa, mailing list ataupun melalui pembicaraan sehari-hari. “Lihatlah kehebatan saya”, “lihatlah hasil karya saya”, “kalau tidak ada saya…” merupakan sebahagian dari perkataan yang memperlihatkan bahwa orang yang mengatakan hal tersebut masih merasa belum diakui oleh orang lain (atau memang benar-benar belum diakui). Inilah bukti bahwa kebutuhan orang tersebut terhadap penghargaan masih belum terpenuhi dan terpuaskan. Orang ini sebenarnya masih belum mempunyai “kearifan”.
[setelah membaca tulisan ini, istri saya mengatakan bahwa saya juga sering mengatakan.. "saya.. saya.. dan saya..". Jadi, tulisan ini memang cocok ditujukan kepada diri saya sendiri.. he... he...]

A professor from Japan told me the reason why workers in Japan and Singapore work harder than workers in other countries. This is because they are aware of the importance of hardworking — since they realized that their countries do not have enough natural resources. This awareness is believed as a driving force for the hardworking culture.
What are you looking for in your career?
Kalimat di atas merupakan motto dari Institut Teknologi Bandung, almamater saya, yang bermaksud “kemajuan dalam harmoni”. Artinya kita maju bersama-sama dengan penuh kerukunan. Hal ini didasarkan kepada arti daripada kata ‘harmoni’. Harmoni istilah berasal dari Yunani ἁρμονία (Harmonia), yang berarti “bersama, kesepakatan, kerukunan”. Dalam musik, harmoni sangat diperlukan supaya musik tersebut memberikan nada yang ‘enak’ didengar. Enak didengar? Ada kalanya musik tertentu enak didengar oleh kita tapi tidak enak didengar oleh orang lain. Ada yang suka jazz, ada yang suka dangdut.
Saya mengenal beberapa orang kawan yang sangat bersemangat dan berkeinginan sangat kuat untuk mencapai ketenaran dan kekuasaan. Kawan-kawan ini adalah pekerja keras dan selalu mencari peluang untuk mencapai tujuan tersebut, walaupun kadang-kadang banyak tindakan mereka tidak disukai orang. Dengan kata lain, ambisi kadang-kadang dapat menyebabkan kita mengambil jalan pintas sehingga mengorbankan integritas dan nilai-nilai moral.
Tulisan ini adalah ringkasan dari artikel yang ditulis oleh Prof. Shahul Hameed yang tulisan aslinya dapat di baca di
Judul tulisan yang mungkin hanya dimengerti oleh orang yang mengerti bahasa Minang, yang artinya adalah lebih kurang “pandai menjadi orang bawahan yang disukai oleh atasan“. [induak samang = bos ]