Archive for the ‘Moral’ Category

Serakah

Sunday, July 4th, 2010

hadi_2010

[Di bawah ini adalah rantaian kata-kata dari status seorang kawan di Facebook]

Duhai diriku
Hati-hati dengan sifat serakah yang ada dalam dirimu
Kenapa?
Karena sifat serakahmu akan membutakan hati dan akalmu
Engkau tidak akan peduli berhadapan dengan siapapun
Sifat serakahmu akan menghilangkan sifat kasih sayangmu
Dan engkau akan selalu mencari pembenaran bukan kebenaran

Kaderisasi dan promosi

Monday, June 28th, 2010

Baru saja saya membaca harian Kompas yang terbit hari ini: “Harian Kompas kembali memberikan penghargaan kepada lima cendekiawan berdedikasi”. Salah satu penghargaan diberikan kepada Prof. Bambang Hidayat, Kepala Observatorium Bosscha ITB di Lembang selama 31 tahun. Kemudian dari artikel yang saya baca di harian Kompas tersebut ada komentar dari pembaca “.…bertahun-tahun hanya satu-satunya profesor di jurusan Astronomi ITB. Pengkaderan yang buruk dari Bambang Hidayat…“.

Saya rasa di luar kemampuan beliau dalam bidang akademik yang memang boleh dibanggakan, beliau  gagal dalam mendidik dan mengkader dosen-dosen muda di jurusan astronomi ITB untuk menjadi profesor seperti beliau. Setahu saya, sampai beliau pensiun tahun 2004, tidak ada lagi profesor selain beliau yang di jurusan astronomi ITB, padahal banyak dosen-dosen muda yang cukup potensial. Jika pada waktu itu tidak layak, tentu perlu dibantu dan didorong untuk mencapai syarat-syarat menjadi profesor.

Tulisan ini mungkin bisa menjadi refleksi bahwa tujuan menjadi seorang dosen tidaklah semata-mata menjadi peneliti, tetapi juga sebagai pendidik. Bukan saja mendidik mahasiswa, tetapi juga melakukan kaderisasi dalam bidang ilmu.

Kecerdasan spiritual, Key Performance Indicator yang dilupakan

Sunday, June 27th, 2010

kecerdasanKPI atau Key Performance Indicator adalah alat yang digunakan untuk pengukuran kuantitatif, yang digunakan sebagai alat penentu keberhasilan suatu organisasi. Sebagai contoh, dalam bisnis, persentase pendapatan yang berasal dari pelanggan dapat merupakan sebuah Key Performance Indicator. Di sekolah menengah, tingkat kelulusan siswa dapat dipakai sebagai Key Performance Indicator. Di universitas, jumlah publikasi ilmiah, perbandingan jumlah dosen yang mempunyai PhD dengan mahasiswa dapat digunakan sebagai Key Performance Indicator.

Dalam tingkat individual, dalam kehidupan, juga ada cara mengukur kemampuan seseorang dengan apa yang disebut sebagai:
- Intelligence Quotient (IQ), yang digunakan untuk memecahkan masalah logis.
- Emotional Quotient (EQ), yang digunakan untuk menilai situasi disekeliling kita untuk berperilaku secara tepat.
- Spiritual Quotioent (SQ), yang memungkinkan kita untuk mempertimbangkan dan bertanya apakah kita ingin berada dalam suatu keadaan atau situasi yang akan kita hadapi, secara spiritual.

Ketika kita menghadapi kesulitan, IQ bersandar pada kekuatan kita mengatasi masalah dengan kemampuan analitis; EQ bersandar pada kekuatan dan keberanian emosional kita serta kepercayaan diri; sedangkan SQ bersandar pada “kekuatan yang tidak terbatas”. Bagi orang yang beragama, kekuatan ini dapat disebut sebagai “keimanan”. Konsep SQ diperkenalkan oleh Dana Zohar dan Ian Marshall sebagai salah satu dimensi baru kecerdasan manusia, yang mereka klaim sebagai kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia.

Berdasarkan keterangan di atas, melihat KPI-KPI yang ada dalam organisasi kita, apakah kita pernah berpikir “Apakah pekerjaan yang telah saya jalani telah memenuhi kebutuhan spiritual saya?”, “Apakah hubungan saya dengan orang-orang dalam organisasi dimana saya bekerja telah telah memberikan kebahagiaan kepada saya dan juga kepada mereka?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan hanya mengandalkan IQ dan EQ saja. Kita perlu SQ yang tinggi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena SQ yang tinggi diperlukan untuk mencapai kebahagiaan, ketenangan, harga diri yang baik, dan hubungan harmonis di antara manusia.

Apakah kita pernah memikirkan hal di atas untuk kehidupan organisasi kita?

Uang atau status?

Saturday, June 19th, 2010

“New studies show that money and social values are processed in the same brain region, providing insight into how we make choices”

Seorang Guru Besar/Profesor di Universitas Indonesia yang selalu bersepeda bukannya menggunakan mobil mewah ke kampus. Mana yang menjadi simbol status, mobil atau gelar?

Seorang Guru Besar/Profesor di Universitas Indonesia yang selalu menggunakan sepeda bukannya menggunakan mobil mewah ke kampus. Mana yang menjadi simbol status, mobil atau gelar?

Pernyataan dan foto di atas mempunyai makna yang dalam mengenai cara kita memandang harta dan juga status sosial. Saya melihat dunia (pendidikan) sekarang ini lebih mementingkan kebendaan dan status simbol dibandingkan dengan moral. Kadang-kadang kita lupa bahwa tujuan kita mendirikan universitas adalah untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai ilmu dan juga bermoral. Kita lupa makna dari kata “pendidikan tinggi”, lupa dengan tujuan kita mendidik mahasiswa supaya mempunyai moral integrity yang baik. Kita lebih banyak menggunakan “cosmetics“, yang hanya membuat kita cantik dan gagah kalau dilihat dari “luar”.

How to be successful: play your cards right!

Sunday, May 23rd, 2010

egocentricI know some people who are considered successful in their career. People who are good at playing their cards in finding opportunities to succeed and be famous. People are very egocentric and self-centered. Always working hard to achieve something and is always looking ways to promote themselves, anywhere and anytime. Sometimes promote excessively their work. Although all these achievements are not ‘great’, but they know how to update and sell their achievements.

Unfair as it may seem. However, this is reality of life. If you know the trick, play your cards right!  However, history has proven that people who opportunistic will not be remembered and will be quickly forgotten by society, because they do not provide benefits to the community.

Sukses bermoralnya Arifin Panigoro

Friday, May 7th, 2010

Buku ini dihadiahkan kepada saya oleh Prof. Raldi Antono Koestoer, profesor di jurusan Teknik Mesin, Universitas Indonesia, ketika beliau berkunjung ke Universiti Teknologi Malaysia pada 21 April 2010. Beliau mengatakan bahwa beliau ingin “meracuni” saya dengan virus “Technopreneur”.

“Sejuta kawan kurang, satu lawan jangan” merupakan salah satu kunci dari keberhasilan Dr. Arifin Panigoro yang mendapatkan Doktor Honaris Causa dari Institut Teknologi Bandung pada bulan Januari 2010. Prinsip yang menurut saya bukan saja diperlukan pada dunia bisnis, tetapi juga pada dunia sehari-hari. “Janganlah sekali-kali menyakitkan hati orang lain”, mungkin adalah prinsip yang boleh dipegang dalam pertemanan. Apa salahnya menahan diri untuk tidak menyampaikan sesuatu yang nantinya akan menyakitkan hati orang lain.

Ternyata prinsip berbisnis itu adalah cultural matters, seperti yang disampaikan oleh Jacob Oetama dalam kata pengantar buku Dr. Arifin Panigoro. Budaya, tata nilai, sikap, kerja keras, penghargaan, hemat dan jujur adalah beberapa pokok-pokok yang digunakan dalam keberhasilan.

Saya jarang sekali melihat orang yang “sukses” dalam arti kata sebenarnya, yaitu sukses dalam pandangan “moral”. Banyak di antara yang dianggap sukses, namun jarang yang sukses dalam mencapai integritas “moral” yang baik. Banyak orang-orang yang masih bermental “menerabas”, yaitu mental ingin mencapai sesuatu dengan mengabaikan nilai-nilai “moral”.

That's life

Sunday, May 2nd, 2010

That’s life, are the words that came out from our mouth when we are facing with the problem. Depending on how we deal with the problem, we can assume that the problem of life is actually a ‘game of life’. The game of life can be considered seriously or just as a game. So, the key is, if we see everything is a heavy burden, it would be difficult to handle. But if you look at them as a light burden, then, they become easy to handle – like the above funny cartoon which I found in the internet.

Sugih tanpa banda

Sunday, March 14th, 2010

Sugih tanpa banda = kaya tanpa harta

Zaman yang konsumtif yang penuh dengan kebendaan dan keduniawian ini, ungkapan di atas mungkin tujuannya hanya untuk menyenangkan hati orang yang miskin — hanya sebagai pelipur lara. Apa iya ada orang merasa kaya tanpa harta?

Kata-kata di bawah ini juga kata-kata pelipur lara bagi yang miskin.

Saya.. saya.. dan saya..

Thursday, March 4th, 2010

maslowbaru1-300x259

[renungan dan nasehat untuk diri sendiri]

Jadi ingat dengan sebuah teori dalam ilmu psikologi, yang menyatakan bahwa jika kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan memiliki dan cinta, dan kebutuhan penghargaan sudah terpenuhi dan terpuaskan, barulah kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan aktualisasi diri, menurut teori tersebut, yang biasa disebut dengan Teori Kebutuhan Maslow, merupakan suatu kondisi puncak dari perkembangan individu. Apa ciri-ciri orang yang masih belum sampai pada tahap ini? Salah-satunya adalah selalu mengatakan… saya.. saya.. saya dan saya. Maksudnya adalah, orang tersebut selalu berusaha menarik perhatian orang lain dengan menyampaikan prestasi-prestasi yang telah diraihnya kepada orang lain — baik melalui media massa, mailing list ataupun melalui pembicaraan sehari-hari. “Lihatlah kehebatan saya”, “lihatlah hasil karya saya”, “kalau tidak ada saya…” merupakan sebahagian dari perkataan yang memperlihatkan bahwa orang yang mengatakan hal tersebut masih merasa belum diakui oleh orang lain (atau memang benar-benar belum diakui). Inilah bukti bahwa kebutuhan orang tersebut terhadap penghargaan masih belum terpenuhi dan terpuaskan. Orang ini sebenarnya masih belum mempunyai “kearifan”.

[setelah membaca tulisan ini, istri saya mengatakan bahwa saya juga sering mengatakan.. "saya.. saya.. dan saya..". Jadi, tulisan ini memang cocok ditujukan kepada diri saya sendiri.. he... he...]

Sisi manusiawi kasus Century dan plagiat Prof. Banyu

Saturday, February 27th, 2010

[Sebuah renungan]

Ada dua peristiwa yang menjadi perhatian saya akhir-akhir ini, yang banyak diberitakan di media massa di Indonesia yang melibatkan dua orang tokoh. Pertama, kasus Bank Century yen melibatkan Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Boediono. Kedua kasus plagiat yang menimpa Prof. Anak Agung Banyu Perwita, dosen di Universitas Katolik Parahyangan.

Saya dapat membayangkan tekanan yang dirasakan oleh kedua orang ini. “Cobaan itu bagian dari hidup. Hidup itu mengandung risiko. Kalau hidup tidak mau risiko, ya tidak usah hidup,” kata Boediono. Jika dikembalikan dalam pandangan agama, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, dan keadilan yang benar-benar adil hanya ditemukan di akhirat. Inilah yang harus menjadi pegangan dalam hidup.