Catatan Hadi Nur » Moral

Archive for the ‘Moral’ Category

That's life

Sunday, May 2nd, 2010

That’s life, are the words that came out from our mouth when we are facing with the problem. Depending on how we deal with the problem, we can assume that the problem of life is actually a ‘game of life’. The game of life can be considered seriously or just as a game. So, the key is, if we see everything is a heavy burden, it would be difficult to handle. But if you look at them as a light burden, then, they become easy to handle – like the above funny cartoon which I found in the internet.

Sugih tanpa banda

Sunday, March 14th, 2010

Sugih tanpa banda = kaya tanpa harta

Zaman yang konsumtif yang penuh dengan kebendaan dan keduniawian ini, ungkapan di atas mungkin tujuannya hanya untuk menyenangkan hati orang yang miskin — hanya sebagai pelipur lara. Apa iya ada orang merasa kaya tanpa harta?

Kata-kata di bawah ini juga kata-kata pelipur lara bagi yang miskin.

Saya.. saya.. dan saya..

Thursday, March 4th, 2010

maslowbaru1-300x259

[renungan dan nasehat untuk diri sendiri]

Jadi ingat dengan sebuah teori dalam ilmu psikologi, yang menyatakan bahwa jika kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan memiliki dan cinta, dan kebutuhan penghargaan sudah terpenuhi dan terpuaskan, barulah kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan aktualisasi diri, menurut teori tersebut, yang biasa disebut dengan Teori Kebutuhan Maslow, merupakan suatu kondisi puncak dari perkembangan individu. Apa ciri-ciri orang yang masih belum sampai pada tahap ini? Salah-satunya adalah selalu mengatakan… saya.. saya.. saya dan saya. Maksudnya adalah, orang tersebut selalu berusaha menarik perhatian orang lain dengan menyampaikan prestasi-prestasi yang telah diraihnya kepada orang lain — baik melalui media massa, mailing list ataupun melalui pembicaraan sehari-hari. “Lihatlah kehebatan saya”, “lihatlah hasil karya saya”, “kalau tidak ada saya…” merupakan sebahagian dari perkataan yang memperlihatkan bahwa orang yang mengatakan hal tersebut masih merasa belum diakui oleh orang lain (atau memang benar-benar belum diakui). Inilah bukti bahwa kebutuhan orang tersebut terhadap penghargaan masih belum terpenuhi dan terpuaskan. Orang ini sebenarnya masih belum mempunyai “kearifan”.

[setelah membaca tulisan ini, istri saya mengatakan bahwa saya juga sering mengatakan.. "saya.. saya.. dan saya..". Jadi, tulisan ini memang cocok ditujukan kepada diri saya sendiri.. he... he...]

Sisi manusiawi kasus Century dan plagiat Prof. Banyu

Saturday, February 27th, 2010

[Sebuah renungan]

Ada dua peristiwa yang menjadi perhatian saya akhir-akhir ini, yang banyak diberitakan di media massa di Indonesia yang melibatkan dua orang tokoh. Pertama, kasus Bank Century yen melibatkan Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Boediono. Kedua kasus plagiat yang menimpa Prof. Anak Agung Banyu Perwita, dosen di Universitas Katolik Parahyangan.

Saya dapat membayangkan tekanan yang dirasakan oleh kedua orang ini. “Cobaan itu bagian dari hidup. Hidup itu mengandung risiko. Kalau hidup tidak mau risiko, ya tidak usah hidup,” kata Boediono. Jika dikembalikan dalam pandangan agama, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, dan keadilan yang benar-benar adil hanya ditemukan di akhirat. Inilah yang harus menjadi pegangan dalam hidup.

Awareness of the need to hard work

Wednesday, February 24th, 2010

A professor from Japan told me the reason why workers in Japan and Singapore work harder than workers in other countries. This is because they are aware of the importance of hardworking — since they realized that their countries do not have enough natural resources. This awareness is believed as a driving force for the hardworking culture.

On November 2008, I attended a training on the electron microscope conducted at JEOL company factory in Tachikawa, Tokyo. During training, I really felt the spirit and hard working of Japanese workers. This training was also attended by three other participants from King Saud University, Saudi Arabia. Mr. Kenji Ohara, our trainer from JEOL, very surprised to know that the laboratory at King Saud University is opened only from 8:30 am to 2:30 pm. At Hokkaido University and National University of Singapore, two prestigious universities in the world, the laboratories are opened for 24 hours. So, what about us?

Lecturer politician

Monday, February 15th, 2010

What are you looking for in your career?

If you are a lecturer, of course your ultimate goal is to get professorship.

If you’re a politician, certainly your goal is to become a leader; minister, president or prime minister.

Based on the above two terms; lecturer and politician, I created a new term called lecturer politician. This term is created in order to describe someone who has no intention to become an educator, albeit he is a lecturer. The lecturer politicians use their academic status (lecturer, associate professor or professor) as a vehicle in the pursuit of power, like a politician does. Their intention is not to be a good teacher and researcher, but to seek power and fame. Is this wrong intentions? The answer is actually no, because everyone is free to dream what they want to be in their future life. Usually a lecturer politician is not interested in teaching.

I once read somewhere, that teaching and research are multiplicative, and not additive, factors in one’s stature as a scientist. This means that you are a zero as a scientist if you cannot teach. Of course, it also means that you are a zero as a scientist if you do not do research. Based on this consideration, a lecturer politician is not a scientist. Usually they are just a “clever scholar” who merely quotes an opinion or ideas of other scholars. So, what is the contribution of lecturer politicians in academic world?

This page was inspired by the real existing people called the lecturer politicians, but none of these descriptions refer to one single existing person. With the existence of people like this, one argues that there is must be something wrong with our university system, for example, academic promotion without considering the actual academic achievement.

Thief shouting thief

Tuesday, February 9th, 2010

Thief shouting thief. This term describes a hypocrite. Recently I found an article about this in kompasiana.com:

http://edukasi.kompasiana.com/2010/02/04/profesor-plagiator-maling-teriak-maling/

This is a case of plagiarism by an Indonesian professor. Embarrassingly, this case was found in the university, an educational institution.

Based on the above case, the following questions arise: Why plagiarism was more pronounced in the field of social science? Why is there no original opinions presented by the local scholars? The answer is the local scholars never do original research. Most of the literature on Indonesia is written by scholars from the west. Please browse the ‘google scholar‘ in order to prove this statement. Many of the social science scholars in Indonesia are only cleverly quoting the opinions of others, especially from the opinion of western scholars.

In general, there are three things that motivate people to perform plagiarism and scientific fraud:

Pressure to achieve a good career.

Trying to answer the research questions effortlessly without needed to perform any experiments in laboratory.

Working in the field where the experiment has not always been reproducible. This may explain why scientific fraud occurs frequently in biological and biomedical fields, because it is difficult to get data that can be reproducible, because in this area, the experiment results depend on many factors which is difficult to control.

Smart, honest and loyal to the government

Saturday, February 6th, 2010

If I am not mistaken, a researcher from the Indonesian Institute of Sciences (LIPI) wrote an article on the character of the government officials in Indonesia. The researcher say that there are three characters of the government officials in Indonesia; smart, honest (not corrupt) and loyal to the government. However, none of the government officials have all three of these characters at once. If he is smart and honest, he is not loyal to the government. Usually the government officials are stupid, if they are honest and loyal to the government. He is corrupt, if he is smart and loyal to government.

In Harmonia Progressio

Wednesday, February 3rd, 2010

Kalimat di atas merupakan motto dari Institut Teknologi Bandung, almamater saya, yang bermaksud “kemajuan dalam harmoni”. Artinya kita maju bersama-sama dengan penuh kerukunan. Hal ini didasarkan kepada arti daripada kata ‘harmoni’. Harmoni istilah berasal dari Yunani ἁρμονία (Harmonia), yang berarti “bersama, kesepakatan, kerukunan”. Dalam musik, harmoni sangat diperlukan supaya musik tersebut memberikan nada yang ‘enak’ didengar. Enak didengar? Ada kalanya musik tertentu enak didengar oleh kita tapi tidak enak didengar oleh orang lain. Ada yang suka jazz, ada yang suka dangdut.

Dalam kepemimpinan, seseorang yang telah terpilih atau dipilih sebagai pemimpin haruslah mengetahui ‘harmoni’ yang tepat dalam melaksanakan kepemimpinannya. Pemimpin tersebut haruslah memperhatikan ‘harmoni’ yang dapat diterima oleh banyak orang dalam menjalankan kepemimpinannya. Mampu memainkan harmoni yang baik inilah yang menyebabkan seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin yang baik. Tidak ada gunanya memainkan ‘harmoni’ atau ‘lagu’ sendiri tetapi tidak disukai oleh kebanyakan orang lain. Alhasil, semua target akan berantakan.

In harmonia progressio!

Ambisi

Sunday, January 24th, 2010

ambitionSaya mengenal beberapa orang kawan yang sangat bersemangat dan berkeinginan sangat kuat untuk mencapai ketenaran dan kekuasaan. Kawan-kawan ini adalah pekerja keras dan selalu mencari peluang untuk mencapai tujuan tersebut, walaupun kadang-kadang banyak tindakan mereka tidak disukai orang. Dengan kata lain, ambisi kadang-kadang dapat menyebabkan kita mengambil jalan pintas sehingga mengorbankan integritas dan nilai-nilai moral.

Walaubagaimanapun, ambisi tersebut dapat menjadi dorongan yang tidak merusak. Di bawah ini adalah beberapa cara untuk mengarahkan ambisi menjadi hal yang positif:

Gunakan ambisi untuk memanfaatkan kesempatan

Dengan ambisi kita dapat melihat cara-cara untuk melakukan hal-hal yang berbeda dan inovatif. Ini mungkin dengan mengembangkan penemuan-penemuan baru. Melakukan hal-hal yang berbeda dapat menjadi suatu kekuatan untuk melakukan kebaikan. Pengusaha sukses seperti Bill Gates, manusia terkaya di dunia, merupakan contoh orang yang menyalurkan ambisi mereka dalam mencari peluang-peluang baru.

Gunakan ambisi sebagai alat untuk perubahan

Jika kita berkesempatan menjadi pemimpin, kita dapat menggunakan ambisi ini untuk melakukan perubahan positif. Seorang pemimpin yang baik dapat mengindentifikasi keperluan untuk perubahan yang positif untuk kebaikan organisasi. Beberapa orang kawan saya gagal memanfaatkan peluang ini. Mereka malah memanfaatkan kekuasaan ketika mereka memimpin. Mereka lebih mementingkan ambisi pribadi daripada organisasi. Orang seperti boleh jadi dapat sukses dalam mencapai ambisi pribadi namun gagal sebagai pemimpin, dan akhirnya banyak dihujat oleh banyak orang.

Gunakan ambisi sebagai alat untuk pertumbuhan pribadi

Ambisi dapat menjadi keinginan untuk berprestasi. Oleh karena itu ambisi dapat menjadi alat pendorong untuk mencapai impian. Orang-orang seperti ini biasanya adalah orang yang selalu belajar dan bekerja dengan keras untuk mengembangkan kemampuannya.