Catatan Hadi Nur » Pendidikan

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Apakah universitas kita beretika?

Sunday, June 21st, 2009

Tulisan ini saya tulis setelah membaca review dari buku yang berjudul “The Decline of the Secular University” yang diterbitkan tahun 2006, yang ditulis oleh Prof. C. John Sommerville, Emeritus Profesor dalam bidang sejarah dari University of Florida. Apa yang menarik adalah, Prof. Sommerville menyatakan bahwa universitas-universitas di Amerika adalah universitas sekular yang tidak lagi memperhatikan aspek rohani dan spiritual. Bertolak dari pandangan tersebut saya mencoba mengaitkannya dengan etika, karena saya beranggapan bahwa jika aspek rohani dan spiritual ini tidak ada, maka kita juga cenderung tidak mengabaikan etika. Walau bagaimanapun juga etika (ethics) juga dapat berjalan tanpa adanya aspek rohani dan spiritual, tetapi etika tersebut tidak mempunyai ‘ruh’ spiritual. Yang ada hanyalah sekumpulan peraturan-peratauran (code of ethics) yang tidak mempunyai asas yang kukuh. Ada baiknya semua peraturan-peraturan tersebut dilandaskan kepada ’sesuatu’ yang boleh menjadi ‘guideline‘ yang lebih kokoh, yaitu rohani dan spiritual. Dengan kata lain dalam bahasa Inggris dapat saya sebutkan bahwa “university needs religion because only religious people follow a moral codes“.

Saya melihat bahwa banyak universitas-universitas di dunia, oleh karena berbagai sebab, terutama karena persaingan untuk mendapatkan pengiktirafan atau prestise, mereka berani melanggar etika-etika akademik yang banyak dipakai dan diterima oleh dunia akademik, dan banyak yang sanggup menampilkan prestasi-prestasi yang sebenarnya bukan ‘prestasi akademik’ untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka adalah universitas yang hebat.

Jadi apa yang dapat saya sarankan adalah, universitas-universitas harus melihat “academics ethics‘ dari sudut pandang rohani dan spiritual. Hal ini haruslah disampaikan kepada seluruh staf akademik, sehingga mereka dapat melihat rambu-rambu dalam menjalankan aktivitas teaching and research. Menurut saya hal ini harus disampaikan, mungkin dalam bentuk workshop atau seminar. Para mahasiswa juga wajib mengikuti kegiatan ini selama mereka melakukan research di universitas. Banyak contoh-contoh yang menurut sebahagian orang kecil, namun bagi saya merupakan masalah etika yang mempunyai impak yang besar. Sebagai contoh kecil, seorang pembimbing dengan gagahnya meletakkan namanya paling depan di publikasi ilmiah, padahal dia tahu bahwa semua kegiatan research tersebut dari membuat proposal, mendapatkan data dan membuat publikasi ilmiah tersebut adalah mahasiswanya. Alangkah beretika jika pembimbing tersebut meletakkan nama mahasiswa tersebut paling depan, karena dialah yang mempunyai kontribusi paling banyak dari publikasi tersebut. Patut diingat, bahwa para mahasiswa kita, mungkin pada masa yang akan datang juga menjadi profesor dan ilmuwan. Mereka mungkin akan lebih hebat dari pembimbing mereka. Sebaiknyalah kita tidak merusak nama kita dengan hal-hal kecil seperti ini — yang hanya untuk kepentingan naik pangkat dan prestise.

Nah, bagi pembaca blog ini, terutama staf akademik dan juga mahasiswa, dapat merasakan dan menjawab pertanyaan dari judul tulisan saya “Apakah universitas kita beretika?”

Membumikan universitas

Friday, February 6th, 2009

“…the mission of university and its commitment are to the present and future generations, safeguarding the prosperity and welfare of the world with the best in education and scientific research. Not just for ’superficial’ ranking.”

Kalimat di atas mungkin adalah misi dan tujuan ideal universitas didirikan. Mau tidak mau harus demikian adanya. Namun kadang-kadang tujuan itu telah keluar jalur karena tekanan terhadap universitas sebagai ‘barang ekonomi’ yang juga harus laku ‘dipasaran’. Membaca ceramah Prof. Wiranto Arismunandar (mantan rektor ITB) ketika memberikan ceramah dalam diskusi akbar mendongkrak world rank ITB di Aula Timur ITB pada 10 Mei 2008, saya menjadi ‘tersentuh’ dengan kearifan berpikir Prof. Wiranto — yang membuat saya keluar dari belenggu ‘kepanikan’ dan ‘keperluan’ sebuah universitas masuk dalam world ranking. Makalah lengkap beliau dapat diakses di sini. Ini adalah petikan dari paragraf pertama dari makalah beliau:

Keinginan dan cita-cita menjadi World Class University (WCU) sangatlah mulia, tetapi hendaknya tidak membuat kita risau, panik, seolah-olah itu yang paling penting dan menjadi taruhan. Kita boleh risau jika ITB dianggap tidak diperlukan, tidak bermanfaat dan tidak mengabdi pada pembangunan bangsa Indonesia. Mereka yang membuat ranking WCU pasti memiliki maksud dan rencana tertentu serta tidak terlepas dari berbagai kepentingan, dan karena itu, tidak perlu dirisaukan. Bisnis, penerimaan mahasiswa baru, politik, sosial, ekonomi, dan berbagai kepentingan lain, boleh jadi merupakan beberapa di antara banyak alasan yang melandasi pemikiran tersebut. Hendaknya isu tersebut tidak membuat kita cemas dan lemah, terperangkap dan terbelenggu. ITB hendakya terlebih dahulu berguna dan berjasa bagi pembangunan masyarakat bangsa Indonesia dan ikutserta menyelesaikan masalah bangsa. ITB hendaknya menjadikan dirinya andalan dan kekuatan bangsa yang harus mengatasi berbagai tantangan, supaya menjadi bangsa yang sejahtera, terhormat dan mandiri. ITB hendaknya menjadi kebanggaan serta menjaga kehormatan bangsa Indonesia. Itulah sebabnya kita harus lebih bersungguh-sungguh dan fokus dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita masing-masing. Dengan demikian dapat diperoleh hasil yang lebih baik serta melakukan penyempurnaan dan perbaikan secara berkelanjutan (continuous improvement). Dalam hal tersebut hendaknya melekat rasa dan semangat kebangsaan yang tinggi supaya kita makin menyadari bahwa ada misi yang diemban, yaitu membangun bangsa yang kuat dan mandiri. Jika kemudian ITB mendapatkan pengakuan dan penghargaan sebagai WCU, maka bersyukurlah dan lebih bersemangat memberikan pengabdian yang terbaik kepada bangsa yang kita cintai ini. Janganlah kita sekadar berambisi mencapai ranking yang tinggi, tetapi tidak bermanfaat dan tidak berbuat apa pun bagi pembangunan nusa dan bangsa Indonesia.

Apa yang dapat saya simpulkan dari pemikiran Prof. Wiranto adalah; adalah lebih penting untuk ‘membumikan universitas’, karena yang diperlukan oleh masyarakat dan bangsa adalah manfaat dari universitas tersebut.

Realitas dan harapan yang selangit

Sunday, February 1st, 2009

Beberapa hari yang lalu saya membaca di surat kabar ucapan seorang rektor sebuah perguruan tinggi (kecil) di Malaysia yang mengatakan bahwa bukan mustahil universitas yang dipimpinnya menghasilkan penerima hadiah Nobel — (hmm.. berapa persen kemungkinannya? apakah 10% ataukah 0.000000000001%?) Beliau mengatakan bahwa ukuran (kecil) bukan menjadi halangan untuk menghasilkan penerima hadiah Nobel seperti yang telah dilakukan oleh California Institute of Technology (Caltech). Namun beliau lupa akan dua hal: pendanaan dan juga publikasi ilmiah (yang ujung-ujungnya juga bermuara dengan dengan budaya ilmiah). Bagi hal yang terakhir ini, di bawah ini adalah artikel menarik yang menyatakan bahwa Google’s PageRank dapat memprediksikan seseorang itu mempunyai peluang mendapatkan Nobel atau tidak dari publikasi ilmiahnya. Terdapat korelasi yang kuat antara publikasi ilmiah dengan kemungkinan seseorang tersebut mendapatkan hadiah Nobel.

How Google’s PageRank predicts Nobel Prize winners

“The pattern of citations between scientific papers forms a network that has remarkable similarities to the network formed by the web. So why not use Google’s PageRank, the world’s most effective search algorithm to rank these papers in the same way it ranks websites? That’s exactly what a couple of US researchers have done for physics papers published by the American Physical Society since 1893 (abstract). The results make interesting reading because almost all of the top ten papers resulted in (or were linked to) Nobel Prizes for their authors. Which means that studying the up-and-coming entries on the list ought to be a good way of predicting future winners. Better get your bets in before the bookies get wind of this.”

Artikel lengkapnya dapat dibaca di http://arxivblog.com/?p=1123

Mendapatkan citation lebih dari 100 saja luar biasa susah, apalagi sampai 1000 — (karena setahu saya tidak satupun saintis dirantau ini yang salah satu publikasinya mempunyai citation lebih daripada 1000). Bagaimanapun, walaupun cara ini banyak kelemahannya, setidak-setidaknya kita harus sadar bahwa untuk mencapai excellence itu tidak semudah yang dibayangkan — kita harus bercermin kepada kemampuan kita dan mempertanyakan “apakah kita sudah mampu (atau siap kearah itu) untuk mencapainya?”. Agaknya kita perlu menyesuaikan antara realitas dan harapan (yang selangit). Kalau tidak — hanya menjadi impian kosong saja.

THES ranking yang memihak kepada universitas yang kaya

Saturday, January 24th, 2009

Rektor dari sebuah universitas negeri di Padang pernah menulis bahwa ia ingin membawa universitas yang dipimpinnya menjadi World Class University. Saya menjadi berpikir, apakah yang dimaksudkan dengan World Class University oleh rektor tersebut, apakah ingin seperti Harvard University, Pricenton University ataukah hanya ingin seperti Calcutta University di India? Minggu lalu, saya menghadiri satu hari workshop mengenai strategi UTM untuk meningkatkan ranking di THES. Kriteria untuk menjadi world class/top university menurut THES adalah sebagai berikut:

criteria.jpg

Setelah melihat ranking dari 100 universitas yang paling top di dunia dan membandingkan dengan endownment yang diterima oleh universitas-universitas top tersebut, barulah saya sadar bahwa untuk masuk dalam 100 universitas yang paling top adalah tidak mungkin. Harvard university, universitas paling top di dunia mempunyai endownment lebih dari  $30 billion pertahun. Rata-rata universitas top mempunyai endownment lebih dari $1 billion pertahun. Jadi, jelas sekali bahwa ranking ini memihak hanya kepada universitas-universitas yang kaya. Bagaimana pendapat anda? Apakah kita perlu membuat kriteria baru menilai kualitas dari universitas?

Kita ini adalah 'problem seeker'

Friday, December 26th, 2008

Itu adalah kalimat yang saya sampaikan ketika menjadi penilai proposal penelitian staf dosen UTM yang mengikuti kursus untuk melanjutkan studinya pada 23 Desember yang lalu. Tidak jelas apa masalah yang akan diteliti di dua proposal yang saya baca dan nilai tersebut. Kadang-kadang para mahasiswa (terutama dalam bidang sains) tidak mengerti bahwa sebenarnya memformulasikan masalah adalah tahapan yang sangat penting dari suatu penelitian. Jika masalah diformulasikan dengan baik — penelitian akan dengan ‘mudah’ dilakukan. “We are a problem seeker” — itulah kalimat yang paling tepat. Proposal yang baik selalu didasarkan kepada ‘scientific issue‘, bukannya hanya sekedar membuktikan “sesuatu itu” salah atau benar atau hanya sekedar meningkatkan ‘performance‘ suatu teknik atau metoda. Hal-hal yang kadang-kadang juga tidak dimengerti oleh sebagian dosen-dosen yang membimbing mahasiswa. Bagaimanapun juga, topik-topik yang baik selalunya keluar dari para peneliti yang berpengalaman. Berpengalaman bekerja di laboratorium dan juga membimbing mahasiswa. Seharusnya dosen menjadi tempat bertanya. Banyak dosen-dosen kawan saya disini yang hanya bergantung kepada mahasiswa — bukan sebaliknya. Kenapa demikian, ini karena para dosen tidak lagi berakar di laboratorium. Para dosen dan para profesor telah meninggalkan dunia penelitian yang sebenarnya — ‘they are flying away‘ kata Profesor Dieter Freude dari Leipzig University kepada saya.

Budaya ilmu masih tidak nampak

Thursday, December 25th, 2008

Tahun ini saya menghadiri dua seminar International, satu di Australia (International Conference On Nanoscience and Nanotechnology di Melbourne pada bulan Februari) dan satu lagi di Malaysia (International Graduate Conference on Science and Engineering, di UTM Johor Bahru kemaren). Saya hanya membandingkan dari aspek ‘budaya ilmu” yang direfleksikan dari kedua seminar tersebut, walaupun dua seminar ini tidak dapat dibandingkan dari segi kualitas paper yang dipresentasikan dan juga orang-orang yang datang menghadiri seminar tersebut.

Sewaktu di Australia, hampir semua sesi penuh dengan peserta-peserta yang mendengarkan presentasi. Para pesertapun aktif bertanya sewaktu seminar dan berdiskusi waktu jam istirahat. Di sini, peristiwa yang sama tidak terjadi. Hanya 6 dari 8 peserta yang datang — beberapa peserta hanya datang pada saat sesi mereka, kemudian hanya 2 orang peserta selain presenter yang ikut mendengarkan seminar sewaktu saya menjadi chairman dari salah satu sesi pada pagi hari. Padahal dari catatan buku abstrak lebih dari 200 peserta yang memberikan oral presentation di beberapa sesi paralel. Kemana para peserta yang lain? Tapi bagi saya kesimpulannya adalah ‘budaya ilmu masih belum nampak (ada)’.

Di bawah ini adalah situasi seminar ketika saya menjadi chairman.

24122008422.jpg

Mentalitas profesional seorang profesor

Wednesday, December 10th, 2008

Sejak saya dipromosikan sebagai associate professor banyak kawan-kawan saya memanggil saya “prof”, suatu gelaran yang kadang-kadang membuat saya malu dan bertanya: “Layakkah saya dipanggil dengan gelar itu?”. Saya malu karena saya merasa mentalitas saya tidaklah mencermin kualitas profesional seorang profesor ‘yang sebenarnya’ — kalau tidak dikatakan ‘profesor kampung’ yang hanya jago bertanding dikandang sendiri. Tulisan ini betujuan untuk menggambarkan sikap dan mentalitas yang perlu dipunyai oleh seorang profesor. Saya akan berusaha kearah itu, Insya Allah.

Mentalitas Mutu
Inilah ciri utama dari seorang profesor yang profesional, yaitu mementingkan kualitas daripada kuantitas. Silahkan baca tulisan saya yang berjudul Quantity or Quality? pertanyaan yang saya coba jawab pada tulisan saya tersebut. Menurut saya seseorang tidaklah layak menjadi seseorang profesor jika dia hanya mengandalkan kuantitas saja — apakah karena telah mengajar selama puluhan tahun tanpa sembarang hasil penyelidikan yang berkualitas layak dihargai sebagai profesor?

Mentalitas Altruistik
Inilah mentalitas kedua yang harus dipunyai oleh seorang profesor — setelah dia memenuhi mentalitas mutu di atas. Mentalitas ini didorong oleh pengabdian untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmu yang dipunyainya untuk orang lain. Menurut Wikipedia: “Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan ‘orang lain’ tanpa memperhatikan diri sendiri”. Dalam hal ini, karena profesor selalu berhadapan langsung dengan masyarakat ilmiah dan mahasiswa yang diajar dan dibimbingnya, maka mereka tersebut adalah ‘orang lain’ tersebut.

Mentalitas Mendidik
Mendidik tidak sama dengan mengajar. Dalam mendidik faktor panutan memegang peranan penting. Tidaklah mendidik jika seorang profesor bercerita bahwa perbuatan mencuri adalah perbuatan yang tercela jika dia melakukan plagiat dan tidak menghargai jerih payah mahasiswanya — seperti dengan mencantumkan namanya paling depan dipublikasi ilmiah — padahal semua hasil dalam publikasi ilmiah itu adalah hasil jerih payah mahasiswanya, dari ide, membuat proposal dan menulis publikasi tersebut. Sang profesor hanya bertugas memperbaiki bahasa Inggrisnya saja.

Mentalitas Pembelajar
Profesor hendaklah selalu meng-update pengetahuannya setiap saat. Jangan sampai mahasiswa yang dibimbingnya mengatakan profesor tersebut tidak layak sebagai pembimbing. Saya pernah bertemu dengan seorang mahasiswa yang mengatakan hal ini kepada saya. Sampai mahasiswa tersebut menasehati profesornya untuk memberikan perhatian yang lebih banyak kepada penyelidikan. Sungguh sangat memalukan.

Mentalitas Pengabdian
Mengabdi untuk bidang ilmu merupakan mentalitas profesional seorang profesor. Masih banyak profesor ‘administrasi’ yang tidak mempunyai mentalitas ini — dimana seseorang diangkat menjadi profesor karena jabatan administrasi bukan karena prestasi ilmiah. Sebagai contoh, seseorang dinaikkan pangkat menjadi profesor karena ‘akan’ atau telah ‘menjabat’ sesuatu jabatan administratif seperti dekan atau pembantu dekan.

Mentalitas Kreatif
Kreativitas tidak hanya perlu dipunyai oleh profesor tetapi juga oleh semua orang. Namun, jika profesor tidak kreatif, dapat dibayangkan bahwa tidak akan ada penemuan-penemuan baru yang dihasilkan olehnya.

Mentalitas Etis
Masalah etika kadang-kadang jarang diperhatikan. Silahkan rujuk tulisan saya mengenai masalah ini yang telah dipublikasikan di blog ini tahun lalu dengan judul: Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi di Indonesia.

Publication, Publication and Publication!

Monday, November 3rd, 2008

“Publication, publication, publication!”, that words should be the mantra for universities said Dato’ Prof. Dr. Zaini Ujang, our new Vice Chancellor. I hope that Dato’ Prof. Dr. Zaini Ujang will made me proud to be a part of the Universiti Teknologi Malaysia, Insya Allah.

Please refer to the following website:

http://hadinur.com/Scientific_Publications/index.html

for my presentation entitled “Why is the publication in scientific journals so important?” in front of staff of Department of Science and Mathematics, Kolej Universiti Teknikal Kebangsaan Malaysia (now Universiti Teknikal Malaysia Melaka) on June 20, 2005.

Quantity or Quality?

Saturday, October 25th, 2008

Saya mempunyai seorang mahasiswa PhD dari Iran. Saya adalah ko-promotor (co-supervisor), sedangkan promotor utama mahasiswa saya ini adalah seorang profesor dari Faculty of Civil Engineering. Mahasiswa ini datang berkonsultasi dengan saya dan meminta saran saya mengenai hasil-hasil penelitiannya. Saya menyarankan supaya dia memulai menulis manuskrip untuk diterbitkan di jurnal internasional. “Tulislah sebuah manuskrip yang lengkap dengan data-data analisis yang menunjang hipotesis kita, sehingga sebuah kajian yang lengkap dan berkualitas dapat dihasilkan. Dengan begitu, mungkin kita dapat mempublikasikannya di jurnal yang bergengsi”, kata saya. Dua minggu kemudian dia datang lagi menemui saya. Dia berkata, “Profesor (promotor utama, red.) menyuruh saya untuk menulis 3 atau 4 manuskrip dari data-data yang kita punyai — bukan satu manuskrip yang lengkap”. Cara ini disebut sebagai salami slicing, dimana membagi hasil penelitian yang utuh kepada sebanyak mungkin manuskrip — yang sebenarnya dilarang dalam dunia akademik.

Quality or Quantity?” mungkin dua perkataan yang tepat untuk menggambarkan kisah di atas. Sebagai seorang peneliti saya selalu membaca publikasi yang mempunyai impak dan kontribusi yang tinggi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi. Biasanya jenis manuskrip ini ditulis dengan data-data analisis yang lengkap sehingga dapat menunjukkan bahwa hasil-hasil atau penemuan-penemuan baru tersebut dapat dipercayai dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Biasanya jenis penelitian ini dipublikasikan di jurnal yang bergengsi. Alhasil, biasanya, manuskrip ini selalunya dirujuk oleh orang lain, atau dengan kata lain mempunyai citation yang tinggi. Sebagai reviewer diberbagai jurnal international, saya selalu menolak (reject) manuskrip-manuskrip yang penemuannya tidak didukung dengan analisis-analisis yang lengkap.

Bagaimanapun, sebagai co-supervisor saya sudah menyuarakan hal yang saya anggap “benar” kepada mahasiswa saya — karena itulah kewajiban saya sebagai pendidik.

“Kontribusi anda kepada ilmu pengetahuan tidak diukur dengan berapa banyak publikasi anda, tetapi kepada kualitas publikasi yang anda hasilkan. Tidak ada gunanya publikasi anda yang banyak tersebut jika tidak pernah dibaca dan dirujuk oleh orang lain — karena berkualitas rendah”.

Mungkin “suara” di atas kedengarannya agak idealis, karena banyak kawan-kawan saya yang mengejar jumlah publikasi hanya untuk mengejar kenaikan pangkat. Bahkan ada yang mempublikasikan data-data yang sama di jurnal yang berbeda-beda. Wallahu a’lam bishawab.

Pengalaman mantan mahasiswa di Perancis

Thursday, August 21st, 2008

Hari ini saya kedatangan mantan mahasiswa saya, Ng Eng Poh, yang sekarang sedang belajar untuk program PhD di L’Université de Haute-Alsace, Perancis. Banyak cerita mengenai riset dan pengalaman belajar di negeri orang yang saya dengan dari beliau. Kebanyakan cerita tersebut adalah mengenai sang mentor PhD yang mempunyai dedikasi yang tinggi dalam penelitian dan juga sangat menguasai bidang yang ditekuni. Beliau menceritakan bagaimana budaya ilmiah telah terbangun disana. Dalam percakapan kami yang mengasyikan di sebuah restoran di Jusco, Taman Universiti dan juga di kamar kerja saya — terlintas juga dalam benak saya, bagaimana ‘prestasi’ saya dalam menggeluti bidang saya disini. Kadang-kadang ada perasaan malu dan juga sedih melihat keadaan dan situasi ‘budaya ilmiah’ yang belum terbangun di universiti tempat saya bekerja. Mudah-mudahan akan ada ‘political will‘ yang cukup untuk mengubah keadaan ini dari para pengambil keputusan di universiti ini. Insya Allah