Kecerdasan spiritual, Key Performance Indicator yang dilupakan

June 27th, 2010

kecerdasanKPI atau Key Performance Indicator adalah alat yang digunakan untuk pengukuran kuantitatif, yang digunakan sebagai alat penentu keberhasilan suatu organisasi. Sebagai contoh, dalam bisnis, persentase pendapatan yang berasal dari pelanggan dapat merupakan sebuah Key Performance Indicator. Di sekolah menengah, tingkat kelulusan siswa dapat dipakai sebagai Key Performance Indicator. Di universitas, jumlah publikasi ilmiah, perbandingan jumlah dosen yang mempunyai PhD dengan mahasiswa dapat digunakan sebagai Key Performance Indicator.

Dalam tingkat individual, dalam kehidupan, juga ada cara mengukur kemampuan seseorang dengan apa yang disebut sebagai:
- Intelligence Quotient (IQ), yang digunakan untuk memecahkan masalah logis.
- Emotional Quotient (EQ), yang digunakan untuk menilai situasi disekeliling kita untuk berperilaku secara tepat.
- Spiritual Quotioent (SQ), yang memungkinkan kita untuk mempertimbangkan dan bertanya apakah kita ingin berada dalam suatu keadaan atau situasi yang akan kita hadapi, secara spiritual.

Ketika kita menghadapi kesulitan, IQ bersandar pada kekuatan kita mengatasi masalah dengan kemampuan analitis; EQ bersandar pada kekuatan dan keberanian emosional kita serta kepercayaan diri; sedangkan SQ bersandar pada “kekuatan yang tidak terbatas”. Bagi orang yang beragama, kekuatan ini dapat disebut sebagai “keimanan”. Konsep SQ diperkenalkan oleh Dana Zohar dan Ian Marshall sebagai salah satu dimensi baru kecerdasan manusia, yang mereka klaim sebagai kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia.

Berdasarkan keterangan di atas, melihat KPI-KPI yang ada dalam organisasi kita, apakah kita pernah berpikir “Apakah pekerjaan yang telah saya jalani telah memenuhi kebutuhan spiritual saya?”, “Apakah hubungan saya dengan orang-orang dalam organisasi dimana saya bekerja telah telah memberikan kebahagiaan kepada saya dan juga kepada mereka?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan hanya mengandalkan IQ dan EQ saja. Kita perlu SQ yang tinggi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena SQ yang tinggi diperlukan untuk mencapai kebahagiaan, ketenangan, harga diri yang baik, dan hubungan harmonis di antara manusia.

Apakah kita pernah memikirkan hal di atas untuk kehidupan organisasi kita?

Uang atau status?

June 19th, 2010

“New studies show that money and social values are processed in the same brain region, providing insight into how we make choices”

Seorang Guru Besar/Profesor di Universitas Indonesia yang selalu bersepeda bukannya menggunakan mobil mewah ke kampus. Mana yang menjadi simbol status, mobil atau gelar?

Seorang Guru Besar/Profesor di Universitas Indonesia yang selalu menggunakan sepeda bukannya menggunakan mobil mewah ke kampus. Mana yang menjadi simbol status, mobil atau gelar?

Pernyataan dan foto di atas mempunyai makna yang dalam mengenai cara kita memandang harta dan juga status sosial. Saya melihat dunia (pendidikan) sekarang ini lebih mementingkan kebendaan dan status simbol dibandingkan dengan moral. Kadang-kadang kita lupa bahwa tujuan kita mendirikan universitas adalah untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai ilmu dan juga bermoral. Kita lupa makna dari kata “pendidikan tinggi”, lupa dengan tujuan kita mendidik mahasiswa supaya mempunyai moral integrity yang baik. Kita lebih banyak menggunakan “cosmetics“, yang hanya membuat kita cantik dan gagah kalau dilihat dari “luar”.

Kekuatan ide dalam penelitian

June 12th, 2010

Dalam penelitian, peralatan adalah faktor yang openting dalam keberhasilan penelitian, namun, menurut saya, ide adalah faktor yang paling menentukan apakah penelitian tersebut mempunyai impak atau tidak. Saya selalu memberitahu mahasiswa saya bahwa saintis tersebut adalah ‘problem seeker‘, bukan ‘probelem solver‘. Di bawah ini adalah publikasi yang pernah saya terbitkan sewaktu saya melakukan postdoc di Hokkaido University. Kekuatan idelah yang membuat penelitian tersebut dapat dipublikasikan di jurnal yang bergengsi. Penelitian dalam bidang katalisis ini hanya menggunakan Gas Chromatography sebagai satu-satu teknik analisis. Ini membuktikan bahwa kekuatan dari manuskrip ini adalah dari ide yang dikemukakan. Kami mengusulkan konsep baru dari katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase Boundary Catalysis‘.

Dalam pendidikan, proses lebih penting dibandingkan hasil

June 12th, 2010

Judul di atas sangat jelas pesannya. Pesan tersebut juga disampaikan oleh kolega saya, profesor dari Jepang, profesor senior yang akan pensiun 2 tahun lagi di Osaka University. Beliau mengamati bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai dalam pendidikan tinggi. Sekarang universitas lebih cenderung untuk mencapai tujuan ’semu’ yang sifatnya hanya tujuan ‘kosmetik’, seperti ingin terkenal, ingin masuk ranking, yang untuk mencapai tujuan tersebut banyak meninggalkan nilai-nilai ‘hakiki’ pendidikan. Beliau mengatakan, ketika beliau dulu menyelesaikan PhD di Osaka University pada tahun 70-an, pembimbing beliau hanya mengatakan — “lakukanlah penelitian dengan cara yang baik (good work), karena ini lebih penting daripada hasil penelitian itu sendiri”. Dengan kata lain “proses” jauh lebih penting daripada “hasil”.

Saya menemukan laporan yang menarik, bagaimana cara menilai “proses” dalam pendidikan tinggi: “Criteria for Performance Excellence” yang diformulasikan oleh Baldrige National Quality Program Education, pemerintah Amerika Serikat. Silahkan lihat kriterianya di bawah ini. Salah satu kriteria yang penting adalah ‘ethics‘, faktor yang banyak dilupakan oleh pendidikan tinggi, baik di Indonesia maupun di Malaysia.

Please click the following picture to download the file [3.41 MB]

baldrige

Internet dan akibatnya

June 8th, 2010

Artikel ini saya foto dengan menggunakan handphone ketika terbang dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur. Apa yang menarik adalah, ternyata kebiasaan berinternet dapat merusak cara kita berpikir. Silahkan klik gambar untuk memperbesar artikel tersebut.

Dalam analisisnya, Nicholas Carr — orang yang mengusulkan hubungan antara berinternet dengan cara berpikir — mengatakan bahwa orang yang dipengaruhi oleh internet sukar untuk berpikir secara mendalam. Namun, orang ini dapat mengambil keputusan dengan cepat, dikarenakan informasi yang banyak dapat secara cepat didapatkan, walaupun keputusan tersebut tidak dipikirkan secara mendalam.

My website structure looks simpler and more colorful

May 23rd, 2010

My personal website, www.hadinur.com as a graph. Compared with other popular websites, my website structure looks more colorful and has a structure similar to the website of Harvard University and Google, but simpler. Please click the above image to see a comparison with other websites. Click www.aharef.info to explore website as graphs.

How to be successful: play your cards right!

May 23rd, 2010

egocentricI know some people who are considered successful in their career. People who are good at playing their cards in finding opportunities to succeed and be famous. People are very egocentric and self-centered. Always working hard to achieve something and is always looking ways to promote themselves, anywhere and anytime. Sometimes promote excessively their work. Although all these achievements are not ‘great’, but they know how to update and sell their achievements.

Unfair as it may seem. However, this is reality of life. If you know the trick, play your cards right!  However, history has proven that people who opportunistic will not be remembered and will be quickly forgotten by society, because they do not provide benefits to the community.

Sukses bermoralnya Arifin Panigoro

May 7th, 2010

Buku ini dihadiahkan kepada saya oleh Prof. Raldi Antono Koestoer, profesor di jurusan Teknik Mesin, Universitas Indonesia, ketika beliau berkunjung ke Universiti Teknologi Malaysia pada 21 April 2010. Beliau mengatakan bahwa beliau ingin “meracuni” saya dengan virus “Technopreneur”.

“Sejuta kawan kurang, satu lawan jangan” merupakan salah satu kunci dari keberhasilan Dr. Arifin Panigoro yang mendapatkan Doktor Honaris Causa dari Institut Teknologi Bandung pada bulan Januari 2010. Prinsip yang menurut saya bukan saja diperlukan pada dunia bisnis, tetapi juga pada dunia sehari-hari. “Janganlah sekali-kali menyakitkan hati orang lain”, mungkin adalah prinsip yang boleh dipegang dalam pertemanan. Apa salahnya menahan diri untuk tidak menyampaikan sesuatu yang nantinya akan menyakitkan hati orang lain.

Ternyata prinsip berbisnis itu adalah cultural matters, seperti yang disampaikan oleh Jacob Oetama dalam kata pengantar buku Dr. Arifin Panigoro. Budaya, tata nilai, sikap, kerja keras, penghargaan, hemat dan jujur adalah beberapa pokok-pokok yang digunakan dalam keberhasilan.

Saya jarang sekali melihat orang yang “sukses” dalam arti kata sebenarnya, yaitu sukses dalam pandangan “moral”. Banyak di antara yang dianggap sukses, namun jarang yang sukses dalam mencapai integritas “moral” yang baik. Banyak orang-orang yang masih bermental “menerabas”, yaitu mental ingin mencapai sesuatu dengan mengabaikan nilai-nilai “moral”.

That's life

May 2nd, 2010

That’s life, are the words that came out from our mouth when we are facing with the problem. Depending on how we deal with the problem, we can assume that the problem of life is actually a ‘game of life’. The game of life can be considered seriously or just as a game. So, the key is, if we see everything is a heavy burden, it would be difficult to handle. But if you look at them as a light burden, then, they become easy to handle – like the above funny cartoon which I found in the internet.

A realistic vision of a higher education institution

May 1st, 2010

Yesterday, I’ve taken around by Dr. Handojo Djati Utomo, a lecturer at Singapore Polytechnic (SP), to look around the campus of SP, the oldest polytechnic in Singapore. He explained the involvement of SP in supporting Singapore to became a developed country. The above photos described the vision of SP: “A leading institution that prepares our students to be work ready, life ready and world ready“. In my opinion, this is a good example of the vision of an institution of higher education. A vision that is grounded to earth.

Indeed, there is nothing wrong with making whatever vision. But, by creating a grandiose vision – sometimes makes people feel ‘embarrassed’ to read it.