Tracing seeds of growth

Dan mereka merancang, Allah juga merancang, Dan Allah sebaik-baik perancang.” (QS 3:54)

0

Tahun lahir

0

Tahun lulus sarjana

0

Tahun menikah

 

Bukittinggi (1969-1974)

Umur saya sudah lebih setengah abad. Umur yang tidak muda lagi. Saya akan coba untuk memulai menulis sedikit demi sedikit sejarah hidup manusia ini (saya). Saya dilahirkan di Bukittinggi, tepatnya di rumah sakit tentara Bukittinggi pada 6 Mei 1969. Nama Dokter yang membantu proses kelahiran saya ketika itu, menurut keterangan yang diberikan oleh orang tua saya adalah Dr. Huseini.

1970

Foto di atas adalah foto paling yang paling awal mengabadikan sejarah hidup saya. Foto dengan dengan mamak di Bukittinggi pada tahun 1970. Mungkin saya berumur sekitar 8 bulan. Ketika itu ayah saya, Nur Anas Djamil, adalah Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS), Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Bukittinggi. Ibu saya, Sofiah Djamaris juga dosen di Fakultas yang sama. Keluarga kami tinggal di rumah dinas IKIP di bawah Istana Bung Hatta, Jalan H. Agus Salim di Bukittinggi. Sekarang rumah itu sudah tidak ada lagi. Di bawah ini adalah lokasi rumah yang kami tempati.

 

7837502544_46aae4f68d_b

Foto di atas adalah foto bapak dan mamak setelah akad nikah di Yogyakarta pada 16 Oktober 1959 di Jalan Sindunegaran no. 18. Ibu dan bapak saya di kampus IAIN Jogyakarta (sekarang adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), beliau adalah salah seorang aktivis kampus. Mereka menikah secara unik, yakni pesta diadakan di kampus dan dihadiri oleh mahasiswa dan dosen pada tahun 1959. Ini adalah sejarah, khususnya buat mereka berdua. Foto-foto pernikahan dan kartu undangan pun, sampai sekarang masih ada dan tersimpan rapi. Di bawah ini beberapa foto kami sekeluarga di Bukittinggi.

Tetangga kami di Bukittinggi adalah keluarga Pak Jacub Isman. Namun ketika Pak Jacub Isman melanjutkan studi Ph.D.-nya ke Indiana University Bloomington pada tahun 1970, rumah yang ditempati oleh Pak Jacub ditempati oleh Pak Syahwin Nikelas, adik dari istri Pak Jacub Isman yang juga dosen di FKSS IKIP. Pak Jacub adalah Dekan FKSS IKIP Padang sebelum ayah saya. Ketika Pak Jacub menjabat sebagai Dekan, ayah saya adalah Pembantu Dekan di FKSS IKIP. Keluarga kami tinggal di Bukitinggi dari tahun 1966 sampai 1974. Pada tahun 1974 kami pindah ke Padang setelah tinggal di Bukittinggi selama 8 tahun dari tahun 1966. Selama di Bukitinggi, ayah saya sempat menjadi Ketua Masjid Raya Bukitinggi. Hanya saya dan adik saya Huseini Nur yang lahir di Bukittinggi. Adik saya lahir tahun 1971. Abang saya yang tertua, Hamda Nur lahir di Semarang pada tahun 1960 ketika ayah dan ibu saya masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Setelah lulus sarjana tahun 1962, ayah mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Andalas (UNAND) yang kemudian menjadi IKIP pada tahun 1965. Abang saya yang kedua, Hamdi Nur, lahir pada tahun 1966 di Padang. Dari tahun 1962 sampai 1966, keluarga kami tinggal di Hotel Muara Padang karena belum mendapat rumah dinas dari pemerintah, sebelum pindah ke Bukitinggi pada tahun 1966. Ibu saya baru lulus sarjana dari IAIN pada tahun 1964 dan langsung menyusul ayah saya menjadi dosen di FKIP UNAND.

Karena masih kecil, tidak banyak yang saya ingat ketika tinggal di Bukitinggi. Yang saya ingat adalah saya menangis ketika saya memberikan ikan mas koki yang dipelihara kepada kucing, juga ketika naik mobil dinas IKIP Padang pindah rumah dari Bukittinggi ke Padang. Masih ingat ketika diajak ke kebun binatang Bukittinggi yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Umur saya ketika itu 4-5 tahun. Oh ya, saya juga punya kakak yang bernama Huda Nur, perempuan. Namun umur beliau hanya 7 bulan. Menurut keterangan dokter, Huda Nur meninggal dunia karena meningitis. Di bawah ini adalah catatan ayah saya mengenai Huda Nur.

# إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ #

Huda Nur

Lahir 12 Mei 1967 – 2 Shafar 1387 (Kamis) dj. 10.00 WIB Wafat 24 Djan 1968 – 24 Sjawal 1387 (Rabu) dj. 16.15 WIB Di RSUP Bukitinggi

Sejak lahir s/d 19 Djan 1968 setahu keluarganya belum pernah sakit. Umur 7 bln telah kuat menelungkup dan merasa senang duduk dengan pertolongan atas pangkuan. Karena kesehatannya yang baik tidak menyusahkan keluarganya. Mudah ketawa biasa bersuara sendiri karena riang. Tgl 19 Djan 68 mentjret, besoknya sekali2 disertai muntah. Petang minggu 20-1-68 telah diobati sebelum kedokter dgn beras rendang dan ubat udanya dari dokter. Tgl 22-1-68 ke dokter Suhadi. Tgl 23-1-68 kembali ke Suhadi untuk disuntik. Tgl 24-1-68 hari Rabu ke dokter Jasmiar karena sakitnya semakin bertambah. Petang selasa stuip 2 x dj. 1.00 dan dj. 4.00. Hari Rabu stuip kembali dj. 8.00 dj 9.00 ke Jasmiar. Dj 10.00 stuip lagi dan lebih lama / mengchawatirkan. Dj. 11.30 ke RSU B.Tinggi dikasi obat tetes kelidahnya anti kram 1 x 5 menit dan obat indjeksi segera dibeli di apotik luar. Dj. 16.15 wafat dihadiri oleh orang tua dan kedua udanya.

(Keterangan di bawah foto)

Gambar Huda Nur tgl 31-12-67 bertepatan dengan hari berlimau akan memasuki Ramadhan 54 hari sebelum wafat.

Padang (1974-1987)

Tahun 1974, keluarga kami pindah ke kampus FKSS IKIP Padang. Hanya 4 rumah dalam kampus ini. Paling kiri rumah Pak Slamet Anwar, kemudian Pak Tahasnim Tamin, rumah kelurga kami, dan paling kanan adalah rumah Pak Agustiar Syah Nur. Teman sebaya saya selama tinggal di kampus FKSS IKIP Padang adalah Taufani, Heksa Seswandi dan Satya Reflitadewi. Kami sekolah di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar yang sama.

 

Taman Kanak-kanak (1974-1976)

Tahun 1974 saya mulai sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Padang, dilanjutkan dengan SD PPSP IKIP Padang dari tahun 1976-1981.

Saya berdiri paling kanan

Taman kanak-kanak IKIP Padang terletak di kampus IKIP Padang, rumah kami di kompleks FKSS hanya berjarak 15 menit berjalan kaki. Hari pertama sekolah, saya pergi bersama Heksa Seswandi (Wandi), putra Pak Agustiar Syah Nur, tetangga sebelah rumah, ditemani oleh abangnya Heryadi Agus. Masih jelas dalam ingatan, hari pertama sekolah, semua orang diantar oleh anggota keluarga, namun saya datang sendiri. Di bawah ini adalah foto saya dengan Wandi, ketika hari pertama masuk sekolah, kelihatan sangat bersemangat belajar, sedangkan Wandi cemberut.

Setiap hari murid-murid TK PPSP IKIP Padang menyanyikan lagu “Aku murid TK Labor” yang dikarang oleh Ibenzani Usman, dosen Jurusan Senirupa IKIP Padang. Tidak banyak yang diingat, namun pengalaman yang tidak pernah dilupakan adalah berkelahi dengan anak yang lebih tua, menandakan saya adalah anak yang pemberani. Sampai anak yang dikalahkan sewaktu berkelahi tersebut mengajak abangnya untuk membalas. Balasannya adalah dengan mengoleskan cabe kemulut saya sewaktu saya berjalan menuju sekolah. Saya menangis sepanjang jalan menuju sekolah karena kesakitan. Untuk menunjukkan keberanian, saya juga minta disunat bersama-sama dengan abang saya (Hamdi Nur) pada tahun 1976. Di bawah ini adalah foto beberapa hari setelah disunat.

habis disunat 1976.jpg

Sekolah Dasar (1976-1981)

Saya sangat beruntung dapat sekolah di SD PPSP IKIP Padang. PPSP adalah singkatan dari Proyek Perintis Sekolah Pembangunan, yang merupakan proyek kementerian pendidikan dan kebudayaan pada masa itu. SD ini juga disebut sebagai sekolah laboratorium IKIP Padang. Sekolah ini digunakan untuk praktik ajar, penelitian pendidikan, dan inovasi pendidikan. Proyek ini dimulai pada tahun 1974, dan bertujuan untuk menguji coba ide-ide dalam pendidikan guna memberi masukan bagi pembaharuan pendidikan nasional. Proyek ini dihentikan pada tahun 1986 oleh pemerintah.

Sistem belajar di SD PPSP ini menggunakan sistem modul, ada yang namanya lembar kegiatan siswa, lembaran kerja, kunci lembaran kerja, lembaran tes, lembaran pengayaan dan sebagainya. Dan anak-anak yang cepat belajar dapat menyelesaikan setiap lembaran itu dengan cepat. Saya termasuk dalam kelompok itu, sehingga setiap semester menjadi juara kelas, dan puncaknya pada tahun 1981 menjadi pelajar teladan SD PPSP IKIP Padang. Hadiah sebagai pelajar teladan diberikan oleh Prof. Dr. Jacub Isman pada upacara di lapangan sepak bola kampus IKIP Padang bersama dengan pelajar SMP, SMA dan juga dosen teladan. Hadiahnya uang Rp. 15 ribu dan langsung digunakan untuk membeli sepatu roda. Saya juga selalu dipilih menjadi ketua kelas.

SD PPSP IKIP Padang.jpg
Foto sebelum berangkat sekolah. Sekitar tahun 1977-1978. Lokasi tempat berfoto adalah di depan rumah, sekarang sudah menjadi bangunan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP): http://bit.ly/2JuUUds (Google map).

Yang selalu saya ingat sewaktu SD adalah kami selalu minum susu sebelum pergi sekolah. Mamak dan Bapak selalu menyiapkannya sebelum kami pergi sekolah. Perhatian Mamak dan Bapak terhadap anak-anak sungguh luar biasa. Lego adalah permainan saya sewaktu kecil. Bapak menitipkan kepada Ibu Be Kim Hoa Nio, teman beliau, dosen Bahasa Inggris di IKIP Padang, supaya dibelikan permainan Lego di Singapura, ketika Ibu Be Kim Hoa Nio berkunjung kesana. Sewaktu SD, saya kadang-kadang diajak Bapak untuk ikut menemani beliau mengajar, dan juga membeli buku. Beliau selalu mendapat discount jika membeli buku di Pustaka Anggrek dan beberapa toko buku lainnya di kota Padang karena kenal dengan baik dengan pemiliknya. Itulah yang menyebabkan saya tertarik dengan buku sejak kecil. Buku-buku di perpustakaan mini beliau di rumah juga sering saya baca. Pengalaman yang menarik adalah juga sering diajak shalat subuh di Masjid Raya Al-Azhar, Air Tawar, Padang. Ikut mengaji Al-Quran bersama-sama teman beliau. Yang masih saya ingat adalah Pak Gafar Yatim, Pak Sofyan Mukhtar. Kebetulan ayah saya adalah pengurus di Masjid tersebut. Saya juga mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an Masjid Raya Al-Azhar. Setelah lulus SD PPSP IKIP Padang, saya pindah sekolah ke SMP Adabiah Padang. Ini atas permintaan saya. Dan saya mengatakan kepada ayah saya bahwa saya tidak ada saingan di SD PPSP IKIP Padang.

Sekolah Menengah Pertama (1981-1984)

Sekolah di SMP Adabiah, termasuk sekolah paling favorit di kota Padang pada zaman itu merupakan pengalaman yang membentuk saya pada hari ini. Berbeda dengan di SD PPSP IKIP Padang, yang mayoritas muridnya adalah anak-anak staf di IKIP Padang, di SMP Adabiah muridnya terdiri dari berbagai latar belakang. Ada yang anak pedagang, guru, pegawai pemerintahan dan pekerja swasta. Lebih beragam. Sehingga saya menemukan berbagai anak-anak yang dibentuk oleh keluarga mereka. Kenakalan saya juga tersalurkan di sekolah ini. Bersama peer-group di sekolah, kami juga membentuk grup yang dinamakan Qhotelawala, yang maksudnya adalah kumpulan teman laki-laki dan wanita pelajar. Kelas dua SMP, waktu berumur 14 tahun, tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM) saya juga sudah berani bersama kawan-kawan naik Vespa ke Pekanbaru, yang jaraknya lebih dari 300 km dari Padang.

vespa.jpg

Oleh karena kenakalan ini, prestasi akademik saya di SMP kurang memuaskan walaupun tetap masuk dalam 10-20 besar di kelas. Sekolah akan menjadi maju jika guru-gurunya punya dedikasi tinggi dan disiplin dalam mendidik. Ini yang saya lihat di SMP Adabiah, guru-gurunya luar biasa. Tanggal 5 April 2014, anak-anak SMP Adabiah alumni tahun 1984 berkumpul kembali setelah 30 tahun meninggalkan sekolah. Penuh gelak tawa. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang profesi yang berumur antara 45-48 tahun.

13771703204_4334a24c70_o

Sekolah Menengah Atas (1984-1987)

Setelah lulus dari SMP Adabiah Padang, saya melanjutkan ke SMA 3 Padang yang jaraknya tidak jauh dari SMP Adabiah.  Sebahagian besar kawan-kawan SMP Adabiah juga melanjukan ke SMA 3 karena penerimaan murid ketika itu adalah berdasarkan lokasi sekolah sebelumnya. Sewaktu SMA, saya mulai mengurangkan pergaulan dengan kawan-kawan yang ‘nakal’, namun saya masih tidak fokus untuk belajar. Prestasi akademik di SMA biasa-biasa saja, namun saya bagus dipelajaran kimia karena mengikuti les tambahan yang diajarkan oleh Pak Tahasnim Tamin, dosen kimia FKIE IKIP Padang, tetangga sebelah rumah ketika tinggal di kampus FKSS IKIP Padang. Tahun 1983 keluarga kami pindah dari rumah di kampus FKSS karena rumah tersebut dijadikan kantor dekan FKSS, dan dipindahkan ke rumah dinas yang agak jauh dari kampus, iaitu di Jalan Elang, Air Tawar. Pelajaran di SMA saya ikuti tidak dengan serius. Setiap hari hanya membawa satu buku catatan, dan tidak membawa tas. Bukunya diselipkan dalam saku belakang celana, sehingga Pak Bustaman, guru Fisika pada waktu itu pernah mengatakan bahwa saya tidak akan berhasil dalam hidup. Setelah lulus SMA, saya sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke ITB. Ini juga terinspirasi oleh kakak saya, Hamdi Nur, yang telah dulu kuliah di Jurusan Arsitektur ITB pada tahun 1983. Karena pada waktu itu masuk perguruan tinggi negeri hanya didasarkan kepada hasil tes, maka setelah selesai SMA saya fokus belajar untuk menjawab soal-soal ujian masuk perguruan tinggi. Alhamdullilah, akhirnya saya diterima di Jurusan Kimia ITB.

Bandung (1987-1995)

Tahun 1987 setelah lulus dari SMA 3 Padang, saya mencoba ujian masuk ke ITB dan Universitas Parahiyangan (UNPAR). Dalam ujian Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU) saya memilih Jurusan Teknik Mesin dan Jurusan Kimia ITB sebagai pilihan saya, dan Jurusan Arsitektur di UNPAR. Saya sempat mengikuti try out ujian masuk perguruan tinggi di Bandung. Mayoritas mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi pada masa itu masuk dengan ujian saringan masuk sehingga banyak pusat-pusat bimbingan belajar yang bermunculan di Indonesia, terutama di Bandung. Saya masih ingat, saya mengikuti try out yang diselenggarakan oleh Ganesha Operation di Bandung. Inilah pertama kali saya keluar dari pulau Sumatera, dan naik pesawat terbang dari Padang ke Jakarta. Sewaktu di Bandung, saya juga mengikuti ujian masuk ke UNPAR bersama dengan sepupu saya Inggo Laredabona. Alhamdullilah, saya diterima di Jurusan Kimia ITB dan juga Jurusan Arsitektur UNPAR. Atas pertimbangan keluarga, saya memilih mendaftar di Jurusan Kimia ITB. Pada masa itu, Prof. Dr. Isjrin Noerdin, Rektor IKIP Padang (1965 – 1973), teman ayah saya, masih mengajar di Jurusan Kimia ITB. Di bawah ini adalah teman satu angkatan yang berasal dari SMA 3 Padang, yang berjumlah lima orang, yang di terima di ITB. Dari kiri kekanan, saya, Ira Nevasa (Teknik elektro), Fitri Agustini (Geofisika dan Meteorologi), Firdaus Kurniawan (Teknik Lingkungan) dan Esfandi Hendra (Teknik Pertambangan). Foto di bawah ini diambil ketika acara reuni 30 tahun angkatan 1987 pada 13 Januari 2018 di kampus ITB.

Di bawah ini adalah teman sepermainan dari kecil sampai kuliah di ITB. Sebelah kiri adalah Ira Nevasa (Teknik Elektro) dan Saferian (Teknik Elektro).

39652631342_70e901fde4_h

Masa kuliah di Jurusan Kimia ITB diselingi dengan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD (1987-1992)

Masuk ke ITB merupakan prestasi tersendiri pada zaman itu. Menurut keterangan Drs. Hiskia Achmad, dosen Jurusan Kimia ITB, ranking dari ujian SIPENMARU angkatan 1987 yang diterima di Jurusan Kimia ITB adalah masuk 7000 terbaik dari peserta ujian SIPENMARU. Prestasi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.  Namun banyak diantara kawan-kawan saya diterima dipilihan kedua. Biasanya pilihan pertama adalah jurusan teknik, seperti saya yang memilih Jurusan Teknik Mesin sebagai pilihan pertama. Semester satu dan dua saya nilai saya pas-pasan. Teman bermain saya sewaktu tingkat satu adalah Terkelin Tarigan, anak Kabanjahe. Terkelin pintar dalam matematika, dan mendapat nilai maksimum dalam kuliah ini. Namun Terkelin pindah ke Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada tingkat dua. Abdul Hakam dan Tedianto juga pindah ke Universitas Indonesia. Sayapun terpengaruh dan juga ikut ujian SIPENMARU pada tahun 1988, dan lulus di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggal saya di Jalan Sekeloa. Akhirnya saya kuliah didua tempat. Teman sepermainan saya sewaktu di FKG adalah Lucky M. Hatta. Saya hanya bertahan satu tahun kuliah didua tempat, karena Indeks Prestasi Akademis (IPK) yang kurang dari dua. Akhirnya saya memilih tetap kuliah di ITB, namun dengan  IPK yang tidak bagus. Saya mulai rajin belajar di tingkat tiga sampai selesai, sehingga nilai yang jelek di tingkat dua (banyak nilai D) dapat ditutupi dengan nilai A dan B disemester selanjutnya. Saya menyelesaikan tugas akhir di bawah bimbingan Dr. Harjoto Djojosubroto yang ketika itu adalah Direktur Pusat Penelitian Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional. Penelitian saya adalah mengenai penentuan selenium dalam serum darah manusia dengan menggunakan Neutron Activation Analysis dengan menggunakan Reaktor Nuklir Triga Mark II yang letaknya di sebelah kampus ITB. Beliau menasehati saya untuk melanjutkan pendidikan ke magister. Saya masih ingat beliau berkata kepada saya, yang penting lanjut sekolah, ilmu sastrapun tidak mengapa asal lanjut sekolah. Oleh karena itu saya melanjutkan belajar saya ke program Magister Ilmu dan Material ITB. Saya adalah angkatan kedua program ini dan mahasiswa pertama yang lulus dari Program Magister Ilmu dan Teknik Material ITB sejak menerima mahasiswa tahun 1992.

wisuda.jpg

36797059550_250d396f55_h

Tahun 1987 – 1991 di Sekeloa

Tahun 1987 sampai tahun 1991, ketika kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) saya menyewa kamar di Jalan Sekeloa No. 126A/152C, Bandung. Tanggal 12 Januari 2018 yang lalu saya singgah disini. Tidak ketinggalan makan di tempat Bu Tatang. Sayalah orang yang pertama kali makan di tempat Bu Tatang pada tahun 1987, ketika Bu Tatang membuka rumah makannya pada hari pertama beliau berjualan. Tidak ada berubah, kecuali penuaan. Terima kasih Bu Tatang, banyak mahasiswa yang membesar dengan makanan Bu Tatang yang murah dan enak. Foto di depan tempat indekos bersama Aa, anak tertua Pak Imad, pemilik indekos, di Jalan Sekeloa No. 126A/152C, Bandung.

38759288835_1bfa49f26c_h

Bersama Bu Tatang (paling kiri). Silahkan klik lokasi dan suasana di Jalan Sekeloa dari Google Maps di bawah gambar.

Bu Tatang

Lokasi dan suasana di Jalan Sekeloa dari Google Maps

Masa kuliah Program Magister Ilmu dan Teknik Material (1993-1995)

Saya masuk Program Magister Ilmu dan Teknik Material setelah mengkuti ujian saringan masuk tahun 1993. Selama kuliah saya dibiayai oleh orang tua. Saya sudah menikah dengan Terry Terikoh waktu mendaftar menjadi mahasiswa program magister. Karena masih belum mempunyai penghasilan, saya merasa bertanggung jawab menyelesaikan studi saya dengan baik. Bidang sewaktu saya kuliah di Ilmu dan Teknik Material adalah banyak berkaitan dengan bidang metalurgi. Karena saya tidak mempunyai dasar yang kuat dalam bidang ini, saya juga ikut perkuliahan tingkat sarjana. Akhirnya saya lulus cum laude dalam waktu 1,5 tahun. Saya ditawari menjadi dosen di Program Teknik Material, Jurusan Teknik Mesin setelah lulus ujian magister pada 14 Februari 1995. Setelah berpikir akhirnya saya menerima tawaran tersebut, namun mesti menunggu untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena tidak ada formasi pada tahun itu. Ada peristiwa menarik. Waktu itu, tahun 1995 di ITB, saya bertemu dengan Dr. Mardjono Siswosuwarno dan meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke Ph.D. Beliau menyuruh saya untuk membuat draft surat rekomendasi dan saya menuliskan “lulusan terbaik”. Bagaimanapun beliau tertawa keras ketika menandatangani surat ini karena saya satu-satunya yang diwisuda pada Program Studi Ilmu dan Teknik Material ketika itu.

1226612331_e986c1009a_o

Saya menikah di Bandung pada 24 April 1993 dengan Terry Terikoh, teman kuliah di Jurusan Kimia ITB. Terry masuk ITB lebih awal satu tahun dari saya (1986). Setelah menunggu 1 tahun 11 bulan dan 6 hari, pada 2 April 1995 lahirlah Farid Rahman Hadi di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

Status saya setelah lahirnya Farid adalah calon dosen ITB, sehingga Dr. Mardjono Siswosuwarno berinisiatif mencoba agar saya melanjutkan studi ke program doktor di ITB dan juga ke Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven). Namun tidak jadi karena kebetulan Prof. Madya Dr. Halimaton Hamdan datang ke ITB dan menawarkan melanjutkan ke program Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) kepada saya. Saya menerima tawaran tersebut. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan pergi ke Malaysia dan menetap di Malaysia begitu lama sampai sekarang.

1995 – 1999 di Universiti Teknologi Malaysia

Kebetulan pada tanggal 29 Juni 1995 saya bertemu dengan Prof. Madya Dr. Halimaton Hamdan (sekarang Prof. Datuk Dr. Halimaton Hamdan) yang sedang menghadiri Seminar Kimia Bersama ITB-UKM Kedua, di ITB, dan beliau menawarkan saya untuk melanjutkan Ph.D. dengan beliau di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Setelah surat menyurat dengan beliau, akhirnya pada bulan Nopember 1995 saya berangkat ke Johor Bahru, Malaysia dari Padang menggunakan pesawat Pelangi Airways dari lapangan terbang Tabing. Sejak itu, saya melanjutkan sekolah saya saya sampai lulus Ph.D. tahun 1998 dan dilanjutkan sebagai postdoc selama 1 tahun sampai tahun 1999. Kisah saya di UTM dapat dibaca dengan tautan di bawah ini:

Dari mahasiswa sampai profesor dengan UTM

1999 – 2002 di Hokkaido University

Banyak peristiwa dalam hidup ini yang tidak terduga. Saya tidak menyangka akan menghabiskan waktu di Malaysia jika saya tidak bertemu dengan Prof. Halimaton tahun 1995 di ITB. Saya juga tidak akan tinggal di Jepang dan bekerja dengan Prof. Bunsho Ohtani jika saya tidak menyurati beliau melalui e-mail pada tahun 1999. Semua peristiwa kecil itu yang merubah hidup saya. Allah adalah sebaik-baik perancang, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.

4709506562_405f7e2fb5_o
Saya sebagai anggota grup riset Prof. Ohtani tahun 2000. Dari kiri kekanan: Dr. Bonamali Pal, Dr. Shigeru Ikeda, Dr. Hadi Nur, Prof. Bunsho Ohtani dan Noboru Sugiyama.

Saya berangkat ke Jepang pada tanggal 1 Nopember 1999 dengan menggunakan pesawat Thai Airways dari Singapura ke Osaka dan dilanjutkan dengan All Nippon Airways ke Sapporo. Kami sekeluarga (saya, Terry Terikoh, Farid Rahman Hadi (4.5 tahun) dan Firda Hariri (3 bulan) dijemput oleh Dr. Shigeru Ikeda di Chitose Airport. Pada waktu itu laboratorium Prof. Ohtani hanya terdiri dari 1 Assistant Professor (Dr. Shigeru Ikeda), 2 orang Postdoc (Dr. Bonamali Pal dan saya) dan 1 orang mahasiswa M.Sc. (Noboru Sugiyama). Dr. Shigeru Ikeda dan Dr. Bonamali Pal sekarang sudah menjadi full professor di Jepang dan India. Hari pertama saya sampai di Sapporo, saya bertemu dengan Sugeng Triwahyono (sekarang Prof. Dr. Sugeng Triwayono) di Catalysis Research Center (CRC) yang waktu itu adalah research student di laboratorium Prof. Masakazu Iwamoto, yang waktu itu adalah Director, Catalysis Research Center (CRC). Laboratorium beliau di lantai dua, dan laboratorium Prof. Ohtani di lantai satu di bangunan CRC.

4713657058_1513f78b10_b.jpg
Dengan Prof. Bunsho Ohtani di Tottori tahun 2000

Saya cukup beruntung menjadi postdoctoral fellow di bawah bimbingan Prof. Bunsho Ohtani di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang. Prof. Ohtani memiliki kontribusi yang besar dalam karir saya. Prof. Ohtani yang merupakan ilmuwan yang sangat inspiratif. Beliau memiliki kapasitas untuk menghasilkan gagasan yang hebat. Dalam dua tahun saya sebagai JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) Postdoctoral Fellow dan dilanjutkan sebagai COE (Center of Excellent) Visiting Researcher selama setengah tahun, kami menerbitkan sebuah makalah mengenai konsep baru dalam bidang katalisis heterogen yang disebut sebagai Phase Boundary Catalysis. Saya berhutang budi kepada Prof. Ohtani karena telah menunjukkan kepada saya bagaimana melakukan penelitian sains dengan cara yang benar. Pengalaman saya menjadi peneliti selama 3.5 tahun setelah saya menyelesaikan doktor tahun 1998, yang 2,5 tahun dilakukan di Jepang (dua tahun sebagai JSPS postdoctoral fellow dan setengah tahun sebagai COE Visiting Researcher di Catalysis Research Center, Hokkaido University) telah memberikan saya gambaran yang jelas terhadap ‘masalah-masalah’ pendidikan dan riset. Tulisan di bawah ini juga mencoba menjawab pertanyaan; Mengapa universitas di Jepang bagus? Visi kearah ini sebenarnya sudah nampak di Indonesia dan Malaysia, yaitu dengan usaha menjadikan beberapa universitas besar di Indonesia dan Malaysia menjadi research university. Hal ini beralasan karena universitas akan menjadi tempat aktivitas intelektual dan menjadi harta nasional. Keuntungan sosial dari ini sangat besar, seperti yang diperlihatkan di Amerika, dan dikenal dengan the silicon valley syndrome.

Kartu ucapan selamat jalan dari kawan-kawan di laboratorium Prof. Ohtani ketika meninggalkan Sapporo tahun 2002.

Riset di Jepang

(Di bawah ini saya menceritakan pengalaman dan pengamatan saya mengenai riset di Jepang. Karena mungkin, tulisan ini agak panjang, maka untuk memudahkan, saya menulis huruf tebal untuk kalimat kunci.)

Pengamatan saya di sini memperlihatkan bahwa Profesor dan mahasiswa Pasca sarjana (master dan doktor) di Jepang adalah pekerja keras. Ini diperlihatkan dari jam kerja yang kadang-kadang mencapai 12 jam per hari! Hal ini juga diperlihatkan oleh staf-staf muda (associate Prof. dan research associate/instructor) yang bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang bersuasana riset, dan mereka tidak dibebani dengan banyak mengajar di depan kelas dan tugas-tugas administrasi. Promosi untuk menjadi Profesor hanya berdasarkan kriteria akademik. Hanya Associate Professor yang berkaliber saja yang diangkat untuk menjadi Profesor. Hal ini terlihat dari track record riset dari Prof. tersebut. Pelajaran berharga lain yang saya peroleh dari melakukan riset di Jepang adalah; ‘tidak semua orang’ dapat menjadi peneliti yang hebat. Banyaknya publikasi dari conference, symposium dan seminar tidaklah memperlihatkan kecanggihan seseorang dalam melakukan riset. Hanya publikasi dari first class journal yang dapat memperlihatkan peneliti mempunyai riset yang hebat. Peneliti yang hebat harus menerima bahwa ide-ide baru akan berakhir dengan keusangan. Dia harus belajar untuk menerima kegagalan, dan mencoba terus-menerus tanpa henti-hentinya. Semua ini memerlukan waktu yang panjang dan konsentrasi, karena riset memerlukan ‘pemikiran yang dalam’ dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek. Bagaimana mendidik seseorang untuk berinovasi dan menemukan merupakan hal berharga yang saya perolehi dari Prof. saya di sini. Sehingga saya dapat merasakan pengalaman (‘sensasi’) dari suatu penemuan tersebut. Selama melakukan riset di sini, kami telah mengusulkan konsep baru dalam bidang katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase-boundary catalysis‘ dan telah dipublikasikan di jurnal yang prestius (Chemical Communications, Journal of Catalysis dan Langmuir). Faktor lain juga sangat menentukan keberhasilan riset saya di Jepang adalah; saya memulai riset ketika laboratorium hanya memiliki empat orang peneliti (Prof., assistant Prof, seorang postdoc dan seorang mahasiswa master), sehingga saat itu kami terpaksa berpikir untuk memulai riset baru. Hal berharga yang dapat diambil dari pengalaman ini adalah; ‘tim riset yang kompak merupakan inkubator untuk memperbanyak ide‘ karena dalam riset yang dilakukan secara tim akan terjadi pertukaran ide, kritik dan kompetisi. Dan ini berarti, riset yang hebat biasanya dihasilkan oleh tim riset yang hebat, bukan dari perorangan. Budaya ilmiah yang kental sangat terasa di Hokkaido University. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan dari Universitas (University policies). Hal ini ditandai dengan banyaknya seminar antar disiplin ilmu dengan peserta yang banyak. Salah satu hal yang juga sangat mendukung suasana ini adalah tidak adanya politik yang masuk ke administrasi universitas. Hal terakhir ini mulai diterapkan di Indonesia oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pemilihan rektornya tanpa intervensi dari pemerintah. Karena riset di Universitas sangat bergantung kepada program pasca sarjananya, maka kesejahteraan para mahasiswa di Jepang sangat diperhatikan sehingga mahasiswa pasca sarjana menerima gaji yang cukup. Karena inilah ujung tombak dari riset di Universitas.

The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, “The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)” telah tujuh belas tahun berlalu. Acara ini diadakan di Sapporo pada tahun 2001. Kebetulan saya, satu-satunya postdoc di Hokkaido University dari Indonesia pada waktu itu, telah ditunjuk sebagai ketua untuk acara seminar ini. Saya masih ingat, dengan ditemani oleh Ahmad Hidayat Lubis dan Dwi Gustiono, kami menemui Prof. Michio Yoneyama, Director of International Student Center, Hokkaido University, untuk membicarakan HISAS-1. Beliau sangat mendukung acara ini, dan mengatakan bahwa HISAS-1 merupakan acara ilmiah pertama yang dibuat oleh persatuan mahasiswa asing di Hokkaido University. Acara ini telah dilaksanakan di Hokkaido University Multimedia Education Building, Graduate School of International Media and Communication pada 4 Nopember 2001, dan telah berlangsung dengan baik.

Prof. Takashi S. Kohyama bersedia menjadi keynote speaker dengan bantuan Joeni Setijo Rahajoe, yang ketika itu adalah mahasiswa Ph.D. Prof. Kohyama. Pihak Kita Gas Co. Ltd. yang diwakili oleh Mr. Yozo Maeizumi (Managing Director) juga bersedia datang untuk memeriahkan acara ini. Ahmad Hidayat Lubis mempunyai andil besar untuk mendatangkan Mr. Maeizumi. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Tokyo, Winnetou Nowawi, dan juga ketua PPI Jepang, Romi Satria Wahono, juga datang menghadiri HISAS-1.Acara HISAS-1 berlangsung dengan meriah. Gelak tawa para peserta pecah ketika Heru Rachmadi, sang dokter hewan, menceritakan pengalamannya melakukan inseminasi buatan pada sapi. Hari Sutrisno dan Subeki juga menjadi bintang dalam HISAS-1, karena presentasi mereka tidak membuat mengantuk, penuh canda. Sehat Jaya Tuah, yang menjadi sekretaris acara ini meninggal dunia pada 29 Mei 2010 (jam 10 malam) karena serangan jantung di Palangkaraya, Indonesia. Teringat senyuman dan keramahan Sehat Jaya Tuah. Acara ini tinggal kenangan. Buku prosiding HISAS-1 masih menghias lemari buku saya.

2002 – sekarang di Universiti Teknologi Malaysia

Dua setengah tahun di Sapporo cukuplah bagi kami menimba pengalaman. Pendidikan anak-anak mulai menjadi pikiran saya. Bukan berarti Jepang tidak bagus untuk pendidikan, tetapi ada sesuatu yang memprihatinkan mengenai pendidikan agama anak-anak. Saya dan istri sepakat kembali ke Malaysia. Alasannya adalah, pertama UTM paling aktif meminta saya menjadi dosen. Kedua, pendidikan agama anak-anak lebih terjamin dan ketiga Malaysia lebih dekat dengan kampung halaman. Setelah hampir dua setengah tahun di Hokkaido University, saya pulang kembali ke UTM setelah menerima tawaran Prof. Halimaton Hamdan sebagai pensyarah di Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies (IIS). Pada bulan Mei 2002, saya mulai bekerja di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), setelah satu tahun sebagai research officer karena menunggu proses permohonan sebagai pensyarah yang diproses di Kementerian Pendidikan Malaysia, dan kemudian sebagai pensyarah DS45 pada 2 Juni 2003. Tangga demi tangga saya tapaki. Rasa syukur dan suka cita datang tatkala saya diangkat menjadi profesor penuh di UTM pada tahun 2010. Kisah saya di UTM dapat dibaca dengan tautan di bawah ini:

Dari mahasiswa sampai profesor dengan UTM

Refleksi

Hidup mesti berjalan dengan baik. Tahun berganti dengan cepat. Sekarang tahun 2020. Tidak terasa saya dan keluarga sudah lebih 20 tahun tinggal di Malaysia. Pengalaman yang telah dialami hanyalah tahap transisi dalam hidup. Tidak ada yang salah atau malu jika kita menjalani kehidupan dengan jujur dan sederhana. Itu adalah bagian dari kehidupan. Semua manusia pasti akan menderita melalui berbagai cara, seperti kehilangan pekerjaan, sakit, gagal dalam bisnis, kehilangan orang yang disayangi dan lain-lain. Saya kagum dengan orang-orang yang tidak pernah menyerah pada hidupnya. Banyak orang seperti ini yang saya temui dalam hidup saya, dari pembantu rumah tangga sampai menteri. Kita perlu bijaksana dalam memandang dan menjalani kehidupan.

Menurut saya, mempelajari sejarah dan merefleksikannya itu penting. Tanpa ini, kita akan kehilangan arah. Setiap manusia sebenarnya dibentuk oleh sejarah hidupnya. Semua tindakan dan pikiran kita, secara langsung dan tidak langsung pasti dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau dan juga bagaimana kita mempersepsikan masa lampau tersebut. Seseorang yang mempunyai masa lampau yang susah, tentu berusaha untuk tidak menghindari keadaan yang susah tersebut untuk masa yang akan datang. Sesorang yang menderita trauma pada zaman dahulu, tentu akan menolak dan menghindari hal yang sama.

Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?

(QS 6:32)

Mungkin, dengan kesadaran terhadap sejarah dan merefleksikannya, kita dapat lebih arif dalam memandang sesuatu. Pandangan yang tidak sempit. Kadang-kadang, saya tersenyum sendiri dan khawatir melihat orang yang sangat sempit pandangan hidupnya. Hidup hanya untuk key performance indicator yang dibalut dengan angka-angka. Dalam filsafat, ini dinamakan sebagai persepsi dan kenyataan (perception and reality), kebenaran dari kenyataan dan kenyataan dari kebenaran (the reality of truth and the truth of reality). Manusia zaman modern ini banyak yang terperangkap dengan instrumen-instrumen yang sepertinya sangat rasional, mekanistik dan terukur. Tidak sadar, disamping kekuatan rasionalitas, manusia juga mempunyai kekuatan rohaniah (spiritual power), yang seringkali tidak diasah dengan baik. Kalau kita paham mengenai semua ini, kita mempunyai wadah yang sangat besar untuk menerima realitas dan melihat sesuatu dalam bingkai yang sangat besar dalam memahami kenyataan.

Bagaimana cara memahami kenyataan? Caranya adalah dengan membaca, membaca apa saja di alam ini, dan berusaha untuk melihatnya sampai pada esensi dan hikmah dari segala sesuatu. Kedua adalah dengan refleksi dan perenungan. Lambat laun akan muncul kesadaran baru. Lihatlah Imam Al-Ghazali, beliau dapat menghasilkan buku-buku yang sangat luar biasa karena beliau mempunyai waktu dan suasana yang mendukung untuk itu. Buku Ihya’ ‘ulum al-din beliau tulis sewaktu beliau mengasingkan diri dari dunia yang materalistik. Sistem pendidikan tinggi kita saat ini tidak mendukung hal-hal seperti ini. Oleh karena itu, sangat jarang muncul pemikir-pemikir yang hebat di rantau ini sekarang ini. Kita sangat kurang dan tidak punya waktu untuk merefleksikan diri, dan seringkali lupa pada sejarah.

Salah satu cara memandang kehidupan ini adalah dengan memandang bahwa kehidupan ini hanyalah gurauan. Life is a big joke! Ini adalah salah satu perspektif, cara pandang yang boleh diambil untuk menghindari stress. Sebagai contoh, orang menghabiskan hidup mereka melakukan usaha untuk bertahan hidup, tetapi akhirnya mereka mati juga. Apakah ini tidak lucu? Kalau kita cari di google dengan kata kunci “life is a joke”, banyak sekali tulisan mengenai hal ini. Tapi saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan karena mungkin ditulis oleh orang-orang yang cara pandangnya “dari dunia untuk dunia” (one life to live). Lha, untuk apa kita hidup? Ini adalah salah-satu jawabannya: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS 6:32).

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran. (Al-‘Ashr: 1-3)

Wallahu A’lam Bishawab

Last updated 13 January 2020