Gagak, Kucing dan Pemulung
Enaknya hidup di negara maju, semua serba teratur dan rapi. Karena keteraturannya itu, kesadaran, tanggungjawab dan toleransi antara individu di dalam masyarakat juga tinggi. Contohnya kesadaran dan tanggungjawab memelihara lingkungan di sekitarnya agar tetap bersih dan sehat. Di Jepang, pembuangan sampah rumah ada waktu-waktunya, dan penduduk sudah tahu setiap hari apa dan sampah apa yang harus dibuang. Sampah dapur atau sampah organik, sampah recycle seperti kertas dan plastik, kemudian sampah-sampah berat seperti alat-alat elektronik atau perabot. Pemungutan sampai oleh petugas dikolektif di setiap blok perumahan. Tidak ada yang menyuruh, penduduk disekitar blok, siapa saja akan mengemas sampah itu kalau nampak berserakan. Yang membuat sampah berserakan biasanya burung gagak untuk sampah dapur dan pemulung untuk sampah berat. Mereka akan menutup sampah tersebut dengan jaring, sehingga burung gagak akan susah mengambil sampah-sampah tersebut. Tetapi kalau sampah-sampah berat dibiarkannya dahulu beberapa hari, sekiranya tidak ada yang mengambil baru mereka tempel sticker untuk dihancurkan.
Lain halnya di negara maju, di Malaysia, saya bingung apakah Malaysia sudah bisa dikatakan negara maju? Masalahnya, Alat-alat canggih untuk pengambilan sampah apa yang ada di Jepang, Malaysia pun ada. Tetapi sampah masih disatukan semua, belum dipisah-pisah, kalau sampah berserakan itu urusan masing-masing. Yang membuat sampah berserakan bukan burung gagak dan pemulung saja tetapi juga kucing. Tidak ada waktu pengambilan sampah, kadang-kadang sampah menumpuk tidak diambil dalam waktu seminggu.
Tahun 1998 saya ikut suami ke Malaysia, dulu tidak ada burung gagak, tidak ada pemulung yang membuat sampah berserakan, hanya kucing saja. Selepas itu tahun 1999 sampai 2002 saya pergi ke Jepang, ikut suami juga. Dan tahun 2002 sampai sekarang kembali ke Malaysia lagi. Sekarang bukan hanya kucing saja yang membuat sampah berserakan, burung gagak sudah mulai banyak dan pemulung juga banyak. Pemulung sampah di Malaysia, mereka mencari sampah-sampah plastik dan kardus, bekas minuman kaleng, pokoknya sesuatu yang sekiranya boleh dijual kembali. Recycle dan pemisahan tong-tong sampah sebenarnya sudah ada, tetapi saya lihat tidak efektif, sampah menumpuk di satu tong, sementara di tong-tong lain kosong. Atau tong-tong yang kosong itu keburu diambil pemulung kali ya untuk dijual, saya tidak tahu. Susahnya menghalau burung gagak dan kucing juga pemulung. Kalau di siang hari boleh di halau, tetapi kalau malam hari mana sempat baru paginya ketahuan sampah berserakan. Saya sendiri sudah biasa memisahkan sampah dapur dan sampah recycle, jadi petugas sampah senang saja untuk mensortir sampah diatas lori atau truk. Tetapi pemulung itu tidak tahu, dia asyik saja buka-buka sampah kita tanpa dibersihkan lagi. Saya sampai teriak-teriak meyuruhnya untuk membersihkan kembali, baru dia bersihkan, sambil bilang, sorry.
Kalau di Indonesia bagaimana ya? Apakah lebih parah lagi? Tidak ada burung gagak, tidak ada kucing bahkan tidak ada pemulung, tidak ada petugas sampah, soalnya langsung saja sampah masuk sungai, sehingga kalau musim hujan tiba, banjir dimana-mana? Kalau ada tukang sampah, apakah tukang sampahnya betul-betul petugas dari departemen kebersihan setempat atau hanya orang-orang yang memunguti sampah dari penduduk lalu dibuang di tanah kosong, kemudian dari situlah berkumpul pemungut lokalisasi dan kucing-kucing jalanan. Saya tidak tahu, tapi saya berharap Indonesia akan menjadi lebih baik. Suatu saat nanti ya.