Chatting dan Calling

Sudah tidak aneh lagi 2 perkataan diatas, kedua-duanya sama top nya. Gaya komunikasi zaman sekarang, praktis, ekonomis dan bisa dimana saja. Banyak keuntungannya dibanding kerugiannya. Apalagi kita mempunyai saudara jauh di negara lain, dengan chatting atau calling  komunikasi bisa dengan mudah dilakukan asalkan ada handphone atau telephon dan komputer untuk internet. Bagi yang tidak ada internet di rumah bisa calling atau sms, mms an dengan teman dan saudara, bagi yang ada internet boleh chatting. Soal biaya itu tergantung kantong masing-masing, sesuai keperluan saja, seberapa tahan kamu boleh ngobrol-ngobrol. Tetapi bagaimana jadinya kalau kedua-dua gaya komunikasi itu dipakai sekaligus? Apakah ini suatu pemborosan? Atau ketidaktahuan dari si pengguna? Sambil chatting ya calling juga.

Hal inilah yang sering dipakai oleh anak kedua saya, Firda. Anak kelas 3 SD, setiap hari pulang sekolah janjian dengan teman-temannya untuk chatting. Baru sampai saja di rumah sudah di telephone temannya.” Awak sudah buka komputer?” begitu suara di telephone. Saya bilang kalau mau main komputer, harus beres semuanya dulu, ya makan, mandi dan mengerjakan PR. Lalu Firda bilang sama temannya, “Mak kite tak bagilah, sebab kite mesti siap semuanya dulu, kejap lagi awak telephon balik tahu!” Beberapa menit kemudian temannya telephon kembali, menanyakan sudah siapkah? Kebetulan Firda sudah siap lalu chattinglah mereka. Saya tidak tahu apa yang diobrolkannya, kelihatannya asyik sekali. Setelah itu si Firda mengambil handponenya, menulis sms, lama menunggu, akhirnya ditelephone temannya itu,” Awak kenapa awak tak balas lagi, kite dah penat tulis panjang-panjang, awak tengah buat ape ni?”  Rupanya temannya itu tidak boleh main lagi sama ibunya, jadi dia berhenti tanpa memberi kabar. Ha…ha, saya tertawa dibuatnya, lalu saya tanya sama Firda apa bedanya chatting dengan menelphone? Lama dia terdiam, Lalu jawabnya “Sama bu, tapi chatting penat sikitlah sebab tangan kita harus ngetik, ngomongnya didalam hati. Kalau menelphone langsung saja kita ngomong.”

Akhirnya saya suruh dia memilih, kalau sama pilih salah satu chatting ya chatting saja, kalau nelephone atau sms ya itu saja, tidak usah dua-dua, toh tujuannya sama saja, ngobrol. Itu namanya pemborosan. Tiba-tiba temannya menelphone kembali bahwa dia sudah siap chatting lagi, e..e si Firda malah menasihati temannya percis apa yang saya bilang ke dia tadi. Duh Firda ada ada saja kamu ini. jadi kesimpulannya chatting dan calling ini merupakan suatu pemborosan kalau yang memakai bukan yang berkepentingan. Betul tidak?  


Leave a Reply