Oh….My Baby
Teet…..Teet….Suara handphone saya berbunyi. Waktu itu saya sedang makan siang. Oo.., rupanya teacher Karen, guru piano Farid dan Firda. Wah gimana kabarnya ya? Sudah satu bulan tidak ada kabar, dia cuti bersalin selama 1 bulan, pantang…katanya, harus duduk di rumah saja. Jadi Farid dan Firda pun cuti juga dari tanggal 17 Januari kemarin sampai sekarang.
Tc. Karen : “Hallo Pn Terry apakabar?”
Saya : “Hai, baik. Sudah sehat? Bagaimana baby?”
Tc. Karen : “Baby Ok, I sudah habis pantang, tapi I tak boleh tidur sebab malam-malam kena jaga baby. Baby tidur pukul 2 malam hoh. Nasib baik ada mama I, dia bantu I, jadi I boleh rehat sikit. Pn Terry ada kat rumah tak?”
Saya : “Iya saya ada di rumah, kenapa?”
Tc. Karen : “Baby sudah cukup bulan. I nak hantar kue ke rumah. Tunggu ya, I sekejap lagi datang!”
Saya : “Oke! Saya tunggu.
Sebentar kemudian tc. Karen dan suaminya datang menghantar kue. “Ini halal, boleh makan!” katanya. WOW……kue pie buah, kueh angku dan telur merah. Sebelum air liur keluar saya coba satu, ehm…yummy enak. Eh lupa photo dulu deh, tidak apa-apa ya? kuenya hilang satu.
Tahun kemarin juga saya mendapat kiriman kue dari DR. Lee, teman suami saya yang baru bersalin, bermacam-macam kue tart. Ini adalah tradisi orang cina kalau babynya sudah cukup 1 bulan, untuk pay respect kepada nenek moyang dan Tuhan katanya harus ada kue dan telur kemudian dibagikan kepada saudara dan teman dekat saja. Kalau baby girl harus tambah kue angku, kue warna merah isinya kacang dan telurnya diberi warna merah juga, kelak babynya cantik secantik warna merah.
Kita juga ada pay respect kepada Tuhan dan nenek moyang, kalau kita punya baby yaitu akikah, cukur rambut dan memberi nama yang baik. Pengertian akikah adalah domba yang disembelih untuk anak yang baru lahir pada hari ke 7 kelahirannya. Hukumnya sunat muakkad bagi orang tua yang mampu. Jadi kalau belum cukup uang atau karena hal-hal lain, tidak harus hari ke 7 pun tidak apa-apa, bisa kapan saja. Hikmahnya adalah bukti syukur kepada Allah atas nikmat memiliki anak dan tawassul kepada Allah untuk memelihara dan menjaga anak kita.
Untuk baby laki-laki 2 ekor kambing dan untuk baby perempuan 1 ekor saja, kemudian dagingnya dimasak dan sebagian dimakan oleh keluarga selebihnya disedekahkan dan dihadiahkan.
Sebenarnya naluri tanggung jawab orangtua terhadap anaknya dan syukur kepada yang Maha Pencipta tidak mengenal ras dan golongan, pada hakekatnya sama cuma barangkali bentuk dan caranya yang berbeda. Kita mengikuti cara-cara agama kita dan mereka pun demikian. Termasuk ke 3 anak saya, ke 3 baby saya waktu mereka baby, kalau Farid dan Fahima akikahnya di tempat mamah, ada pengajian, ada cukuran rambut, kambing dipotong sendiri oleh ajengan dan kita pun bisa menyaksikannya, kemudian mamah yang memasaknya, dibuat satai dan gulai. Kalau Firda akikahnya di Padang, di tempat mertua, tidak ada pengajian, tidak ada cukur rambut, kambingnya dipesan untuk akikah dan datang ke rumah sudah jadi gulai untuk dibagikan. Tapi sama saja khan? Mudah-mudahan baby-baby saya ini menjadi anak yang sholeh dan sholehah, anak yang pintar-pintar dan disukai semua orang. Aamiin…..my baby.