Barbek…alias barang bekas

Seharian saya sortir barang-barang yang tidak dipakai lagi. Mulai dari buku sampai baju. Soalnya beli buku dan baju baru, tempatnya tetap ya tidak muat lagi. Buku dan baju masih pada bagus-bagus, masih boleh dipakai, apalagi sepatu-sepatu suami saya. Ada 4 pasang yang mau dibuang keadaannya masih bagus, orang baru dipakai beberapa kali saja tapi karena sudah lama dan jarang dipakai. Kalau di Indonesia, di Tasikmalaya, kampung saya, tidak usah bingung-bingung berpikir mau dikemanakan barang-barang ini, sebab tetangga belakang rumah pasti dengan senang hati jadi penadahnya. Di Johor saya kebingungan, siapa yang mau menampung barang-barang ini. Kalau dijual ke Lori keliling yang membeli barbek, pasti cuma buku, kertas dan plastik atau besi yang dia mau, baju-baju?

barbek.jpg

Nasib baik waktu itu  ada lori keliling AMITHABA yang menampung barbek untuk kebajikan, panti jompo dan anak-anak cacat. Dia menerima apapun barbek sampai baju-baju. Waktu dulu dia datang ke rumah, saya tidak terpikir memberi barbek cuma uang alakadarnya sebagai sumbangan saja, eh…walaupun memberi sumbangan sedikit pakai kwitansi segala. Kwitansinya belum saya buang untungnya jadi pas lagi kebingungan seperti ini, si kwitansi itu yang mengingatkan karena disitu ada nama badan kebajikan sekaligus dengan web site dan no telephonnya. Jadi saya menelephon badan kebajikan itu dan janji besok mereka akan datang. Syukurlah….Mudah-mudahan bermanfaat.

Bagi siapa yang kebingungan seperti saya, ini alamat mereka :

PERSATUAN KEBAJIKAN ORANG_ORANG ISTIMEWA, No, 2, Jalan Banjaran 6, Kempas Baru, 81200 Johor Bahru, Johor. Tel: 07-2382612 Fax: 07-2382451.

Website : www.Bestoffer.com.my/childrenofgod

Kalau mau cepat hubungi saja Mr. AH KENT 012-7677314

Ada cerita kawan saya, dia pun punya baju-baju bekas lumayan banyak, mau dikirim ke Indonesia berat di ongkos. Waktu dia jalan-jalan di mall JUSCO, dia kenalan dengan cleaning servise mall tersebut. Ibu-ibu separuh baya. Waktu kenalan itu dia terpikir mau memberi baju-baju lama dia. Lalu dimintalah alamat rumah ibu itu, si ibu dengan senang hati memberikan alamatnya dan menyuruh kawan saya itu main ke rumahnya. Malamnya tanpa ditunda lagi, kawan saya mencari alamat ibu itu sambil membawa barbeknya dia. Keliling sana sini akhirnya ketemu juga alamatnya di Taman Universiti. Tetapi pas sampai di rumahnya, kawan saya ini, berkali-kali membaca alamat dan nomor rumahnya, “Betul ini kah rumahnya?” Ah betul sesuai sekali alamat rumah itu dengan yang dicatat, pernah terbersit dalam pikirannya, barangkali ibu itu bohong pakai alamat rumah orang. Rumah itu bagus dan ada mobil proton wira parking di terasnya. Mobilnya lebih bagus dari yang kawan saya pakai. Tahu sendiri, tidak ada student Indonesia yang mempunyai mobil bagus satu pun, semua nya mobil yang sudah pada uzur. Ih..kasihan deh kecele. Ini mobil para pelajar Indonesia.

mobil student Indonesia

 Kawan saya itu baru yakin pas si ibu itu ke luar rumah, tapi…karena malu kali, kawan saya itu langsung cabut tidak jadi mampir. Lalu dia berjanji, tidak akan menilai orang dari penampilan dan pekerjaannya. ha…ha pengalaman yang berharga ya Jeng!

Apalagi waktu lagi hangat-hangatnya bencana tsunami di Aceh dulu. Pelajar Indonesia menampung berbagai sumbangan untuk korban tsunami. Selain uang, banyak yang menyumbang baju-baju bekas. Kebetulan kali kata mereka. Baju itu sampai ber-truk di UTM saja untuk disumbangkan. Jadi masalah barbek ini tidak akan habis-habisnya selama penampung tidak ada. Apalagi orang-orang disekitar kita semuanya orang yang berkemampuan semua. Tapi itulah, mudah-mudahan kalau mau menyumbangkan baju, baju itu kalau bisa masih boleh dipakailah, minimal boleh dipajang di bundle gitu lho…

Barbek…….barbek.


Leave a Reply