Ngerumpi pagi
Perumahan di tempat saya tinggal ini, rumah teras, artinya rumah-rumah yang berderet dengan tetangganya, antara rumah yang satu dengan rumah yang lain hanya dipisahkan dengan dinding dan pagar kawat saja. Jadi kalau disebelah lagi ketuk-ketuk tembok pasti terdengar bunyinya ke rumah saya. depan ketemu depan dan belakang ketemu belakang.
Kalau saya lagi jemur baju, tetangga pun jemur baju di depan, otomatis ngobrol. Ngobrolnya bukan sekedar basa-basi tapi betul-betul ngobrol, sampai lupa waktu. Kalau pas saat dibelakang yaitu di dapur, ngobrol juga, walaupun sambil masak. Saya biasanya pendengar setia, soalnya agak malas sih cerita-cerita. Kalau tidak ngobrol dengan saya, tetangga saya ngobrol dengan tetangga lain.
Biasanya waktu mengobrol kira-kira jam 10 pagi sampai masak selesai. Obrolan mereka sering saya dengar, orang ngobrol teriak-teriak, antara dapur rumah yang satu dengan rumah yang lain, mereka ngobrol tapi di dapur masing-masing, bisa saling melihat juga dari kaca nako. Obrolannya macam-macam, masalah resep lah, masalah anak, masalah yang lagi hangat-hangat pokoknya seru. Kadang tertawa-tawa. Tapi walaupun begitu kerjaan selesai juga. Kalau tidak ngobrol pun pasti adalah sapa menyapa. Misalnya kalau saya lagi masak cabe lalu bersin, di sebelah yang jawab “Alhamdulillah”. Kalau disebelah ada yang terjatuh, panci atau wajan saya pun bilang “Apaan tuh?”. Atau kalau kita lagi masak yang harum-harum disebelah bilang, “Wah sedapnya, masak apa Ai?” begitu pun sebaliknya. Kalau Fahima menangis, tetangga pun panggil-panggil Fahima. Bayangin saja, cuma satu dinding, apa-apapun pasti kedengaran.
Tetangga saya orang Cina sering sekali marah-marah sama anaknya, sampai diikuti sama Fahima, pakai bahasa Cina pula. Tetangga saya orang India, anaknya selalu teriak-teriak, diikutin pula sama Fahima pakai bahasa Tamil. Hebat juga ya, lama-lama Fahima pandai pula bahasa Cina dan Tamil. Tapi itulah, ngerumpi pagi ini tidak bisa dihindari, sepertinya tidak seru kalau masing-masing terdiam. kecuali lagi sakit. Kalau ada yang absent pada bertanya, Kemana Ai? atau kemana kak Yah, atau kemana kak Ita, atau kemana si Aunti, atau kemana Luchmy, atau kemana kak Zah, dll. Heboh khan? Tapi jangan salah….ngomongin orang tidak pernah….Dosa kali. Untungnya kadang-kadang kita suka kirim-kiriman makanan, kemudian saling berbalas. Mudah-mudahan tidak saling pacu tikus ya.
May 27th, 2008 at 9:56 pm
wah rame atuh nya Teh.. kabayang, ngobrolna teh meni sok tararik pisan.. alias gogorowokan.. Teteh mah ngupingkeun we panginten, bari ngawaler, iye ke.. iye ke..?