Oh…Guru

16 Mei kemarin adalah hari guru. Guru adalah pahlawan tanpa jasa. Jasanya tidak terbalaskan dan pengorbanan mereka tidak ternilai besar maknanya. Walaupun guru adalah suatu bentuk pekerjaan juga, tetapi pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling mulia. Bukan hal yang mudah mengajar orang dari tidak bisa menjadi bisa, berkat guru inilah kini bertebaran manusia-manusia pandai di muka bumi ini, disegala bidang. Betulkah karena guru atau karena manusia itu sendiri yang pada dasarnya pandai? Tidak ada guru pun bisa belajar sendiri.

Tergantung ya! Yang jelas dedikasi guru yang tinggi dapat menciptakan anak murid yang cemerlang, betul itu ! Dedikasi itu dapat dirasakan dan tersimpan didalam hati, untuk tidak melupakan pengorbanan mereka. Ketika saya Taman kanak-kanak, ah…terlalu jauh kalau melihat perjalanan saya. Jadi saya pilih anak saya saja. ketika Farid dan Firda sekolah TK, pengorbanan guru TK, mulai mereka mengajarkan hal-hal kecil, seperti bagaimana adab masuk kelas, membuka sepatu dan merapikannya, belajar makan yang betul, didahului dengan cuci tangan kemudian membaca doa. Membereskan kembali mainan setelah bermain, merapikan buku-buku setelah belajar, belajar membaca, mengaji, menggambar dan bernyanyi. Saya pun bisa mengajarkan begitu sama anak-anak, tetapi anak-anak lebih senang mendengar apa kata guru, naluri kali ya. Pelajaran dari TK ini terbawa ke sekolah dasar, yang semakin lama pelajarannya semakin bertambah, dedikasi guru masih terasa, apalagi pas Farid EBTA kemarin, guru memberikan waktu untuk mengajar tambahan di hari libur, agar murid-muridnya bisa lulus. Dan seterusnya SMP lalu SMA dedikasi guru masih tetap membara agar murid-muridnya bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi lagi. Berapa besar gaji guru dibandingkan pengorbanan mereka. Itu tidak akan terbayarkan, pekerjaan mereka penuh dedikasi, dan nilai dedikasi inilah yang mahal harganya, kadang-kadang tidak semua guru memiliki dedikasi yang tinggi.

Masuk ke alam perkuliahan barulah terasa ada yang hilang, tidak ada lagi guru seperti di TK, SD, SMP dan SMA. Penuh dedikasi walaupun gaji kecil. Di Universitas ini, guru atau dosen gaji lebih tinggi, tetapi dedikasi untuk membuat anak muridnya pandai sudah berkurang, dosen tidak peduli apakah muridnya mengerti kuliah dia atau tidak, kadang-kadang seenaknya saja kuliah dibatalkan gara-gara ada job di tempat lain, kalau tidak mengerti disuruhnya kita cari di perpustakaan atau tanya sama kakak kelas. Duh…apalah artinya guru kalau demikian? Jadi dedikasi dengan semakin tingginya pendidikan adalah berbanding terbalik. Atau caranya memang demikian, karena selepas anak-anak SMA, mereka dianggap sudah mandiri. Tetapi sepatutnya dosen ini yang dapat mempengaruhi mahasiswa agar lebih terpacu semangatnya. Lebih banyak memberikan gambaran kearah mana minat mereka. Insya Allah, dosen demikian akan menjadi panutan. Suami saya kalau ditanya pasti akan antusias menjawab, siapa itu pak Harjoto? Siapa itu pak Mardjono, Siapa itu Bunsho Ohtani, mereka adalah orang yang berkesan di hatinya dan dijadikan panutan sampai sekarang. Tapi tak apalah, di hari guru ini saya ingin menyanyikan lagu untuk para guru yang berdedikasi tinggi.

Terimakasihku, kuucapkan. Pada guruku yang tulus. Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan. Untuk bekalku nanti. Setiap hariku, dibimbingnya. Agar tumbuhlah bakatku. kan ku ingat selalu. nasihat guruku. Terimakasihku guruku.

Di hari guru ini, Firda pun tak lupa jauh-jauh hari sudah mengingatkan saya untuk memberi hadiah sama gurunya. Tapi karena gurunya banyak, saya suruh dia memilih beberapa guru yang menurut Firda, Firda ingin memberinya. Ini dia alasan Firda.

DSC_7229.jpg

 


Leave a Reply