Welcome home…."Binal"
Sepuluh hari si binal di bengkel, rasanya kami tersiksa deh. Biasanya kalau dia ada, mau kemana saja dan kapan saja pergi kami diantarnya. Kemarin, tidak ada si Binal, asli jadi hemat sedikit, tidak ada jalan-jalan dan tidak ada jajan. Suami pergi ke kantor numpang sama om Keng Wei, Saya pergi ke sekolah anak untuk mengambil raport pun numpang sama Milah, untungnya teman-teman itu pada baik semua. Om Keng Wei nih tiap hari antar jemput suami saya, bahkan ketika hari sabtunya Farid, Firda dan Fahima ada kelas musik, dipinjamkannya mobil dia, mana sampai malam lagi. Duh terimakasih ya Keng Wei, kebaikan Keng Wei akan selalu kami ingat.
Hidup di Malaysia ini, mobil bukan sesuatu barang mewah lagi, tetapi suatu kebutuhan. Di sini tidak ada angkot yang setiap menit lewat, kalau mau pergi-pergi paling naik bis atau taxi. Tapi kalau naik bis, kita bisa kering kerontang karena kelamaan nunggu, waktunya tidak teratur, kalau naik taxi ongkosnya suka hati supir karena tidak pakai argo. Pengennya sih jalan kaki kemana-mana, tapi tempat yang satu ke tempat yang lain minta ampun jauhnya, naik sepeda tidak ada tempat khusus untuk jalan sepeda, mana jalannya ada yang berbukit-bukit lagi, kempor deh. Kalau melihat keadaan begini, saya jadi ingat kota Sapporo lagi. Kemana-mana naik sepeda, kalau agak jauh sedikit naik bis atau subway. Mau pergi kapan aja sesuka kita tidak akan risau tidak ada angkutan. Waktu kedatangan dan keberangkatan bis atau kereta bawah tanah selalu on time. Jadwal yang selalu saya tempel di rumah adalah jadwal keberangkatan bis dan subway, jadi aman saja kalau mau pergi-pergi bahkan janjian dengan temanpun selalu tepat waktu, cepat dan nyaman, ah jadi kangen saya…untuk kembali ke sana.
Tidak ada si Binal ini gara-gara saya nambrak mobil orang tempo hari, jadinya Binal harus masuk bengkel untuk di las, diketok dan dicat. Sabtu kemarin Binal pulang, waaaahhhhhh kinclong sekali, muantap deh. Saya jadi takut untuk memakainya lagi. Saking kinclongnya, waktu kemarin kami jalan-jalan dan parkir di Jusco, katanya si Binal diintai orang, petugas keamanan Jusco yang bilang pas kami mau pulang.
“Bang ini kereta abang?” tanya petugas keamanan
“Ya!” jawab suami saya
“Hati-hati bang, kereta abang kritikal. tadi diintai orang!” tegas petugas keamanan lagi, sambil bilang ke kawannya di walkitalki bahwa keteta GTI sudah ada pemiliknya dan mau pergi.
“Oh ya? Terimakasih ya!” jawab suami saya lagi, sambil masuk ke mobil. Di dalam mobil suami saya malah tertawa.
“Wah mobil kita mau dincar maling! hebat ya, berarti bagus nih mobil kita!”
E..e kok malah senang!! Dasar bapak Ad! Habis baru kali ini mobilnya kinclong, nanti kalau maling tahu dalamnya mobil kita, pasti dia gigit jari. Rupanya bukan GTI, tapi proton satria yang disulap jadi GTI, ih ketipu, kecian deh lo.
“Mulai sekarang kita harus kunci betul-betul ya!” kata suami saya. Iya deh……Welcome home Binal, kami kuangen sekali.

July 21st, 2008 at 7:09 am
salam. bagus tulisan2 dalam blog ini yang saya jumpa secara tak sengaja. Hati2 menjaga Satria GTi itu kerana kereta jenis itu (atau yg memakai topengnya) sering menjadi buruan pencuri.
Kawan saya menangis tidak berlagu bila menjumpai Satria GTinya (original) lesap di One Utama Mall di KL.
July 24th, 2008 at 6:34 am
Terimakasih ya, salam lagi…..