Terperangkap di lubang yang sama 2 x ????
Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan, sampailah pada tanggal 31 Juli, waktu yang ditunggu-tunggu kami sekeluarga. Pada tanggal tersebut keputusan hasil rapat jawatankuasa eksekutif (JE) UTM dapat diketahui. Tanggal 30 Juli mereka rapat tentang pengunduran diri suami dari UTM dan hasilnya bisa diketahui tanggal 31 nya.
Harap cemas bercampur aduk jadi satu. Harapannya masalah ini dapat diluluskan dan cemasnya terjadi tolak angsur yang memakan waktu lama. Soalnya suami siap mulai bekerja di UMP tepat awal September, kalau terlambat gara-gara menunggu surat berhenti, visa kami terkatung-katung, bulan September ini visa kami sudah habis. Aturannya visa majikan baru akan berlaku bila visa majikan lama di stop. Tapi dipikir-pikir kenapa mesti begitu? Visa UTM habis bulan September, jadi kalau diganti visa perpanjangan oleh UMP khan tidak ada masalah toh? karena UTM hanya sampai September saja walaupun kontrak kerja suami sampai tahun depan. UMP sendiri tidak masalah, malah kemarin suami di telephon untuk segera mengirimkan persyaratan mengurus visa agar bisa diurus secepatnya, seperti foto, kartu nikah, kartu kenal lahir dll.
Berdasarkan pengalaman, mengurus birokrasi di UTM harus agresif. Kalau tidak, kapan akan cepat kelar. Bisa jadi berkas kita akan terbiar diatas meja bahkan hilang entah kemana. Catat tuh Encik! Akhirnya pagi-pagi suami menelphon kantor pendaftar, bertanya apa hasil rapat tersebut.
“Belum tahu doktor! Sebab JE meetingnya di KL, jadi keputusannya belum sampailah” jelas pegawai di sana.
“Oke kalau begitu, kalau sudah ada, boleh hubungi saya secepatnya. No telp saya tahu khan?” pinta suami dengan lemah lembut. Maklumlah biar urusan lancar, orang dibalik telephon pun tidak merasa dipaksa-paksa, mudah-mudahan ikhlas ya! Dan memang saja orang tersebut bilang kalaupun belum siap sedangkan suami harus cepat pindah, surat itu akan dia kirim langsung ke UMP. Wah kalau begitu terimakasih atuh Cik!
Dan sorenya, suami di telephon pegawai pendaftar, bahwa bos no 2 UTM mau ketemu! Tak sabar deh! suami menelepon saya.
“Nanti Ad mau ketemu TNC, doain ya i!”
“Oke. Good luck ya!” canda saya. Saya tidak akan pernah lupa berdoa, karena itu pekerjaan saya selama ini, memohon dan memohon kepada Allah agar dilapangkan semua urusan. Menghitung jam, rasanya ingin telephon suami, tapi takut masih bicara dengan TNC. Tunggu sajalah. Kalau ada apa-apa pasti dia akan cepat kabarin saya.
Toet….toet. Suara telephon. Saya langsung angkat dan bertanya saja,
Saya : “Gimana Ad?”
Suami : “TNC membujuk Ad supaya tetap di UTM. Dia sudah tahu semua tentang masalah Ad. Jadi Ad di counter offer sama dengan UMP, tapi kerjanya di pindah ke UTM Kuala Lumpur. Nanti Ad akan dikasih laboratorium sendiri dan disuruhnya buat proposal, hari senin jumpa dia lagi”
Saya : “Kenapa di pindah ke KL?”
Suami : “Dia tanya alasan Ad pindah, Ad jawab ingin suasana baru. Karena ingin suasana baru ya di KL lah yang penting masih di UTM. Ai mau kan ke KL?’
Saya (untuk sementara sambil agak bengong) : “Alhamdulillah atuh”
Suami : “Nanti Ad cerita lagi di rumah. Sekarang Ad lagi di jalan nih!”
Herannya saya kok biasa-biasa saja ya, malah yang terpikir oleh saya saat itu. Cerita sudah dimuat di blog mau pindah, gimana meralatnya, tetangga dan semua sudah tahu kita mau pindah ke Pahang ternyata tidak jadi. Saya langsung cerita sama Farid, dan minta pendapatnya,
Farid : “Abang tidak suka KL, Abang lebih suka Pahang!”
Saya : “Kalau bapak harus juga pindah ke KL?”
Farid : “Ya tidak apa-apa deh, seterah bapak saja.” Dari dulu sampai sekarang yang tidak berubah dari Farid adalah tidak bisa bilang terserah. Selalu seterah saja padahal berkali-kali sudah saya larat. Bilang nama saudara Barra Kukuhmamia saja jadi Barra Kukumalu. Bilang da Adit jadi da Udin. Error nih anak. Kenapa kamu teh?
Firda lain lagi diajak kemana saja mau, “Ade mau, Ade mau!” selalu.
Ketika suami pulang dia langsung menunjuk saya sambil main-main, “Ai pasti suka ke KL ya? Hayo iya kan? Iya? Banyak tempat main, banyak mall, ada Mid Valley, ada IKEA. Tapi kita susah cari rumah, pasti dapat rumah yang kecil nanti. UTM KL kan dekat dengan raja Alang, tempat makan kita, wah tidak kebayang setiap hari makan enak, ada sate Padang, Pecel, ehm….sedap! Ad telephon bapak dulu ah!”
Eiy, apa tidak salah tuh! bukannya dia yang senang karena ada tempat makan enak. Dan suami pun asyik menelephon sang ayah, cerita panjang lebar nampaknya tidak ada yang tertinggal. Pada dasarnya bapak dan mamak mendukung sang anak dimana pun dia berada. Pokoknya yang terbaik mereka selalu minta dalam doanya.
Setelah beberapa jam pindah ke KL ini reda, suami tanya saya lagi.
“Ai suka KL atau Pahang?”
Saya : “Kalau Ai ikut saja. Asal hati Ad senang. Tapi nanti kita akan lebih konsumtif , mana boleh kita bisa nabung. KL kan kota besar, biaya hidup tinggi lagi”
Suami : “Tapi senang kan, tidak perlu susah-susah naik mobil, kemana-mana naik monorel. Kalau Ai naik mobil di KL bisa nabrak mobil orang lagi nanti, soalnya macet! tapi dimana kita cari rumah ya”
Ih, sok tahu Ah. Saya pun jadi terbawa suasana dan berpikir mencari rumah dimana, bahkan mengusulkan menyewa apartemen Vistana, karena tempat itu dekat raja Alang juga, tempat makan enak.
Suami : “Bagaimana tinggal di KL ya?”
Saya : “Tanya Nita Eka, mereka kan pernah tinggal di KL. Oh iya tanya bang Jaffar (tetangga sebelah rumah) dia kan lama di UTM KL!”
Akhirnya suami dan bang Jaffar ngobrol sampai azan magrib tiba baru selesai. Setelah mengobrol dengan bang Jaffar barulah pandangan suami agak terbuka sedikit. Bang Jaffar bilang, susahlah di UTM KL, sama saja dengan di Johor. Di Pahang itu sudah di depan mata, di KL ini masih janji, yang realisasinya belum jelas. Kalau Ad sudah buat proposal, baru offer itu akan dibuat. Kalau abang jadi Ad, abang pilih Pahang.
O..o, berpikir kembali. Ditelusuri baik buruknya, bagaimanapun juga ternyata Pahang lebih menjanjikan untuk karir dan masa depan. UTM KL tidak akan lepas dari orang-orang UTM Johor. Student pun semuanya fakulti UTM Johor yang menentukan. Itu namanya bukan suasana baru. Suasana baru yang betul ya pindah ke Pahang itu. Akhirnya telephon Bapak dan mamak lagi di Padang. Kami berdiskusi lagi dan akhirnya diperoleh keputusan PINDAH KE PAHANG, keputusan ini sudah bulat…lat…lat. Dan dibuatlah surat menolak tawaran yang rencananya hari senin mau diserahkan ke TNC. Lewat surat saja tidak usah ketemuan, nanti suami akan terhipnotis lagi dengan bujukan manis sang bos, Insya Allah kami tidak mau terperangkap di lubang yang sama untuk yang ke-2 kalinya. Betul tidak keputusan ini? Mudah-mudahan……