Puas nikmat tanda syukur

Jangan karena istilah “namanya juga manusia“, kita jadi terbiasa memaklumi segala tindak-tanduk orang yang melalukan kesalahan. Kalau sekali karena memang khilaf, bolehlah ada toleransi tetapi kalau berkali-kali atau bahkan dilakukan turun temurun sampai anak cucu, apakah perlu toleransi lagi? Betul juga amaran Qiamat sudah dekat, agar manusia cepat sadar dari segala kekhilafannya.

Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan paling sempurna, diberi akal dan pikiran untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Dengan akal dan pikirannya manusia bertanggung jawab untuk mempergunakan dan memanfaatkan segala isi muka bumi ini. Manusia tidak hidup sendiri, tetapi berjuta bahkan bermilyar orang serta mahluk lain yang hidup disekelilingnya. Jadi Allah tebarkan rezeki untuk seluruh mahluk hidup ini sesuai dengan takdir dan nasib mereka masing-masing. Kita tidak bisa merubah takdir karena itu adalah ketentuan Allah, tetapi kalau melawan nasib kita mendapat kesempatan untuk merubahnya. Sebagai manusia yang penuh kekurangan di mata Allah kita seharusnya bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah berikan. Kita harus merasa puas dengan nikmat yang Allah berikan, karena puas nikmat tandanya kita bersyukur. Betul tidak? (ngikutin Aa Gym)

Beberapa hari yang lalu, saya dan suami pergi ke konsulat Indonesia Johor Bahru, ada beberapa dokumen yang harus dilegalisir untuk kepentingan pengurusan visa di Pahang. Untung saja ada pak Ridwan, staf tetap konsulat yang baik hati, menolong urusan kami ini jadi lancar, kalau tidak kami akan menunggu giliran bersama para TKI dan orang-orang lain yang lagi berurusan disana, padahal cuma legalisir saja. Perlunya ketebelece di situasi seperti ini adalah keharusan, kalau tidak memang menderita deh. Coba bayangin saja, saya harus menunggu lama untuk mendapatkan cap saja, padahal saya membawa Fahima, yang tentunya tidak sabar menunggu dan sudah pasti rewel. Masalahnya di konsulat tidak ada mesin no urut sih, kalau ada mesin itu tentunya urusan lebih tenang dan nyaman. Dan orang-orang yang berurusan pun pasti akan sabar menunggu kepastian. Tidak bertanya-tanya kapan urusan saya bisa selesai. Dengan banyaknya orang bertanya otomatis pegawai konsulat akan kewalahan dan akhirnya marah-marah. Kejadian seperti itulah yang pernah saya lihat di konsulat.

Pegawai yang biasa mengurus cap mengecap ini kebetulan sedang ke luar, jadi kami disuruh mengambil hari senin soalnya waktu itu hari jum’at jam kerja terbatas . Tidak apa-apa deh, toh tidak terlalu buru-buru tapi ingin cepat juga sih. Pak Ridwan melayan kami dengan ramah, lalu kami diantarnya ke pintu depan. Tetapi di luar hujan lebat, jadi terpaksa saya tunggu dulu di konsulat, suami pergi ke tempat parkir, tempat parkirnya jauh di atas dekat musium negara. Pak Ridwan menelephone penjaga gerbang untuk meminjamkan payung kepada kami, lalu beliau bertanya kenapa mobilnya tidak diparkir di dalam halaman konsulat,

Saya : “Memang boleh gitu pak?

Pak Ridwan : “Boleh aja, kenapa tidak?”

Saya : “Kirain…nggak boleh!” . Sebelumnya saya minta suami untuk parkir di dalam tapi suami bilang susahlah, jadi kami parkirnya jauh dan harus jalan kaki ke konsulat. Kalau sudah hujan kan malah tambah susah. Akhirnya suami bisa memasukkan mobilnya ke halaman konsulat dan menjemput saya. Alhamdulillah. Nuhun ya pak Ridwan.

Hari seninnya kami berjanji mengambil dokumen itu pada sore hari, dan sekarang parkirnya di halaman konsulat, bilang saja mau ketemu pak Ridwan pintu gerbang lansung di buka. Eng…ing…eng si binal masuk. Saya tidak ikut turun karena Fahima tertidur jadinya suami saja yang mengambil dokumen.

Tahu tidak? Di halaman itu si binal saja yang paling kere, yang lainnya mobil mewah ber no plat merah. Wuih……cek…cek. Ini fasilitas yang luar biasa, baru mobil saja belum yang lainnya. Memang sesuailah dengan pekerjaannya, melayan masyarakat Indonesia di negeri orang dengan segala permasalahannya, pekerjaan yang penuh amanah dan bisa bikin stres. Mudah-mudahan dengan segala fasilitas yang memadai ini kualitas kerja pun jadi lebih baik dan bertanggung jawab.

04082008145.jpg 

Rumah pak konjen yang ada di Johor bahru pun tanggung besarnya, berbagai kegiatan bisa dilakukan di sana. Seperti kemarin ada pertandingan volley antara masyarakat Indonesia disana (baik itu pelajar maupun pekerja) dalam rangka memeriahkan hari merdeka. Kami datang juga bersama kang Asep dan istri yang mau ketemu sama pak Ridwan dan istrinya. Terjadilah pertemuan pengembara Sunda disana.

09082008153.jpg09082008150.jpg09082008151.jpg

09082008197.jpg09082008152.jpg

Yang tidak habis pikir, sudah diberi fasilitas yang lengkap, gaji besar dengan berbagai tunjangan ada juga yang masih belum PUAS. piye toh? Malu dong. Korupsi terdengar dimana-mana. Tidak di luar negeri tidak di dalam negeri. Apalagi wakil rakyat, rakyat sudah mempercayakan tugas kepada kalian, malah setelah duduk di kursi panas jadi lupa, tidak ingat rakyat lagi, yang diingat 2D, diri sendiri dan duit. Itukah yang namanya manusia?  Wakil rakyat juga manusia? Harus dimaklumi? Berarti mereka ini tidak tahu apa itu syukur? Tidak pernah puas dengan nikmat yang sudah didapat. Ini peringatan buat kita, pilihlah orang untuk menjaga amanah kita orang yang betul-betul tahu apa itu syukur. Caranya dengan melihat PKS yaitu Perilaku, Keluarga dan Semangat. Bagaimana perilaku dia selama ini, lihatlah keadaan keluarganya apakah dia bisa memimpin keluarganya, lihatlah semangatnya apakah misi dan visinya bisa dipertanggungjawabkan. Tidak salah kalau kita memberi sebutan mereka-mereka itu KKN yaitu Kelompok Kufur Nikmat. Eit…..singkatan melulu nih ye!

Karena kami sekeluarga tidak mau dibilang KKN maka kemarin waktu pergi ke pesta durian, orang lain membeli borongan kami hanya beli satu saja, tapi sedapnya memang…best lah. Durian tembaga. Yang penting sudah merasakan durian enak walaupun isinya cuma 5 ketul dibagi bertiga, alhamdulillah puas dan bersyukur deh.

09082008210.jpg09082008209.jpg09082008207.jpg09082008208.jpg


No Responses to “Puas nikmat tanda syukur”

  1. iffah Says:

    ceu jadi ngiler liat durennya sayang dirumah pada gak doyan duren kecuali saya,hiks

  2. Terry terikoh Says:

    Sami, sebenarnya saya aja yang suka, Hadi dan farid itu mah dipaksa. Firda sama sekali cium baunya aja udah tutup mulut. Kita berdua saja pesta duren yuk!

  3. iffah Says:

    hayuk siapa takuut hehehhe kapan2 kita masak bareng yuk ceu cobain resep, akhir2 ini penyakit malas masak lagi kumaat nih kumaha atuuh aya saran?

  4. Terry terikoh Says:

    boleh….boleh. Bukan iffah saja kayaknya yang kena virus malas masak. Saya pun iya juga. Setiap masak pasti sisa terus dulu sampai ludes. saran nya kita harus banyak jajan, nyobain makan2 enak, dari situ kan pengen nyoba buat sendiri…..(yey sama aja boong, tambah malas lagi kali!)

  5. asep Says:

    mudah2an banyak hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini teh,,
    salah satu hikmahnya, saya dan istri saya bisa maen lagi ke rumah teteh,, (gak nyambung ya,, biarin ah)

  6. Terry terikoh Says:

    Eh sep puguh muhun abdi hoyong tutug oncom geura (ini baru tidak nyambung), he..he

Leave a Reply