Sehat itu mahal lhoh…
Kalau kita mempunyai sesuatu yang mahal, atau sesuatu yang teramat berharga, tentu saja kita akan merawat sesuatu dan menjaga sesuatu itu dengan baik, kita tidak mau dia rusak atau hilang. Begitu pula dengan kesehatan kita. Kenapa kok sehat itu mahal? Karena kalau sudah sakit, mau sehat saja harus banyak pengorbanan dan kadang kala memerlukan biaya yang tidak sedikit. Walaupun sebenarnya sakit itu di luar kuasa kita sebagai manusia. Tetapi sakit itu bisa dicegah dengan menanamkan pola hidup dan makan yang sehat, pepatah mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati.
Saya rasa, di negara mana pun, rumah sakit swasta dari segi pelayanan dan pengobatan jauh lebih baik dari rumah sakit negeri. Karena itu, biayanya pun jauh lebih tinggi. Bagi orang yang berkantong tebal tidak masalah, tetapi bagi orang-orang biasa tentu itu menjadi bahan pertimbangan untuk tetap memilih rumah sakit negeri. Makanya di rumah sakit negeri pasiennya lebih membludak dibanding rumah sakit swasta. Kadang-kadang orang ada yang tidak kebagian kamar atau bahkan kekurangan dokter. Sehingga calon-calon dokter dikerahkan untuk menjadi dokter di rumah sakit tersebut. Kesempatan….bagi mereka, banyak pasien yang bisa dibuat sebagai kelinci percobaan. Karena baru belajar, alhasil banyak pasien yang menjadi korban, bukannya tambah sembuh malah tambah sakit.
Ada beberapa kasus di Malaysia, yang membuat saya harus berhati-hati. Beberapa bulan yang lalu ada 2 orang bayi harus diamputasi tangannya karena tersalah suntik waktu imunisasi. Itu adalah ulah para calon dokter. Dapat dibayangkan betapa sedih para orang tuanya, mengingat nanti anaknya akan cacat, cacat yang disebabkan kelalaian. Memang para calon dokter secara teori sudah belajar, tetapi prakteknya mereka tetap harus didampingi oleh dokter sungguhan. Karena bagaimanapun pasien adalah manusia, apabila tersalah pengobatan akan menimbulkan masalah dan si dokter bisa dituntut ke pengadilan.
Kemarin saya di telephone Afifah, bahwa pak Agus sakit dan sudah seminggu dirawat di rumah sakit Tun Aminah Johor Bahru,
Afifah : “Sudah baca sms saya ceu? Itu pak Agus dirawat di rumah sakit, sudah seminggu. Tidak ada yang tahu coba ceu. Kemarin kami nengok rame-rame, aduh keadaannya memprihatinkan. Tangannya tidak bisa digerakkan sebelah. Lalu dia ditempatkan di bangsal-bangsal gitu ceu. Kan dia pensyarah UTM, tentu dia mendapat tempat yang layak sesuai statusnya di rumah sakit tersebut, iya kan ceu? Makanya pak Yunan mencoba mengurus surat keterangan dari UTM untuk rumah sakit, takutnya bu Agus tidak sempat ngurus. Mau ikut nengok tidak siang ini?”
Wah ini, kejadian untuk kedua kalinya buat pak Agus nih, tahun lalu pas bulan puasa juga, dia dirawat di rumah sakit yang sama gara-gara gula. Saya tahunya, anaknya pak Agus yang satu kelas dengan Firda, sudah seminggu tidak sekolah. Pas saya telephone, rupanya bukan Ueda yang sakit tetapi bapaknya. Kali ini tidak tahu karena anak-anak lagi libur sekolah, kebetulan anak-anak kelas 6 sedang EBTA, untung Afifah telephone, kalau tidak saya memang betul-betul tidak tahu.
Akhirnya saya telephone suami untuk menengok sama-sama dengan pak Yunan dan pak Handoyo, juga Afifah sekali sebagai guide karena kemarin dia sudah pernah nengok.
Alasan bu Agus diam-diam adalah karena segan saja untuk memberi tahu sama teman-teman. Kok segan? Di rantau ini, teman adalah saudara, kalau ada apa-apa tentu teman-teman inilah yang harus menolong, betul tidak?
Sesampai di rumah sakit, betul saja kata Afifah, pak Agus dan istrinya lagi duduk-duduk di luar bangsal, karena di dalam kamar yang terdiri 8 orang sudah sumpek, apalagi orang yang di depan dan sampingnya, sebanyak 4 orang sudah meninggal kemarin. Tambah tidak betah.
Pak agus adalah senior lecturer di UTM, kalau sakit dia mendapat fasilitas di rumah sakit negeri di tempat first class, minimal 3 orang sekamar. Tetapi kenyataannya kemarin dia ditempatkan di kelas biasa, cuma yang membedakan dia dengan orang lain adalah di tempat tidurnya di pasang tulisan kelas satu atau kelas dua. Pelayanan sama saja tidak ada yang membedakan. Kami datang waktu itu membawa surat sakti dari UTM, dengan maksud agar pak Agus mendapat tempat yang seharusnya di RS, kalau perlu ada tenaga obor yang sekali-kali bisa membakar yaitu pak Yunan dan suami (maksudnya siap marah-marah, he..he bercanda deng). Tetapi rupanya pak Agus ngotot minta pulang, walaupun belum sehat benar, tambah stress dia di rumah sakit, hasil diagnosa pun masih diragukan. Katanya tangan pak Agus yang tidak bisa digerakkan itu terkena kuman di dalam. Gula nya oke, tetapi tekanan derah rendah 40/20. Kemarin katanya mukanya dan tangannya bengkak, sekarang sudah mulai kempes. Matanya saya lihat agak kuning, takutnya tersalah obat atau kelebihan obat. Pas saya lihat tangan kanannya lebam-lebam, rupanya para calon dokter susah mencari jalan untuk mengambil darah. Wah….wah gawat pak! kalau keterusan di rumah sakit bisa-bisa tambah penyakit pak, bukannya tambah sembuh. Keputusan pak Agus pulang memang betul untuk sementara daripada stress. Jadi surat sakti yang dibawa-bawa pak Yunan tidak berlaku deh.
Saya sempat bertanya sama misi atau perawat senior disana kenapa pak Agus kok ditempatkan disini? Khan pak Agus pensyarah UTM? Jawabnya,
“ Keadaan pak Agus tidak stabil, jadi dia ditempatkan disini, kalau di bilik yang seharusnya tidak ada dokter, sedangkan di sini ramai, jadi kalau ada apa-apa perlu tenaga dokter akan cepat di tangani.”
Saya dan Afifah “O…O!” tetapi dalam hati kok bisa? Aneh deh, Tapi tak apa lah.
Sekarang pak Agus sudah pulang, yang sabar ya pak! Mudah-mudahan cepat sembuh. Insya Allah pelayanan istri tercinta salah satu obat mujarab buat bapak, apalagi bu Agus pun jago masak, dengan masakan bu Agus bapak bisa cepat pulih. Kami berdoa selalu untuk kesembuhan bapak! Kalau ada apa-apa, jangan segan memberitahu kami ya, Insya Allah kami siap membantu semampu kami, minimal penambah semangat dan penceria suasana. Seperti kemarin di rumah sakit kami banyak tertawa karena pak Yunan kocak buanget dengan cerita-ceritanya.
Pengalaman saya lain lagi. Waktu mau melahirkan Fahima 2 tahun yang lalu, saya datang ke rumah sakit Kulai, negeri juga. Memang kehabisan tempat tidur, tidak ada tempat sama sekali. Yang kosong malah ruang VIP. Satu kamar di tengah-tengah dan berAC lagi. Akhirnya saya yang harus di kelas satu dapat deh tidur nyaman di ruang VIP. Besoknya ada yang harus masuk dan saya pun terusirlah, malah ke kelas 3 karena di kelas itu yang sekarang kosong. Semua pelayanan tetap sama, yang membedakan saya dengan mereka, makanan! Menu sama tetapi tempatnya berbeda, mereka piring stainless steel, saya piring porselin, itu saja.
September 16th, 2008 at 4:45 am
bener pisan ceu, kesehatan itu sangat berharga bila kita sdh merasakan sakit, semoga kejadian diatas tidak terjadi kembali pada kel. Pak Agus dan kita semua yah, dan semoga Allah memberikan kesembuhan buat Pak Agus dan bisa kembali bekerja seperti semula amiin.
September 16th, 2008 at 7:32 am
iya amin ya robbal alamin