Hari Ibu bersama DR. Nursanita Nasution

Wah….bener rugi deh, apa yang dibilang pak Azhari itu betul. Rugi kenapa? Rugi karena saya tidak bisa mengikuti keseluruhan acara seminar sehari bersama DR. Nursanita Nasution.

undangan seminar

Seminar dalam rangka memperingati hari ibu yang diprakasai oleh PIP PKS JB, masalahnya si baby kecil saya yang sudah mulai toddler ini, rewel. Diajak ke dalam menangis, di luar pun menangis jadinya saya keringatan sendiri deh, duh…sabar ibu. Nasib baik tangan ini enggan mencubit, kalau saja terjadi…wah Fahima menangisnya gak berhenti-berhenti kali.

Kalau kakak Firda ikut tentu ibu bisa leluasa ikut seminar, sayangnya kakak Firda lagi ikut pertandingan taekwondo sama abang di Skudai Parade. Setelah diajak kelililing lihat kolam renang, barulah agak tenang sedikit. O…o rupanya dia mengantuk. Syukur deh, saya ayun-ayun baby car nya dan alhamdulillah…dia tertidur. Sessstttt….. saya bisa ikutan seminar kedalam. Tapi sayang…..seminar itu sepertiga akhir dan tinggal tanya jawabnya. Tapi tidak apa-apa walaupun sedikit, manfaatnya besar buat saya. Selain itu saya bisa menyaksikan Rela & friends bernasyid……Suaranya merdu-merdu deh. Saking merdunya  serasa dibuai nyanyian dari kejauhan. He…he suaranya tidak lepas ya jadi kurang keras deh, apalagi mikrophonenya cuma satu, yang nyanyi 5 orang. Tapi kami terhibur kok.

Rela n Friends bernasyid

Seminar dalam memperingati hari ibu kemarin, berbicara mengenai wanita yang berdaya. Memang sesuailah dengan moment hari ibu sebenarnya. Hari ibu sebenarnya bukan sekedar hari untuk memperingati keberadaan ibu-ibu di belahan Indonesia ini, tetapi memperingati kebangkitan para wanita Indonesia untuk sama-sama berkiprah di segala bidang di belantara dunia kehidupan.

Tugas para ibu yang tidak kalah beratnya dibanding dengan para bapak atau lelaki adalah kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh. Tugas para ibu yang bisa menjaga kestabilan hiruk pikuk dunia dari segala macam halangan dan godaan dengan menjaga dan mengantar seorang anak menjadi manusia yang berkualitas, makanya tuntutan para wanita Indonesia zaman dulu adalah persamaan hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan untuk para wanita agar menghasilkan manusia yang cerdas. Cerdas dalam arti manusia yang mampu mennghadapi perjalanan hidupnya untuk apa!

Makanya wanita sekarang sesuai tuntutan zaman, harus berdaya. Keharusan bagi wanita sekarang harus memiliki daya atau potensi, diantaranya daya Ruhiyah atau spiritual, daya struktural, daya emosional, daya intelektual, daya management, daya fisik Dll. Komplit….deh.

seminar seminar seminar seminar

Tidak heran sekarang wanita Indonesia sudah banyak yang menjadi wanita-wanita perkasa penuh daya. Ada yang menjadi wanita karir, termasuk bu Nursanita kali ya? Wanita yang aktif ikut memikirkan arus politik bangsa sebagai anggota DPR, kemudian sebagai ibu dari 7 orang anak, sebagai tenaga pengajar di UI.

Lalu saya? sebagai wanita biasa, ibu rumah tangga biasa. Saya dan Ibu Nursanita memang dari lahir jalur nasibnya sudah berbeda. Semasa sekolah dulu, ibu Nursanita sudah menjadi aktifis, sedangkan saya pasifis. Ibu Nursanita banyak peduli sama lingkungan, saya terjebak oleh lingkungan. Wah…kalau cerita zaman-zaman dulu, luka-liku perjuangan hidup saya, susah……..Untung saya bisa masuk ITB itu karena jalur PMDK, kalau tidak saya mungkin tidak bisa kuliah karena keluarga yang serba kekurangan,…hu…hu pengen nangis kalau melihat masa lalu. Jangankan memikirkan lingkungan untuk memikirkan diri sendiri saja tidak bisa. Kalau saja…tidak ada orang yang berbaik hati kepada saya, yang membayarkan separuh uang kuliah saya, entahlah jadinya apa saya ini. Terimakasih untuk kel Avalpo Suprayogi dan terimakasih juga untuk suamiku yang siap membantu saya dalam masa-masa sulit dulu, sama-sama mengerjakan tesis sampai bisa lulus sama-sama…..cieu.

Tapi dari pengalaman masa lalu itu saya merasa nampaknya hidup saya memang sudah harus begini adanya. Saya salut sama wanita karir tetapi saya bangga dengan ibu rumah tangga saja. Yang penting saya punya ilmu, bekal hidup saya. Saya tidak menyesal sekolah tinggi-tinggi akhirnya jadi ibu rumah tangga biasa. Cuma sesekali kadang-kadang bosan saja, dan tidak bisa merasakan enaknya uang dari jeripayah sendiri. Karena ibu Nursanita bilang dan didalam islam sendiri, kalau wanita bekerja, gajinya 100 % milik dia sendiri bukan milik suami, itu saja perbedaan antara wanita karir dan ibu rumah tangga. Wanita karir bisa ngelmu dari lingkungan tempat dia bekerja, ibu rumah tangga pun bisa ngelmu dari suami, teman, dan anak-anak.

Mentang-mentang ingin jadi wanita berdaya, lalu ada wanita yang menjadikan obsesinya dengan memilih jadi istri simpanan atau istri kedua, ketiga dst dari suami berdaya atau para pejabat……..Naaah bagaimana ini? Itu salah satu pertanyaan dari peserta. Bu Nursanita bilang, tidak betul itu. Dimana-mana baginya yang mau dijadikan istri kedua atau ketiga atau seterusnya itu bukan wanita berdaya apalagi jadi istri simpanan. Pada hakekatnya walaupun poligami itu dibolehkan didalam islam, kalau tujuannya tidak masuk akal kenapa menikah lagi, dia kurang respek…….ya betul saya juga! Jadi lebih baik menjadi istri yang pertama dan terakhir. Caranya kita harus pandai-pandai menjaga hubungan keluarga dengan komunikasi yang harmonis. Insya Allah….langgeng katanya….

berphoto bersama panitia lagi berphoto bersama panitia

Break….break…Fahima bangun dan menangis lagi akhirnya saya pun keluar ruangan seminar lagi. Sampai selesai deh. Terakhir bu Nursanita berjanji kalau dia terpilih lagi menjadi anggota legislatif di tahun mendatang, dia akan selalu berusaha memperjuangangkan hak-hak para wanita terutama para TKW untuk mendapatkan “Ilmu” itu dengan adanya trainning center. Dan disarankan agar para wanita dan ibu, semangat mencari ilmu, baik itu dengan membaca atau usrah, minimal satu minggu sekali. Kalau ada sembarang keluhan atau masalah boleh hubungi dia, kapan saja. Jadi pilihlah dia…..(kata Krisdayanti)….dia siapa? ya PKS…hayo…hayo saya yang yang kampanye jadinya….. Tapi saya tidak memaksa lho….Pemilu nanti, pilihlah pemimpin yang sesuai dengan hati nurani kita, dan lihat pemimpin itu apakah mereka bisa menjaga amanah atau tidak. Setuju?????? Hayo siapa takut???

kartu nama Bu Nursanita Kartu nama bu Nursanita


Leave a Reply