Kali pertama
Barangkali bagi mereka yang sudah pandai meyetir mobil, membawa mobil adalah hal yang biasa dan gampang saja. Tidak ada istimewanya. Bagi saya yang baru belajar, bisa membawa mobil sendiri adalah sesuatu yang luar biasa. Bener-bener pengalaman yang mendebarkan. Perasaan jantung berdebar lebih kencang seperti beduk lebaran…tidak mengenakkan. Perasaan ini selalu datang ketika mau menyetir mobil, tangan pun berkeringat…ah pokoknya teu enak cicing da kalau dalam bahasa Inggrisnya mah.
Pengalaman dulu, menabrak mobil orang selalu terbayang-bayang, mau tekan rem eh malah tekan gas. Jadinya ketika menyetir sekarang, ekstra konsentrasi, jangan sampai salah tekan lagi. Nasib baik suami memperhatikan kelemahan saya, konsentrasi akan terbagi kalau kita menyetir mobil manual, karena di satu sisi kaki dan tangan kita menekan kopling dan memindahkan gigi, di satu sisi perhatian kita ke jalan. Oleh sebab itu suami mengusahakan mobil otomatis untuk saya. Alhasil saya bisa langsung membawa mobil dengan mudahnya karena tinggal atur gas dan rem, tidak usah mikir mindahin gigi segala. Tapi kadang-kadang feeling belum ngena, jadi sering sekali klakson mobil di belakang berbunyi karena saya jalan terlalu lambat atau ketika belok di belakang tiba-tiba mobil datang dengan kencangnya. Memang harus sering latihan muter-muter.
Sekitar rumah ke UTM boleh dikatakan saya sudah penuh percaya diri deh, tetapi kalau agak jauh masih ragu. Masalahnya kalau tidak coba kapan bisanya ya? Minggu kemarin suami saya pergi induksi pensyarah asing di Melaka selama seminggu. Saya betul-betul harus mandiri kalau ada hal-hal antar jemput anak-anak. Kebetulan si Firda ada camp di sekolahnya dan keesokan harinya saya harus menjemput ke sekolah. Sekolah Firda dari rumah lumayan jauh, ada kurleb 30 Km, lagian jalan menuju sekolah itu agak sibuk dan banyak truk. Duh…siang malam kepikiran sama saya, mudah-mudahan deh Firda inisiatip menumpang sama orang dan menelpon saya tidak usah menjemput. Acara Firda selesai jam 3.30 sore tapi dari pagi jantung saya ini berdebar terus.
Sampai mendekati jam nya, suami menelpon saya supaya jangan lupa menjemput Firda, saya bilang, “Oh iya lupa ya…sebentar lagi mau pergi!” Padahal mah ini sesuatu yang tidak terlupakan….saya mengulur-mengulur waktu saja, sambil menunggu telephon dari Firda, mengulur waktu maksudnya biar tidak terlalu ramai di sekolahnya karena kebanyakan para orang tua pasti menjemput juga. Karena Firda tidak menelphon-menelphon juga, akhirnya saya ditemani Farid jadi deh meluncur ke sekolah. Tahu tidak? ini yang dibilang amazing buat saya, awalnya mendebarkan, setelah di jalan alhamdulillah lancar………,malah kata si Farid ibu kok ngebut-ngebut. Perasaan mendebarkan itu hilang, malah saya tampak berani, yang penting sering-sering lihat kaca spion ke tiga-tiganya, kiri, kanan dan tengah (pesan suami selalu saya ingat). Waktu saya jalan kemarin, jalanan seperti sepi padahal biasanya ramai, jadi mau U turn di Skudai menuju Impian Emas dengan aman saya lalui. Alhamdulillah, disepanjang jalan saya berdoa penuh harap pada Allah, agar di mudahkan dalam perjalanan ini. Bahkan saya sampai memohon pada Allah, kalau saya harus mati jangan di jalan raya, jangan susahkan orang-orang tersayang, kalau harus mati selagi tidur atau selagi sholat saja tidak apa-apa. Itulah saya….dan Allah mengabulkan..
Ada yang pelik, ketika saya sudah sampai ke sekolah Firda, khan saya mau belok ke halaman sekolah sebelah kanan tapi penuh, padahal lampu isyarat kanan saya on kan. Di belakang banyak truk lagi, eh..kesalahan saya, saya lupa menukar sign lampu ke kiri dengan cueknya saya belok ke kiri, di belakang truk yang mau maju ngerem mendadak, katanya hampir nabrak mobil kami kata si Farid. Tapi supir truk itu tidak menglakson saya ataupun marah-marah malah memberi jalan,…Ya Allah terimakasih, kalau Engkau menghendaki semua akan terjadi apapaun diluar kehendak manusia. Mendengar keterangan Farid itu, termenung juga saya, itu kesalahan terbesar saya, jangan cuek….!!
Di sekolah sudah sepi, Farid turun mencari Firda tapi Firda sudah tidak ada, kemana ya? Saya telephon kak Iza jangan-jangan Firda numpang sama dia, Eh…betul saja Firda numpang sama kak Iza. Kak Iza ini baik sekali, selalu kalau ada apa-apa mengajak Firda pulang bersamanya. Pas kak Iza tahu saya jemput Firda ke sekolah sendiri , komentarnya, “Wah..dasyatnya Ai..!”. Akhirnya saya disuruh ngambil Firda di rumahnya dan kak Iza minta tolong, ada anak tetangganya yang masih tinggal di sekolah, mau ikut kak Iza mobilnya penuh jadi tumpang saya. Saya tidak masalah.
Perjalanan pulang pun alhamdulillah lancar, kesalahan saya satu lagi, saya asyik saja berjalan di sebelah kanan, maksudnya kalau belok ke Impian Emas kembali bisa lebih gampang. Rupanya setelah sadar kok kenapa mobil banyak menyalib saya di sebelah kiri? Rupanya saya berjalan pelan..padahal 60 Km lho, berarti mobil itu kencang-kencang. Lagi-lagi mobil-mobil itu tidak ada yang mlototin saya, baguslah mungkin gara-gara label P di mobil saya, jadi harap maklum saja yah….
Akhirnya saya sampai di rumah kak Iza, kak Iza berhamburan keluar bersama anak-anaknya dan mengasih salam sama saya, “Alhamdulillah!” katanya. “Nanti Ai akan biasa!” Terimakasih kak Iza…….Kak Iza pun tertawa mendengar kisah kali pertama saya ini.
Sesampainya di Rumah, saya langsung sujud syukur, Terimakasih banyak-banyak Ya Allah, kami selamat sampai di rumah. Dan besoknya saya pun tambah semangat berlatih, muter-muter Taman U, Jusco dan Giant. Kemudian pulang lewat Pulai Spring yang lumayan rawan juga kalau belok dari situ menuju Taman Sripulai. Tapi itu dia..di Jusco dan Giant saya memilih parkiran yang menyendiri, takut menabrak mobil orang lagi, tidak apa-apa mobil parkir kepanasan, yang penting aman. Betul tidak? Nah tadi malam nih saya pun coba menyetir malam ke Jusco, dan alhamdulillah..aman. Jadi kita akan bisa kalau biasa, tinggal melatih parkir saja yang masih miring-miring. GANBATTE KUDASAI…
