Bila rasa itu ada…..
Manusia itu mempunyai sifat selalu merasa tidak pernah puas dan akhirnya lupa bersyukur. Ampunilah saya ya Allah karena saya pernah mempunyai rasa seperti itu. Rasa yang datang menyelinap di relung-relung hati, entah ini perasaan yang datang karena kekecewaan, jenuh atau lupa diri. Sebenarnya simple saja yang rasakan ini, tetapi Allah langsung menegur saya dan saya kembali sadar, bahwa pikiran-pikiran saya itu tidak benar malah sebaliknya saya harus bersyukur atas nikmat dan KaruniaNYa yang telah Dia limpahkan kepada saya.
Ini tentang Fahima. Akhir-akhir ini, Fahima semakin banyak ulahnya. Semakin besar semakin banyak perangainya. Sudah makan susah minta ampun, kalau habis mandi pilih-pilih pula dalam memilih baju. Kalau rewel mah itu memang sudah kebiasaannya. Mungkin pekerjaan saya semakin banyak, karena anggota keluarga juga bertambah. Beda dengan dulu, waktu masih mengasuh farid seorang, semua perhatian tertumpu padanya, alhasil perasaan saya kok Farid kecil ini anteng banget. Lahir Firda, masih ringan, tetapi tidak seleluasa waktu Farid kecil dulu. Firda cengeng dan meminta perhatian lebih, Mungkin karena perhatian terbagi dengan Farid yang sudah mulai sibuk sekolah.
Sekarang Fahima, dia meminta lebih lagi, sedangkan perhatian saya harus dibagi 4. Bapak ad yang sibuk, Farid dan Firda yang sudah mulai banyak kegiatan, juga pekerjaan rumah tangga, seperti masak, setrika dll, yang banyak menyita waktu. Nampaknya Fahima menuntut haknya dia untuk selalu mendapat perhatian saya. Minta main bersama, minta digendong terus. Kalau saya bekerja pasti saya diganggunya, ini itulah. Saya keter banget deh. Karena menemani dia, pekerjaan yang harusnya bisa selesai hari itu malah terbiar, jadinya menumpuk dan….kalau sudah menumpuk bawaannya males..
Kadang-kadang saya jengkel, akhirnya Fahima kena marah, dan ujungnya saya menyesal sendiri. Anak sekecil itu mana mengerti apa yang kita mau khan? Pernah saya berpikir, duh enaknya orang yang tidak mempunyai anak tidak ada ganguan, atau duh enaknya orang yang anak-anaknya sudah besar, saat sekarang bisa bebas mau ngapa-ngapain atau duh enaknya kalau ada pembantu, tinggal menyerahkan semua pada pembantu, urusan anak sama baby sister. Kalau gitu kasihkan sajalah Fahima sama abangnya bapak Ad yang bertahun-tahun menunggu anak. Biar saya bisa santai sedikit.
Kalau saya beres-beres rumah, sebentar saja sudah Fahima obrak abrik lagi. Fahima sering corat-coret, baik dinding, lantai, baju atau apa-apa saja yang dekat dengannya padahal saya sudah siapkan kertas kosong untuk eksperiment dia. Kemana saya pergi selalu dia buntuti. Kalau kami berkesempatan main komputer atau TV, langsung disabotase untuk menonton barbie. Yah…..Fahima, sampai suatu hari……..suatu hari saya menangis di sholat malam saya, memohon kepada Allah agar mengampuni saya, mencabut semua pikiran-pikiran saya itu, dan membuang perasaan konyol saya sejauh-jauhnya, kalau bisa jangan datang lagi. Ampun…Ya Allah.
Suatu malam, saya seperti biasa sebelum tidur membawa air minum ke lantai atas, karena Fahima suka bangun malam dan meminta minum. Saya suruh dia menunggu di kamar, eh..malah membuntuti saya ke lantai bawah. Pas naik lagi ke atas dia minta gendong, tapi saya menolak, terus dia minta dibimbing tangannya ketika kami naik tangga. Tapi saya tidak bisa karena tangan saya penuh, yang satu membawa air minum yang satu lagi membawa beberapa majalah dan buku. Akhirnya dia pun menyerah untuk naik tangga sendiri. Dan salah saya, saya biarkan dia memegang baju saya, perasaan Fahima mungkin dia aman dengan memegang baju saya. Ketika sampai ditangga teratas, saya duluan yang sampai, Fahima terpeleset dan lepas pegangan…akhirnya jatuh terguling-guling ke bawah.
Saya yang menyaksikan langsung kejadian itu menjerit dan menyimpan semua yang ada ditangan saya (untung masih sadar tidak membuangnya) kalau dibuang tentu gelas pecah dan air tumpah kemana-mana. Saya berteriak..”Ya Allah…Ya Allah!” Dapat dibayangkan perasaan saya waktu itu melihat Fahima. Saya takut..takut sekali terjadi apa-apa dengan Fahima sampai keadaan yang terburuk sekali yaitu kehilangan Fahima. Seluruh sendi lemas dan jantung mau copot rasanya.
Saya peluk Fahima yang sedang menangis terkapar, saya raba-raba apakah ada yang terluka atau memar. Saya pun lihat giginya apa ada yang patah atau tanggal. Alhamdulillah semuanya biasa saja dan mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di kemudian hari. Karena langsung dikelilingi kami, saya, bapak Ad, Farid dan Firda. Fahima nangisnya sebentar saja kemudian main lagi.
Inilah teguran Allah kepada saya, agar saya harus berhati-hati dengan perasaan dan harus mensyukuri atas semua yang Dia berikan. Fahima…patut saya syukuri, anaknya manis..sebenarnya asyik kalau bermain bersama dia. Sekarang setelah kejadian itu, saya lebih memperhatikan Fahima dan senantiasa selalu menjaganya. Tak peduli dengan setrikaan menumpuk, rumah hancur kaya kapal pecah, atau gak sempat masak sekalipun. Biarlah…….saya akan enjoy dengan Fahima. Terimakasih Ya Allah Kau ingat kan saya selalu…!!!Buat Fahima maafkan ibu ya Nak, I love you so much.
