Copy darat dengan Bu Jenny

Memang sudah diniatkan jauh-jauh hari kita-kita mau berkunjung ke tempat baru bu Jenny di Singapore, 2 atau 3 bulan setelah dia pindah biar agak tenang sedikit dan bu Jenny pun sudah seattle disana.Tetapi rencana tinggal rencana, kebetulan karena kami baru buat tape dan bu Jenny pengen banget, udah gitu Alvi ditinggal Muhammad pergi ke Korea, saya pula lagi ditinggal Hadi ke Pekanbaru, jadi klop deh bikin janjian sama-sama pergi kesana. Mbak Anita pun dengan antusias mau pergi. Padahal bu Jenny pindahan baru 3 mingguan. Gak apa-apa deh, bu Jenny pun nampak senang hati mendengar kita mau ke tempatnya, bahkan dia mencari info sale apa saja di Singapore terus menawarkan tiket gratis ke Science Centre dan Sentosa. Aaaah bu Jenny ada-ada saja…kami kesana bukan mau belanja, mau ketemu bu Jenny aja kok, lagian kalau pergi ke Science Centre atau Sentosa tidak cukup waktu sehari, memang harus dikhususkan kalau mau pergi kesana.

Jadilah kami pergi hari minggu kemarin tanggal 17 Mei. Mbak Anita tidak jadi pergi karena sedang semaput bulanan. Karena mobil Alvi kosong, akhirnya si Firda diajak pergi ya sekalian menemani Fahima selama disana.

Kami pergi dari rumah jam 9.30 pagi, Alvi berpesan jangan lupa bawa baju renang komplit karena kita akan mampir ke tempat teman dekatnya dia di Jurong West, dan didepan rumahnya ada stadium besar serta kolam renang, kalau sempat kita akan main-main sebentar disana. Saya sih ok saja…beres pokoknya.

Di perjalanan aman-aman saja, sampai di Imigrasi malaysia, macet. Wah..ada bahan sampai siang di Singapore, mana janjian sebelum jam 12 siang dengan bu Jenny, karena jam 12.30 bu Jenny pun ada tamu, saudaranya pak Handoyo mau datang. Tapi Alhamdulillah antrian panjang cuma sebentar saja dan kami bisa melanjutkan perjalanan, menuju checkpoint woodland, disana kosong sama sekali malahan kami lihat yang dari Singapore menuju Johor ramai…antrian panjang sekali.

Alvi bermodalkan GPS mencari alamat bu Jenny, dia sempat ragu karena alamat bu Jenny tidak bisa dicari di GPS, jadi kita ngambil patokan tempat tertentu yaitu Clementi eve 2 dan Dover, perjalanan dilanjut saja sampai ketemu Clementi sudah gitu kita tidak ngikut GPS lagi, bermaksud cari tempat berhenti untuk menelephon bu Jenny, eh…di depan langsung ada Politeknik Singapore, kita langsung masuk saja kesana, tanya satpam alamat bu Jenny, satpam bilang tuh didepan katanya…wah kita seneng banget, gak susah rupanya menuju ke tempat bu Jenny.

Sampai deh di Apartment bu Jenny, besar dan bersih tempat itu, tepat jam 11 kurang 15 manit sampai di apartment, kami bel mudah-mudahan tidak salah rumah, eh…pas yang buka si montel William barulah kami lega, tapi sayang mama nya gak ada lagi keluar cari roti katanya, yang ada pak Handoyo. Sambil menunggu bu Jenny kami ngobrol-ngobrol dengan pak Handoyo. Pertanyaan pertama pasti begini:

“Bagaimana pak, senang kerja di Singapore?”

Jawabnya, “Senang, semua sudah terprogram, lain dengan di UTM. Pertama kali datang ke UTM kita banyak bengongnya tapi ketika datang ke Politeknik Singapore baru saja datang sudah ada list apa yang harus dikerjakan, awalnya saya kaget, waktu padat banget tapi lama-lama enjoy!”

“Bagaimana dengan sekolah anak-anak pak?”

“Kita lagi mencari, sekolah di Singapore sekarang lagi ujian semester kemudian libur 1 bulan, rencana Olin dan Wil mau sekolah yang dekat-dekat saja!

Di Singapore sekolah anak-anak staff kontrak tidak dibayarkan oleh Politeknik seperti di UTM, dimana uang sekolah dan buku anak-anak semua UTM yang menanggung. Pak Handoyo bayar sendiri, tetapi bayaran sekolah bisa sama dengan penduduk lokal, sampai 2 tahun, kalau dalam batas 2 tahun itu mereka diangkat jadi PR (permanent resident) uang sekolah tetap dengan bayaran penduduk lokal, tapi kalau tidak dengan bayaran penduduk asing, 2 kali lipat bayarannya.

Dari segi perumahan..wah betul-betul serasa apartement hotel deh, perabot lengkap, dapur yang cantik dan bersih demikian juga dengan kamar mandinya, kamar 3 besar-besar lagi..bikin betah deh. Mereka menyewa apartment $650/bln tapi listrik, air dan gas bayar sendiri. Kalau diluar staff yang nyewa bisa $2500/ bulan. Ih horror…mahal banget ya! Listrik air bisa berapa tuh? AC jg sudah ada, Hmmmmm….

Ruang tamu rumah bu Jenny Ruang makan ditengah-tengah Kamar Caroline Kamar William Kamar mandinya Dapurnya Dapur dari kiri

Di apartment Bu Jenny ini, parkir gratis kalau di tempat lain berkupon. Wah memang, biaya hidup tinggi di Singapore, no 10 teringgi di dunia, bayangin…kalau dari bahan makanan dia bilang standart lah. Nah pak Handoyo nawarin ayo pada pindah ke Singapore! Mesjid di tengah-tengah kampus ada juga. Jadi yang muslim ramai juga di Politeknik. He..he..kalau kami sih pak! Gimana yang menuntun saja, ngikut…….

Tidak lama kemudian datang bu Jenny, suasana jadi ramai penuh tawa. Bu Jenny sudah masak untuk kami, buat soto, kemudian buat martabak manis, sambil makan ngobrol ngaler ngidur seperti biasa. Sekarang agak kurusan deh..tapi katanya besar di betis..hi..hi, habis kemana-mana jalan kaki, sementara mobil belum ada.

Makan soto n martabak manis... Habis makan berfoto ria

Tidak terasa hari sudah pukul 12 siang, kami pamit karena masih ada tempat yang mau dituju, bu Jenny dan pak Handoyo mengantar kami ke bawah, sambil meninjukkan ada playground di bawah. Playground nya besar dan bersih..lagi2 lain dengan di Johor.

Di playground bawah apartment Masih di playground

Ah kalau membanding-bandingkan memang Johor ini jauh dengan Singapore, mendengar cerita pak Handoyo, ciri-ciri negara maju bisa dilihat dari segi efisiensi waktu, tenaga dan uang yang betul-betul terprogram. Perasaan di UTM banyak sekali terbuang waktu, tenaga dan uang jadi output terhadap Universitas pun tidak efektif. Contoh dari segi administrasi, menunggu surat yang ditandatangani saja bisa berminggu-minggu, dari segi tenaga tidak terpakai semestinya, mestinya untuk riset misalnya ini dipakai untuk travel, kemudian dari segi uang, UTM banyak mengeluarkan uang banyak untuk mengundang tamu, tapi tamu itu tidak dimanfaatkan sepenuhnya, buktinya tamu datang untuk presentasi riset yang hadir sedikit, tidak antusias dalam menerima ilmu atau mencari ilmu. Mau gimana lagi ya? Memang budayanya seperti itu, ingin merubah pun tidak bisa.

Di Jurong West, kami singgah di teman dekatnya Alvi, kak Bahsun, dia orang Indonesia menikah dengan Muallaf china warganegara Singapore, sekarang dia sudah menjadi warga negara Singapore, sudah 10 tahun di Singapore dan mempunyai anak 3 perempuan semua, kaya cina ya bu tampangnya kata Firda…yaiya lah orang bapaknya cina. Kami ditawarin makan dulu, tapi langsung memilih berenang dulu deh, jadi sholat dulu sebentar habis itu ramai-ramai pergi berenang, tinggal jalan kaki saja.

Di rumah kak Bahsun Foto sama2 di rumah kak Bahsun

Wah saya dibuat kagum lagi Stadiumnya besar banget, fasilitas untuk olahraga warga setempat komplit, dan lagi itu kolam renang bukan bukan kolam renang biasa…tapi full playground, ada untuk dewasa dan untuk anak-anak betul-betul menyenangkan. Ada jacucci, refleksi air, semprotan air yang kencang mijitin punggung dan kaki yang pegal-pegal, kemudian pinggiran kolam seperti pantai..jadinya kita enak tiduran dipinggir kolam, kalau dilihat-lihat kaya ikan paus terdampar, habis yang tidur badannya gede-gede semua..hi..hi.

Di kanan tempat berenang dewasa, ke kiri tempat anak2 Luncuran orang dewasa Playground air anak2 Masih playground anak2 Sungai2an

Tiketnya pun murah, dewasa $2 dan anak-anak $1. Nama tempatnya Jurong West Aquatic Centre. Wuih…mantap deh, Fahima dan Firda betul-betul senang. Kapan-kapan kita pergi lagi kesana ya!

Pulang berenang kami kembali ke tempat kak Bahsun dan makan dengan lahap…habis lapar sih berendam lama di dalam air. Setelah itu pulang lagi ke Johor….karena saya janji harus jemput Hadi di Senai Airport jam 6.50 sore, alhamdulillah terkejar dan selamat. Betul-betul cape tapi seneeeeeeeng banget. Thanks Alvi ya!!


Leave a Reply