Fahima Mulai Sekolah

Entah bagaimana perasaan Fahima pertama kali sekolah, cuma yang dilihat dari penampakkan adalah dia penuh percaya diri, tidak menangis dan tidak sabar ingin cepat sampai di sekolah.

Karena kesempatan ini sudah lama dia tunggu, sementara ini dia hanya sering melihat kakak dan dan abangnya pergi sekolah, mengantar mereka ke tempat naik bis sambil membawa bag nya sendiri saja.

Seragam, tas sekolah, topi , selalu dipajang dan dilihat di kamar, ketidaksabarannya nampak saat sekali-sekali dia ingin memakai seragamnya, padahal waktu persekolahan masih lama, seminggu lagi waktu itu.

Nah kemarin tanggal 4 Januari 2010, adalah hari pertama dia masuk sekolah. Awal sebelum subuh sudah bangun, minta mandi dan sarapan. Kakak abangnya masih pada tidur malah, itulah saking semangatnya. Sampai di sekolah nampak kaget dari wajahnya, ternyata sekolah itu begini mungkin, banyak anak menangis, hampir semua anak-anak sebaya dia menangis. Ada apa? fikirnya. Saya tahu kecemasan dia, akhirnya saya menerangkan sama dia, sebenarnya “Good girl” itu tidak boleh nangis, anak-anak yang menangis itu berarti tidak good girl atau good boy. Kalau ingin sekolah ibu atau bapaknya gak boleh ikut sekolah karena harus kerja, cari uang untuk bayar sekolah. Walaupun dalam hati saya agak ragu juga, apa Fahima bisa bertahan di sekolah selama 3 jam tanpa saya di sisinya. Selama ini kami tidak pernah dipisahkan selama itu lagian Fahima kalau dilihat tahun kelahiran 2006, memang sudah 4 tahun, tapi kalau dilihat bulan, Fahima baru 3 tahun 4 bulan, masih kecil sih. Tapi dorongan ingin sekolahnya membuat saya tergelitik mendaftarkan dia sekolah di Tadika Nuri. Selain itu di rumah dia tidak ada kawan, setiap hari menunggu kawan dan kakaknya sekaligus juru latih dia yaitu Firda, sang idola. Walaupun bicaranya masih belum jelas, tapi apa yang dibicarakan dan disuruh dia faham.

Kekhawatiran saya pupus pas Fahima bilang ” Ibu pulanglah! nanti datang lagi ya!” padahal saya ingin menemani dia sekolah selama 3 jam itu. Akhirnya saya pun pulanglah karena para orang tua semua tidak diizinkan menemani anak-anaknya belajar, dan saya pun melihat wajah sedih dari para orang tua yang anaknya tidak berhenti menangis meraung-raung bahkan menjerit. “Umiiii” atau “Mamaaa”.

Sudahlah semoga Fahima kuat dan tabah…Selamat belajar ya Fahima, mudah2an menjadi anak yang pintar.


Leave a Reply