Gundahku

Wowwww, lama gak menulis, tiba-tiba kepengen saja nulis, mau curhat…..

Perasaan saya saat ini, lagi gundah. Gundah gulana..dalam arti gak tentram karena memikirkan sesuatu. Hicks…sesuatu yang sebenarnya bisa membuat kami bahagia tapi malah sebaliknya. Pada akhirnya semua dimuarakan kepadaNya. Kami kembalikan padaNya, mungkin ini jalan yang terbaik yang dipilihNya.

Dua minggu yang lalu saya pulang ke kampung untuk menghadiri pernikahan kakak saya. Kakak saya baru mendapatkan jodohnya di usia 46 tahun, sudah telat tapi belum terlambat lagi.

Yang kami rasakan di pernikahan itu bukan dari dasar suka atas suka, ada sesuatu dibalik itu. Pernikahan mereka dimulai dari perkenalan kilat, belum mengenal satu sama lain, semua itu hanya didasar atas kepercayaan kepada teman, karena teman yang mempertemukan. Alhasil diawal pernikahan, kakak saya banyak menangis…karena sang suami terlalu banyak larangan dan cepat merajuk. Kalau ada sesuatu yang tidak suka bukan dihadapi malah pergi keluar begitu saja tanpa bilang mau kemana, sampai kakak sms atau telp dan ujung-ujungnya nangis.

Duh ada apa sebenarnya? Sementara kakak saya kurang mendengar apa kata keluarga. Dianggapnya keluarga ini tidak ada apa-apanya, padahal sebenarnya dukungan yang paling kuat untuk kebahagiaannya datang dari keluarga. Seharusnya pesta pernikahan dirembuk bersama keluarga, kalau ini asli mereka berdua yang rembukan, dan pihak keluarga bengong saja, baik dari urusan catering, undangan, MC, Ustad, dll. Uang muka untuk semuanya memang semua suami yang bayarkan tapi pelunasannya kakak lagi. Keluarga tahu beres saja, semua didatangkan dari pihak laki-laki, sampai-sampai keluarga mamah dan bapak bertanya-tanya, “siapa yang pesta sebenarnya?”

Yang lebih jelas lagi perubahan setelah dia menikah tidak on time alias mulur. Buka praktek dokter di rumah jam 6 pg – 8 pg, dia baru datang ke tempat praktek jam 8 pagi. Begitu juga praktek sore, dari jam 4 sore – 8 malam. Dia datang praktek jam 5.30 sore. Pasien yang menunggu lama pada pulang lagi dan repotnya sang suami ngikut kemana istri pergi sekaligus supir pribadinya. Dalam arti kakak tidak pernah pergi tanpa sang suami padahal kerja suami di Bandung, kakak di Tasik. Pernah mamah bertanya pada sang suami, kok gak kerja? Jawabnya kerjaan bisa dicek lewat telp.

Dikasih tahu oleh adik, mau dikemanain pasien kalau setiap hari seperti begini, eh..ngambek. malah mau pindah dari rumah. Yang lebih heboh lagi no contack di hpnya hilang semua, alasan kena virus kata suami. Jadi dia gak bisa menghubungi siapa-siapa.

Mungkin Allah sedang mengujinya, kemudahan dan kekayaan seakan menjadikan dia betul-betul superwomen. Semua bisa sendiri, tanpa bantuan keluarga, malah sebaliknya keluarga tanpa bantuan dia akan merana.

Tak ingatkah dia, ketika awal membangun sebuah tempat praktek siapa yang bersamanya? siapa yang selalu mendukungnya?
Sekarangpun amanah mulianya mengadopsi anak saudara yg kurang mampu pun mau dia lepaskan, menyentuh anak itupun haram karena bukan muhrimnya, itu pesan suami. Lalu anak laki-laki dari suaminya pun seharusnya haram pula buat kakak saya malah bermanja ria. Curang deh. Apa maksudnya?

Ya Allah, kalau saja semua berlaku sewajar-wajarnya. Suami mendukung istri seperti sebelum dia menjadi istrinya. Dengan keluarga akrab seperti pertama dia datang, sampai kami tertawan oleh tingkah lakunya. Pasti gundahku ini hilang. Saya ingin kakak bahagia….tapi tidak seperti ini. Saya ingin kakak tahu bahwa keluarga tidak akan menjerumuskanmu, atau mengorek isi kantongmu sampai ludes, mencuri barang-barangmu sampai semua harus dikunci kata suami. Pernahkah sebelumnya terjadi? Pernahkah dari keluarga menghabiskan uangmu sampai ratusan juta? Tidak kan?

Baru dua minggu sudah begini…tetapi harapan masih ada, semoga saja Ya Allah, keburukan yang menghadang segera berlalu, niat baik akan tetap terwujud dan niat jelek hilangkanlah. Semoga semuanya akan kembali ke jalan pangkalMu, memungut keridhoanMu.

Jadikanlah ya Allah keluarga kami selalu rukun, tetap saling mengingatkan, tetap saling tolong menolong di gelombang kehidupan ini. Lindungilah kami ya Allah, dari iri dengki, hasut menghasut yang akan mencelakakan kami. Jadikanlah kami tentara yang kuat yang bisa menghadapi segala rintangan dengan kesabaran dan ridhoMu. Ya Allah hilangkanlah GUNDAHKU ini. Aamiin.

17072010148


2 Responses to “Gundahku”

  1. iffah Says:

    Masya Allah, ujian berat utk beliau ya ceu..tapi insya Allah,Allah tidak akan menguji hambaNYa kecuali dengan kadar kemampuannya..

    Ikut miris membacanya tapi insya Allah ,Allah tidak tidur, Allah selalu bersama org2 yang beriman..tanda org yg beriman adalah selalu datang ujian padanya..semoga beliau bisa melaluinya dengan baik dan kebahagiaan apa yang kita harapkan utk mereka akan tercapai amiin…

  2. Terry Terikoh Says:

    Itulah, kalau terburu-buru, tidak mendengar pendapat orang lain, keadaannya sangat susah, tapi semoga saja, ini hanya awal dari adaptasi mereka. Makasih Ifah.

Leave a Reply