Karena kesempatan ini sudah lama dia tunggu, sementara ini dia hanya sering melihat kakak dan dan abangnya pergi sekolah, mengantar mereka ke tempat naik bis sambil membawa bag nya sendiri saja.
Seragam, tas sekolah, topi , selalu dipajang dan dilihat di kamar, ketidaksabarannya nampak saat sekali-sekali dia ingin memakai seragamnya, padahal waktu persekolahan masih lama, seminggu lagi waktu itu.
Nah kemarin tanggal 4 Januari 2010, adalah hari pertama dia masuk sekolah. Awal sebelum subuh sudah bangun, minta mandi dan sarapan. Kakak abangnya masih pada tidur malah, itulah saking semangatnya. Sampai di sekolah nampak kaget dari wajahnya, ternyata sekolah itu begini mungkin, banyak anak menangis, hampir semua anak-anak sebaya dia menangis. Ada apa? fikirnya. Saya tahu kecemasan dia, akhirnya saya menerangkan sama dia, sebenarnya “Good girl” itu tidak boleh nangis, anak-anak yang menangis itu berarti tidak good girl atau good boy. Kalau ingin sekolah ibu atau bapaknya gak boleh ikut sekolah karena harus kerja, cari uang untuk bayar sekolah. Walaupun dalam hati saya agak ragu juga, apa Fahima bisa bertahan di sekolah selama 3 jam tanpa saya di sisinya. Selama ini kami tidak pernah dipisahkan selama itu lagian Fahima kalau dilihat tahun kelahiran 2006, memang sudah 4 tahun, tapi kalau dilihat bulan, Fahima baru 3 tahun 4 bulan, masih kecil sih. Tapi dorongan ingin sekolahnya membuat saya tergelitik mendaftarkan dia sekolah di Tadika Nuri. Selain itu di rumah dia tidak ada kawan, setiap hari menunggu kawan dan kakaknya sekaligus juru latih dia yaitu Firda, sang idola. Walaupun bicaranya masih belum jelas, tapi apa yang dibicarakan dan disuruh dia faham.
Kekhawatiran saya pupus pas Fahima bilang ” Ibu pulanglah! nanti datang lagi ya!” padahal saya ingin menemani dia sekolah selama 3 jam itu. Akhirnya saya pun pulanglah karena para orang tua semua tidak diizinkan menemani anak-anaknya belajar, dan saya pun melihat wajah sedih dari para orang tua yang anaknya tidak berhenti menangis meraung-raung bahkan menjerit. “Umiiii” atau “Mamaaa”.
Sudahlah semoga Fahima kuat dan tabah…Selamat belajar ya Fahima, mudah2an menjadi anak yang pintar.
]]>Jadilah kami pergi hari minggu kemarin tanggal 17 Mei. Mbak Anita tidak jadi pergi karena sedang semaput bulanan. Karena mobil Alvi kosong, akhirnya si Firda diajak pergi ya sekalian menemani Fahima selama disana.
Kami pergi dari rumah jam 9.30 pagi, Alvi berpesan jangan lupa bawa baju renang komplit karena kita akan mampir ke tempat teman dekatnya dia di Jurong West, dan didepan rumahnya ada stadium besar serta kolam renang, kalau sempat kita akan main-main sebentar disana. Saya sih ok saja…beres pokoknya.
Di perjalanan aman-aman saja, sampai di Imigrasi malaysia, macet. Wah..ada bahan sampai siang di Singapore, mana janjian sebelum jam 12 siang dengan bu Jenny, karena jam 12.30 bu Jenny pun ada tamu, saudaranya pak Handoyo mau datang. Tapi Alhamdulillah antrian panjang cuma sebentar saja dan kami bisa melanjutkan perjalanan, menuju checkpoint woodland, disana kosong sama sekali malahan kami lihat yang dari Singapore menuju Johor ramai…antrian panjang sekali.
Alvi bermodalkan GPS mencari alamat bu Jenny, dia sempat ragu karena alamat bu Jenny tidak bisa dicari di GPS, jadi kita ngambil patokan tempat tertentu yaitu Clementi eve 2 dan Dover, perjalanan dilanjut saja sampai ketemu Clementi sudah gitu kita tidak ngikut GPS lagi, bermaksud cari tempat berhenti untuk menelephon bu Jenny, eh…di depan langsung ada Politeknik Singapore, kita langsung masuk saja kesana, tanya satpam alamat bu Jenny, satpam bilang tuh didepan katanya…wah kita seneng banget, gak susah rupanya menuju ke tempat bu Jenny.
Sampai deh di Apartment bu Jenny, besar dan bersih tempat itu, tepat jam 11 kurang 15 manit sampai di apartment, kami bel mudah-mudahan tidak salah rumah, eh…pas yang buka si montel William barulah kami lega, tapi sayang mama nya gak ada lagi keluar cari roti katanya, yang ada pak Handoyo. Sambil menunggu bu Jenny kami ngobrol-ngobrol dengan pak Handoyo. Pertanyaan pertama pasti begini:
“Bagaimana pak, senang kerja di Singapore?”
Jawabnya, “Senang, semua sudah terprogram, lain dengan di UTM. Pertama kali datang ke UTM kita banyak bengongnya tapi ketika datang ke Politeknik Singapore baru saja datang sudah ada list apa yang harus dikerjakan, awalnya saya kaget, waktu padat banget tapi lama-lama enjoy!”
“Bagaimana dengan sekolah anak-anak pak?”
“Kita lagi mencari, sekolah di Singapore sekarang lagi ujian semester kemudian libur 1 bulan, rencana Olin dan Wil mau sekolah yang dekat-dekat saja!
Di Singapore sekolah anak-anak staff kontrak tidak dibayarkan oleh Politeknik seperti di UTM, dimana uang sekolah dan buku anak-anak semua UTM yang menanggung. Pak Handoyo bayar sendiri, tetapi bayaran sekolah bisa sama dengan penduduk lokal, sampai 2 tahun, kalau dalam batas 2 tahun itu mereka diangkat jadi PR (permanent resident) uang sekolah tetap dengan bayaran penduduk lokal, tapi kalau tidak dengan bayaran penduduk asing, 2 kali lipat bayarannya.
Dari segi perumahan..wah betul-betul serasa apartement hotel deh, perabot lengkap, dapur yang cantik dan bersih demikian juga dengan kamar mandinya, kamar 3 besar-besar lagi..bikin betah deh. Mereka menyewa apartment $650/bln tapi listrik, air dan gas bayar sendiri. Kalau diluar staff yang nyewa bisa $2500/ bulan. Ih horror…mahal banget ya! Listrik air bisa berapa tuh? AC jg sudah ada, Hmmmmm….
Di apartment Bu Jenny ini, parkir gratis kalau di tempat lain berkupon. Wah memang, biaya hidup tinggi di Singapore, no 10 teringgi di dunia, bayangin…kalau dari bahan makanan dia bilang standart lah. Nah pak Handoyo nawarin ayo pada pindah ke Singapore! Mesjid di tengah-tengah kampus ada juga. Jadi yang muslim ramai juga di Politeknik. He..he..kalau kami sih pak! Gimana yang menuntun saja, ngikut…….
Tidak lama kemudian datang bu Jenny, suasana jadi ramai penuh tawa. Bu Jenny sudah masak untuk kami, buat soto, kemudian buat martabak manis, sambil makan ngobrol ngaler ngidur seperti biasa. Sekarang agak kurusan deh..tapi katanya besar di betis..hi..hi, habis kemana-mana jalan kaki, sementara mobil belum ada.
Tidak terasa hari sudah pukul 12 siang, kami pamit karena masih ada tempat yang mau dituju, bu Jenny dan pak Handoyo mengantar kami ke bawah, sambil meninjukkan ada playground di bawah. Playground nya besar dan bersih..lagi2 lain dengan di Johor.
Ah kalau membanding-bandingkan memang Johor ini jauh dengan Singapore, mendengar cerita pak Handoyo, ciri-ciri negara maju bisa dilihat dari segi efisiensi waktu, tenaga dan uang yang betul-betul terprogram. Perasaan di UTM banyak sekali terbuang waktu, tenaga dan uang jadi output terhadap Universitas pun tidak efektif. Contoh dari segi administrasi, menunggu surat yang ditandatangani saja bisa berminggu-minggu, dari segi tenaga tidak terpakai semestinya, mestinya untuk riset misalnya ini dipakai untuk travel, kemudian dari segi uang, UTM banyak mengeluarkan uang banyak untuk mengundang tamu, tapi tamu itu tidak dimanfaatkan sepenuhnya, buktinya tamu datang untuk presentasi riset yang hadir sedikit, tidak antusias dalam menerima ilmu atau mencari ilmu. Mau gimana lagi ya? Memang budayanya seperti itu, ingin merubah pun tidak bisa.
Di Jurong West, kami singgah di teman dekatnya Alvi, kak Bahsun, dia orang Indonesia menikah dengan Muallaf china warganegara Singapore, sekarang dia sudah menjadi warga negara Singapore, sudah 10 tahun di Singapore dan mempunyai anak 3 perempuan semua, kaya cina ya bu tampangnya kata Firda…yaiya lah orang bapaknya cina. Kami ditawarin makan dulu, tapi langsung memilih berenang dulu deh, jadi sholat dulu sebentar habis itu ramai-ramai pergi berenang, tinggal jalan kaki saja.
Wah saya dibuat kagum lagi Stadiumnya besar banget, fasilitas untuk olahraga warga setempat komplit, dan lagi itu kolam renang bukan bukan kolam renang biasa…tapi full playground, ada untuk dewasa dan untuk anak-anak betul-betul menyenangkan. Ada jacucci, refleksi air, semprotan air yang kencang mijitin punggung dan kaki yang pegal-pegal, kemudian pinggiran kolam seperti pantai..jadinya kita enak tiduran dipinggir kolam, kalau dilihat-lihat kaya ikan paus terdampar, habis yang tidur badannya gede-gede semua..hi..hi.
Tiketnya pun murah, dewasa $2 dan anak-anak $1. Nama tempatnya Jurong West Aquatic Centre. Wuih…mantap deh, Fahima dan Firda betul-betul senang. Kapan-kapan kita pergi lagi kesana ya!
Pulang berenang kami kembali ke tempat kak Bahsun dan makan dengan lahap…habis lapar sih berendam lama di dalam air. Setelah itu pulang lagi ke Johor….karena saya janji harus jemput Hadi di Senai Airport jam 6.50 sore, alhamdulillah terkejar dan selamat. Betul-betul cape tapi seneeeeeeeng banget. Thanks Alvi ya!!
]]>Wah…ini firts time juga bagi saya mengantar mereka sendiri ke pusat kota, biasanya suami yang mengantar. Alhamdulillah selama di perjalanan lancar dan aman. Sambil menunggu waktu ujian selesai, saya dan Fahima jalan-jalan ke Museum negeri tapi di luar saja, dan parking di bagian atas museum. Rupanya sepagi ini jam 9 pagi sudah ramai orang parking mobil disana, ada apa ya? Setelah keluar dari mobil barulah tahu, bahwa orang-orang itu pergi jogging dan berolah raga di atas bukit. Asyik juga, sebelum matahari menampakkan diri dengan sepenuhnya, olahraga di atas bukit menyegarkan, tiupan angin yang agak kencang boleh menghapuskan keringat yang bercucuran, boleh juga nih..kapan-kapan dicoba ah.
Selain itu yang menarik adalah, ada pohon besar sedang berbunga lebat, sebagian rontok serasa musim gugur di negara 4 musim. Bunganya itu mirip bunga sakura, saya gak tahu namanya..tapi cantik deh.
Fahima sempat pula main-main dibawah pohon itu, kelihatan senang melihat bunga-bunga yang jatuh sendiri bukan karena dipetik. Setelah bosan kami kembali lagi ke mobil dan berniat menuju ke tempat Farid dan Firda ujian. Putar jalan sana sini lewat kebun binatang, kami berhenti sejenak di depan kebun binatang pas depan pintu masuk mesjid Abubakar. Tadinya mau lihat gajah, biasanya nampak dari sini…tapi gak ada ya? Apa masih pada tidur kali. Tidak apa-apa deh lain kali ya. Akhirnya kami menunggu waktu di SMTF sampai ujian selesai. Mudah-mudahan sukses ya Farid, Firda. Aamiin.
]]>Yang paling susah kalau jalan-jalan ke Singapore. Sudah surau gak ada, kalau mau pipis harus bawa botol isi air untuk cebok. Habis kalau pakai tisue aja rasanya kok gak bersih ya. Nasib baik di dekat pertokoan Orchad ada mesjid. Tapi kita supaya bisa tenang jadinya melambatkan sholat Dzuhur biar tidak lama menunggu Ashar. Kalau kami mengantar saudara pergi ke Airport Changi di pagi buta, pas masuk Subuh kelayapan cari tempat atau sudut-sudut untuk sholat. Susah deh, betul-betul tidak nyaman.
Ini beberapa surau mall yang sempat saya photo di Johor Bahru. Yang nyaman dan enak menurut saya kalau jalan-jalan ke Plaza Kota Raya, karena suraunya langsung mesjid, besar dan bersih. Surau plaza Angsana besar, bersih dan ramai. Surau plaza Skudai Parade, memang besar tapi sepi, jadi suka merinding, teriak sedikit langsung bergema..ih… Surau Holiday Plaza, kecil dan kotor. kalau Jusco, kecil, bersih dan ramai. Bagaimanapun saran saya, kemanapun pergi selalulah bawa mukena atau telekung sendiri, kalau kita tidak mau pingsan dengan bau mukena atau telekung surau. Karena yang pakai bukan satu tapi banyak orang. Hwa…hwa….
]]>Ini tentang Fahima. Akhir-akhir ini, Fahima semakin banyak ulahnya. Semakin besar semakin banyak perangainya. Sudah makan susah minta ampun, kalau habis mandi pilih-pilih pula dalam memilih baju. Kalau rewel mah itu memang sudah kebiasaannya. Mungkin pekerjaan saya semakin banyak, karena anggota keluarga juga bertambah. Beda dengan dulu, waktu masih mengasuh farid seorang, semua perhatian tertumpu padanya, alhasil perasaan saya kok Farid kecil ini anteng banget. Lahir Firda, masih ringan, tetapi tidak seleluasa waktu Farid kecil dulu. Firda cengeng dan meminta perhatian lebih, Mungkin karena perhatian terbagi dengan Farid yang sudah mulai sibuk sekolah.
Sekarang Fahima, dia meminta lebih lagi, sedangkan perhatian saya harus dibagi 4. Bapak ad yang sibuk, Farid dan Firda yang sudah mulai banyak kegiatan, juga pekerjaan rumah tangga, seperti masak, setrika dll, yang banyak menyita waktu. Nampaknya Fahima menuntut haknya dia untuk selalu mendapat perhatian saya. Minta main bersama, minta digendong terus. Kalau saya bekerja pasti saya diganggunya, ini itulah. Saya keter banget deh. Karena menemani dia, pekerjaan yang harusnya bisa selesai hari itu malah terbiar, jadinya menumpuk dan….kalau sudah menumpuk bawaannya males..
Kadang-kadang saya jengkel, akhirnya Fahima kena marah, dan ujungnya saya menyesal sendiri. Anak sekecil itu mana mengerti apa yang kita mau khan? Pernah saya berpikir, duh enaknya orang yang tidak mempunyai anak tidak ada ganguan, atau duh enaknya orang yang anak-anaknya sudah besar, saat sekarang bisa bebas mau ngapa-ngapain atau duh enaknya kalau ada pembantu, tinggal menyerahkan semua pada pembantu, urusan anak sama baby sister. Kalau gitu kasihkan sajalah Fahima sama abangnya bapak Ad yang bertahun-tahun menunggu anak. Biar saya bisa santai sedikit.
Kalau saya beres-beres rumah, sebentar saja sudah Fahima obrak abrik lagi. Fahima sering corat-coret, baik dinding, lantai, baju atau apa-apa saja yang dekat dengannya padahal saya sudah siapkan kertas kosong untuk eksperiment dia. Kemana saya pergi selalu dia buntuti. Kalau kami berkesempatan main komputer atau TV, langsung disabotase untuk menonton barbie. Yah…..Fahima, sampai suatu hari……..suatu hari saya menangis di sholat malam saya, memohon kepada Allah agar mengampuni saya, mencabut semua pikiran-pikiran saya itu, dan membuang perasaan konyol saya sejauh-jauhnya, kalau bisa jangan datang lagi. Ampun…Ya Allah.
Suatu malam, saya seperti biasa sebelum tidur membawa air minum ke lantai atas, karena Fahima suka bangun malam dan meminta minum. Saya suruh dia menunggu di kamar, eh..malah membuntuti saya ke lantai bawah. Pas naik lagi ke atas dia minta gendong, tapi saya menolak, terus dia minta dibimbing tangannya ketika kami naik tangga. Tapi saya tidak bisa karena tangan saya penuh, yang satu membawa air minum yang satu lagi membawa beberapa majalah dan buku. Akhirnya dia pun menyerah untuk naik tangga sendiri. Dan salah saya, saya biarkan dia memegang baju saya, perasaan Fahima mungkin dia aman dengan memegang baju saya. Ketika sampai ditangga teratas, saya duluan yang sampai, Fahima terpeleset dan lepas pegangan…akhirnya jatuh terguling-guling ke bawah.
Saya yang menyaksikan langsung kejadian itu menjerit dan menyimpan semua yang ada ditangan saya (untung masih sadar tidak membuangnya) kalau dibuang tentu gelas pecah dan air tumpah kemana-mana. Saya berteriak..”Ya Allah…Ya Allah!” Dapat dibayangkan perasaan saya waktu itu melihat Fahima. Saya takut..takut sekali terjadi apa-apa dengan Fahima sampai keadaan yang terburuk sekali yaitu kehilangan Fahima. Seluruh sendi lemas dan jantung mau copot rasanya.
Saya peluk Fahima yang sedang menangis terkapar, saya raba-raba apakah ada yang terluka atau memar. Saya pun lihat giginya apa ada yang patah atau tanggal. Alhamdulillah semuanya biasa saja dan mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di kemudian hari. Karena langsung dikelilingi kami, saya, bapak Ad, Farid dan Firda. Fahima nangisnya sebentar saja kemudian main lagi.
Inilah teguran Allah kepada saya, agar saya harus berhati-hati dengan perasaan dan harus mensyukuri atas semua yang Dia berikan. Fahima…patut saya syukuri, anaknya manis..sebenarnya asyik kalau bermain bersama dia. Sekarang setelah kejadian itu, saya lebih memperhatikan Fahima dan senantiasa selalu menjaganya. Tak peduli dengan setrikaan menumpuk, rumah hancur kaya kapal pecah, atau gak sempat masak sekalipun. Biarlah…….saya akan enjoy dengan Fahima. Terimakasih Ya Allah Kau ingat kan saya selalu…!!!Buat Fahima maafkan ibu ya Nak, I love you so much.
]]>KENYATAAN HIDUP DISEBALIK PERMAINAN INI
Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada anak muridnya. Ia duduk menghadap anak muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada kayu pemadam. Guru itu berkata, “Saya ada satu permainan… Caranya begini, ditangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada kayu pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka sebutlah “Kapur!”, jika saya angkat kayu pemadam ini, maka katalah “Pemadam!”
Anak muridnya faham dan seterusnya menyebut dengan betul. Guru bersilih-ganti mengangkat tangan kanan dan kirinya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah “Pemadam!”, jika saya angkat kayu pemadam, maka katakanlah “Kapur!”. Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi keliru dan kekok, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka kembali biasa dan tidak kekok lagi.
Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Guru tersenyum kepada anak muridnya. “Murid-murid, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita
begitu jelas membezakannya. Namun kemudian, satelah musuh kita memaksakan kepada kita dengan perbagai cara untuk menukarkan sesuatu, perkara yang haq telah menjadi bathil, dan sebaliknya. Pada mulanya agak sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan pelbagai cara menarik oleh mereka, lambat laun kita akan terbiasa dengan hal itu, seterusnya kita mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kita tidak pernah berhenti membolak-balik dan menukar nilai murni akidah/hukum Islam dari masa ke semasa.
“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa
rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain.” “Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, anda sedikit demi sedikit
menerimanya tanpa rasa ia satu kesalahan dan kemaksiatan. Faham?” tanya Guru kepada anak muridnya.
“Baik untuk permainan kedua…” Gurunya meneruskannya. …..
“Cikgu ada Qur’an,cikgu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah , bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada ditengah tanpa memijak karpet?”
Murid-muridnya berfikir . Ada yang mencuba dengan tongkat, dan selainnya.
Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet …”Murid-murid,
begitulah ummat Islam dengan musuhnya. .. Musuh Islam tidak akan memijak-mijak anda dengan terang-terangan. ..Kerana tentu anda akan
menolaknya dengan mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan monolak kita secara ansur-ansur, sehingga kita tidak sedar.
“Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina tapak yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dgn tapaknya dulu, tentu saja dinding dan peralatan akan dikeluarkan dulu, kerusi dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan. …”
“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghentam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan merusakan kita.
Mulai dari perangai kita, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kita muslim, tapi kita telah meninggalkan ajaran Islam dan
mengikuti cara mereka… Dan itulah yang mereka inginkan.” “Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang
dijalankan oleh musuh musuh kita… ”
“Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak kita, cikgu?” tanya murid- murid.
“Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang Islam, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Begitulah Islam… Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sedar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang secara terang-terangan,
kita akan bangkit serentak, baru mereka gerun”. ( ini yang ditakuti Israel sekarang )
“Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang…”
Begitulah isinya, mudah-mudahan Allah selalu melindungi kita. Aamiin
Ada yang mengganjal di dalam hati saya setelah membaca email di atas. Kalau orang islam sadar sesadar-sadarnya, tentu dia tidak mau dibodohi oleh segala tipu daya. Kalau taktik orang Yahudi demikian dan kita tahu lalu kita diam saja, berarti kita termasuk orang yang bodohkah? Sungguh ironis sekali ya, zaman gemilangnya islam, ilmu dan teknologi boleh dikatakan islam yang memegang kunci, sekarang sudah terbalik. Kita tidak bisa melawan kelicikan mereka dan menyaingi mereka selain bersatu seluruh umat islam di dunia ini. Kalau tidak bisa demikian, kita harus menyaingi mereka bahkan lebih untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi bisakah?
Zaman dahulu, segala kezaliman kepada islam langsung mendapat azab dari Allah SWT, ketika orang kafir dengan tentara bergajah datang ke Mekkah hendak menghancurkan Ka’bah, Allah pun langsung mengirimkan pasukan burung ababil untuk menghadangnya. Saya yakin, Allah tidak akan membiarkan islam hancur, walaupun sekarang bumi Palestina diporakporandakan, dan banyak korban mati syahid, Insya Allah, Allah senantiasa melindungi mereka.
Melihat wawancara di TV3 barusan, para ibu di Palestina yang ditinggal korban mati oleh anak-anaknya yang dia lahirkan, walaupun dia menangis tetapi dia tidak menyesal telah kehilangan anaknya, dia yakin apa yang Allah kehendaki akan lebih baik untuk dia dan keluarganya. Dia tidak takut Israel karena dia yakin kekuasaan Allah yang akan mengakhiri segalanya. Cuma mereka sedang diuji kesabaran dan keyakinan dia. Bagaimanapun perjuangan nabi Muhammad SAW, dalam mempertahankan islam menjadi tauladan buat mereka.
Wah..wah….kita yang melihatnya ngiris ya, ini mah penyerangan Israel di Palestina bukan masalah agama lagi tetapi sudah kemanusiaan.
Kita hanya bisa berdoa, Ya Allah, Lindungilah mereka, kasihanilah mereka, turunkanlah bantuanMu kali ini kepada orang-orang Islam di Palestina, hancurkanlah rezim zionist ini sedasyat-dasyatnya sebagaimana Engkau turunkan azab kepada orang-orang musyrikin dengan menghantar burung ababil untuk menghancurkan tentara bergajah. Kami berlindung kepadaMu Ya Allah. Aamiin.
]]>Wah saya baru sadar, pengajian di rumah bu Euis kemarin adalah pengajian terakhir dan sekalian perpisahan beliau. Suaminya sudah siap belajar di UTM dan siap kembali ke tanah Air tercinta. Baru saja kemarin kami ditinggal bu Eri sekarang bu Euis pula. Bu Euis yang ramah, kalau tertawa asyik deh, jangan sampai dekat-dekat dia kalau dia sedang grogi. Bisa-bisa kita kena cubitan atau pukulan tidak sadarnya. Seperti kemarin dia disuruh berbicara didepan kita-kita sebagai kata perpisahan, susahnya minta ampun. Tidak bisa katanya tiba-tiba sakit perut. Bu Bambang disebelahnya sudah ngasih aba-aba untuk mendengarkan bu Euis bicara, kerudungnya ditarik-tarik. Akhirnya setelah Susan berteriak didepan ibu-ibu untuk mendengarkan bu Euis bicara, mau tidak mau terpaksa bicara juga. Bu Euis maju ke depan, tepat disamping saya, “Saya minta maaf sama ibu-ibu, kalau-kalau saya punya salah dan minta terimakasih…..!” Baru saja bicara segitu ibu-ibu langsung…eh..kok minta terimakasih….Bu Euis tambah grogilah, alhasil saya yang disampingnya kena cubit, kena pukul dia…..duh bu Euis, gimana ini teh? tapi enggak sakit kok. Tidak apa-apa, anggap saja kenang-kenangan.
Karena lama tidak ikut, jadi saya tidak tahu siapa namanya yang membawakan materi. Banyak yang baru dan saya belum sempat berkenalan dengan mereka. Materi pengajian kemarin apa ya? kok saya lupa deh, yang pasti dan saya ingat, di dalam beragama itu, mitos atau kepercayaan dari leluhur itu tidak ada, contohnya kalau mimpi gigi patah berarti ada saudara kita yang mau meninggal, burung gagak berbunyi tandanya akan ada orang meninggal..begitulah. Sesuatu yang diada-adakan dan dicari-cari bisa menyesatkan. jadi kita harus betul-betul mengetahui kalau ada berita tentang sesuatu apakah ini shohih diikuti atau tidak. Jangan ya uwis saya mah ikutan….Mudah-mudahan kalau kita memang bertujuan mencari ridha Allah hidup di dunia ini, Allah tunjukkan jalan yang benar dan lurus untuk kita, dijauhkan dari ketidakpastian dan keraguan akan petunjukNYa. Aamiin.
Kembali ke bu Euis, Selamat jalan ya bu Euis sampai ketemu lagi. Wah sayang, kami semua tidak bisa menengok baby ke Indonesia nanti. Mudah-mudahan babynya sehat ya! Dan dikasih Allah anak perempuan. Aamiin deh.
]]>Saya sering mendengar makanan lasagna, tapi seumur-umur melihat real dan merasakannya belum pernah. Baru kemarin itulah. Kalau membuat spagetti sudah jago diajarin sama ni Dan waktu berkunjung ke Johor 2 tahun yang lalu. Rupanya bahan dan rasanya sama saja dengan spagetti. Cuma pastanya tidak berupa mie tapi lembar-lembar gitu. Membuatnya gampang banget ternyata. Kalau disuruh milih saya suka lasagna di banding spagetti. Lasagna lebih banyak kejunya, dan disetiap lapis ada bumbu spagetti dan keju, itu yang membuat yummy, apalagi dimakan hangat-hangat. Dan yang lebih membahagiakan saya, Fahima suka. Hore…sampai minta tambah terus. Wah jadi semangat saya. Tapi yang diragukan suami pasti tidak suka. Yang namanya pizza juga dia ogah. Spagetti enggan apalagi lasagna no way kali. Dia mah asli anak Minang, suka makanan kampung sendiri. Kalau pergi jalan-jalan….lapar..dicarinya restoran Padang. Tidak apa-apa lah murah meriah…yang penting makan kenyang sudah cukup. Terimakasih mbak Anita ya…..sudah banyak nih ilmunya diturunkan kepada kami, jazakillah ya..
]]>Sari teman saya waktu kuliah di ITB dulu. Kami beda jurusan. Dia Astronomi 86 dan saya Kimia 86. Kami pernah bersama waktu TPB dulu di Salman menjadi Panitia Ramadhan. Dari sana kami sering mengikuti pengajian-pengajian dan akhirnya ikut pesantren di Ciburial. Yang ikut training di Ciburial itu menggabungkan diri menjadi kelompok TRACI dan seterusnya rutin mengadakan pengajian.
Sari dikenal oleh kami orangnya cerdas, bahasa Inggrisnya lancar buanget. Dia presiden club Bahasa Inggris di ITB, kalau di pengajian selalu jadi bintangnya karena tidak pernah sepi dengan pertanyaannya, orangnya supel dan penuh percaya diri, PeDe banget pokoknya, kami sering dibuat kagum olehnya. Selain di TRACI, Sari aktif di PAS, jadi temannya banyak, siapa yang tidak kenal Sari, rugi deh. Dia ini membelot dari Astronomi ke Management. Mengambil master MBA di UIA Kuala Lumpur, dan sekarang dia menjadi direktur Mizan Media Utama, hebat khan? Satu lagi Dia pun jago main piano, kemarin baru pulang berhajji. Wah saya sebagai temannya bangga buanget. Terakhir ketemu dia waktu saya penjadi penerima tamu di pernikahan dia dengan Basrah di Jakarta. Sesudah itu lost kontak. Pernah email-emailan sih waktu saya di Jepang dulu, tapi melihat foto dan beremail kembali baru sebulan ini.
Kebetulan temannya dia waktu kuliah di UIA dulu menikah di Johor, Sari datang menghadiri undangannya dan janjian bertemu saya sekalian menginap di rumah bersama kakaknya, kak Lisa. Dapat terbayangkan betapa senangnya saya. Tidak banyak berubah dia ini, dari dulu seperti begini, langsing. Cuma dandanannya dan gaya berjilbab yang agak lain, katanya sudah ibu-ibu. Dia kaget melihat saya, yang dulu langsing..sing sekarang 2 kali lipat melebar. Ih malunya…
Saya ajak dia keliling UTM dan JB, wah nampaknya dia pun senang, dia belum pernah ke Johor masalahnya, ke Singapore sering, kumaha tah? Komentarnya tentang JB, JB ini bersih dan klasik katanya, pas melihat Masjid Abubakar dan tempat-tempat disekitarnya. Sayangnya Sari dan kak Lisa cuma sehari saja, padahal kangen ini masih bertumpuk. Nanti datang lagi bersama keluarga ya! Ditunggu deh.
]]>